Olahraga dan Propaganda Politik dalam Film Race (2016)

Amerika kala itu mendapat sambutan yang meriah dari publik Jerman, Jesse Owens yang sudah dikenal sebagai manusia tercepat di planet bumi disambut dengan hangat oleh warga Jerman. Perlombaan Olimpiade itu pun kemudian di mulai, Jesse kemudian masuk ke stadion.

Pertandingan lari 100 meter pun dimulai, begitu pistol diletupkan manusia tercepat di planet bumi ini tidak tertahankan. Mendali emas pertama berhasil didapatkan oleh Jesse Owens. Jesse pun diajak untuk berjabat tangan oleh Hitler, namun ternyata setelah mereka sampai dilokasi. Goebbels memberitahukan bahwa Hitler telah meninggalkan stadion, Goebbels sebagai seorang Menteri Propaganda Nazi memandang bahwa citra seorang Hitler akan buruk apabila junjungannya itu harus terlihat publik sedang jabat tangan dengan seorang kulit hitam.

Untuk itu ia meminta Hitler untuk segera meninggalkan stadion. Esok hari Jesse menjalani pertandingan yang sangat sengit, Jesse Owens harus berhadapan dengan Luz Long atlet andalan Jerman cabang lompat jauh.

Lagi-lagi Jesse Owens menang dan masuk babak final. Namun sebelum pertandingan final dimulai Hitler kembali hadir di stadion. Dan di pertandingan final itu Jesse kembali menang, Joseph Goebbels kecewa melihat pemandangan itu. Ia kemudian melarang semua atlet Yahudi untuk ikut Olimpiade.

Goebbels sudah cukup dipermalukan oleh atlet kulit hitam ia tidak rela kalau harus dipecundangi oleh orang Yahudi. Meski begitu Jesse yang sekali lagi mengikuti pertandingan penentuan untuk olahraga cabang lari estafet 400 meter tetap diikutsertakan. Dan lag-lagi Jesse menang serta mendapatkan empat mendali emas sekaligus.

Olahraga dan Politik

Film yang berdurasi 134 menit ini memang film yang sedikit banyak memperlihatkan bagaimana kepentingan politik dapat masuk ke dalam berbagai lini kehidupan manusia, termasuk di dalamnya olahraga. Bicara mengenai olahraga dan politik, sebagaimana dikatakan oleh Kenan Malik bahwa, “kita perlu memisahkan olahraga dan politik. Tetapi juga menyadari bahwa mereka tidak dapat dipisahkan”.

Pernyataan ini menegaskan bahwa olahraga seharusnya bersifat netral, tetapi kenyataan berkata lain. Olahraga, bahkan di saat-saat paling spektakuler dan inspiratif, seperti Olimpiade tidak berangkat dari ruang hampa. Hubungan antara olahraga dan politik beroperasi di banyak tingkatan.

Banyak olahraga dirancang untuk memenuhi kebutuhan sosial, mulai dari seni bela diri Jepang yang dirayakan sebagai sarana pengembangan spiritual dan tatanan sosial, kriket sebuah olahraga yang digunakan oleh orang-orang Victoria untuk mengajar kelas penguasa dalam memerintah dan dipatuhi oleh rakyat. Begitu pun dengan Olimpiade Berlin yang dilaksanakan demi menunjukkan superioritas kekuasaan Nazi Jerman dibawah pemerintahan Hitler.

Baca juga:

Meskipun banyak yang percaya bahwa olahraga itu netral dan apolitis, olahraga secara rumit terjerat dalam konteks sosial-politik yang lebih besar dimana olahraga itu beroperasi. Apalagi ini dilaksanakan di sebuah negara yang saat itu dipimpin oleh seorang yang penuh dengan ambisi superior. Sudah pasti setiap hal termasuk Olimpiade diwarnai oleh kongkalingkong politik, sebagaimana Goebbels yang bernafsu agar Amerika bisa ikut dan mengetahui bahwa Jerman adalah negara yang digdaya.

Apa yang dilakukan oleh Hitler melalui Menteri Propagandanya, yakni Joseph Goebbels tak jauh berbeda seperti yang digambarkan oleh Dr. Loic Tregoures seorang professor ilmu politik di Universitas Katolik Lille di Prancis, yang penelitiannya berfokus pada politik olahraga dan pembentukan identitas di bekas Yogoslavia.

Penelitiannya menelusuri sejarah olahraga, khususnya sepak bola, dan bagaimana olahraga itu digunakan oleh rezim komunis Yugoslavia dan kemudian menjadi cara untuk memperkuat identitas etnis dan mengembangkan gerakan nasionalis separatis.

Fokusnya bukan meraih mendali atau unggul dalam olahraga tetapi menggunakan olahraga untuk membentuk identitas yang kohesif (Sport, 2021). Sebuah hal yang sama dilakukan oleh Hitler, dimana Hitler menyulap pekan olahraga terbesar di dunia itu sebagai panggung propaganda Nazi.

Daftar Referensi

Sport. (2021, Mei 7). Why Sport is Always Political. Retrieved from Sportanddev.org.

Dimas Sigit Cahyokusumo