Olivia

Olivia
©Retorika

Gadis yang hadir bersama senja. Kala menatapmu kekaguman akan dirimu bermekaran di rongga jiwaku. Engkau terlihat lebih menawan dari saat-saat raja terang merekah. Membias pada bukit-bukit tak bernada. Tempat air matamu mengalir pada rindu paling keramat. Aku merasa manja kala menatap lentik bulu matamu lihai membentangkan sayap-sayap rindu. Lalu membias pada harap temu. Aroma mawar cintamu menyusup pada rintihan semburat jingga terpana di cakrawala. Diam-diam baringkan tubuh mungil pada tirai tanpa kata.

Di pojok pantai selatan berkisah tentang dua insan. Terpatri di bawah lembayung senja menanti riuh ombak menjelma hening. Tanpa sepata kata.

Namun Buih ombak terus menderu beringasnya. Tampak anak-anak nelayan bertelanjang dada berlari-lari kecil menyambut kepulangan ayahnya di bibir pantai.

Sedang engkau masih berdiam pada tirai kian kusut tak peduli apa pun itu. Kali ini tatapan matamu merayu menjamah mataku yang sayup pada temaram senja kian pudar.

Olivia …

Riuh ombak yang kita nantikan hening tak kunjung hening. Perlahan tanpa aku sadari bayanganmu kian lenyap. Kala remah-remah malam terlihat lihai melumat bintik senja.

Ruang kuliah, 11 September 2020

Bunga Bakung teruntuk Pejuang Sejati

Gadis bergaun putih bermahkota pelangi berjalan bertatih-tatih. Berirama hentakkan kaki para bandit. Satu kali dua kali tiga kali meringkik setiap embun beku mengecup bibir pasrah.

Tampak di tangan kirinya menggenggam erat bingkisan rasa. Kini menjelma celotehan aksara-aksara romantik dambaan pujangga pada semilir angin berembus basah.

Sedang di tangan kanannya tampak kumpulan carik-carik rindu yang ditulis pada malam-malam syahdu. Saat bulan purnama mencumbui langkah rapuh anak-anak desa di pematang sawah bekas perkara.

Gadis bergaun putih bermahkota pelangi melebarkan senyum beraroma melati. Senyumnya tulus bermandikan rinai hujan bulan Juni. Dalam penuh kegamangan menyaksikan hiruk pikuk anak negeri merintih perih. Diam-diam dipetiknyalah bunga bakung di pekarangan istana dewa Athena. Lalu dipersembahkan khusus bagi sahabat pejuang sejati.

Meja belajar, 21 September 2020

Buah Aksara Penyair Tua

Hasratku gemulai oleh buah aksaramu

Yang tumpah pada carik-carik kusam

Bidikan sulut geloranya

Membuncah jiwaku

Aromanya megah dilahap rakus

Oleh candu yang menjelma demam aksara

Lagi-lagi buah aksaramu

Membombardir darah panas anak-anak desa

Mengalir diantara celah mimpi

Yang di ujung langit

Harapan ditaruhnya

Akankah kelak aksaraku mengguncang urat nadi cucuku

Anak desa itu bergumam

Meja belajar, 5/11/20

Untukmu November

Kita pernah berjumpa bukan?

Saat mana rindu berlabuh

senyummu mengisahkan kenangan

di palung kasih

Kata-katamu merasuk kalbuku

Bulan sabit di pucuk awan ikut menari

Angin pun berembus aduhai

November kita bersua lagi

Meski kenangan tak seperti lagu kemarin

Nita, 1/11/2020

    Latest posts by Latrino Lele (see all)