Omong Kosong Progresivitas Sahabat Tanah Air; Media Hipokrit!

Omong Kosong Progresivitas Sahabat Tanah Air; Media Hipokrit!
Ilustrasi: O Segredo

Sebagian penulis Sahabat Tanah Air juga gagal menyadari bahwa ada kalanya “simbol” membebaskan kita semua. Mereka justru tampak hipokrit!

Pedih melihat muslimah dikekang ketika meniti jalan ketaatan kepada Raab-Nya. Pilu menyaksikan syariah Islam yang agung mendapati berbagai tuduhan.

Lagi, marah mendengar fatwa kotor dari seorang rektor yang bergelar professor, apalagi terhadap mahasiswa Islam dengan beragam judul pada artikelnya, tetapi berani menentang ketentuan hukum dari Allah & Rasul-Nya.

Penulis akan ajukan dakwaan kepada Anda yang bergelar profesor atau siapa saja yang merasa lebih hebat dari Allah dan rasul-Nya. Apakah Anda pernah mengeluarkan fatwa radikal kepada para koruptor yang menggarong harta umat?

Apakah Anda pernah menyebut anti-NKRI pada gembong narkoba yang menerobos batas negara membawa puluhan ton sabu dan narkoba? Apakah Anda pernah berteriak anti-Pancasila, anti-kebinekaan, kepada peradaban dan budaya Barat yang serba hedonis dan merusak generasi anak bangsa? Tak pernah, sama sekali!

Mana mulut-mulut tajam Anda yang berani mengecam pembantaian muslimah di Suriah atau di Palestina? Di mana Anda yang katanya cinta damai dan anti-gerakan radikal itu?! Ke mana ujaran kebajikan Anda ketika kasus perkosaan kerap dialami para pemuda dan remaja? Ke mana, hah?!

Penulis merasa ketika ada seorang muslimah, berusaha terikat dengan syariah, meniti ketaatan kepada Tuhannya, yang notabene juga Tuhan Anda. Mendapat perlakuan diskriminatif adalah kejengkelan bagi sebagian umat yang tidak sepaham dengan Anda.

Memang, tidak semua ulama dan umat Islam beramal dengan cadar, tetapi cadar (niqab) adalah pemikiran Islam, atribut Islam, pandangan fiqh Islam. Menuding cadar sebagai aksi radikalisme, sama saja Anda telah menghina Islam. Sama saja, qunut subuh adalah ro’yu Islam, khazanah fiqh Islam yang diakui.

Meskipun tidak semua ulama dan umat sepakat qunut subuh, tetapi tidak ada satupun yang berani menentang qunut subuh karena qunut adalah bagian dari pemikiran Islam, khazanah fiqh Islam.

Di antara kaum yang tertindas di dunia saat ini, kaum perempuan berada di urutan teratas, Penderitaannnya semakin bertambah bila kebetulan ia anggota kelas minoritas.

Para perempuan pemakai cadar, misalnya, yang akhir-akhir ini mengalami dilema di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, selalu dijadikan kambing hitam dari semua persoalan di dunia ini.

Mereka tertindas di tengah-tengah komunitas yang religius sebagaimana mereka pun tertindas di tengah-tengah komunitas yang “progresif”. Mereka ditindas atas nama Tuhan, dieksploitasi, atau “di-seksploitasi”, atas nama kesempatan dan popularitas.

Hei, perempuan adalah makhluk asing di dunia laki-laki. la mengambil apa saja yang disodorkan kepadanya. Dan, dalam banyak kasus, ia tidak berani membuka mulut untuk memprotes. Pun di zaman yang konon disebut sebagai women’s lib ini.

Serupa pendekar pilih tanding, sebagian perjuangan Sahabat Tanah Air saat ini memang perlu untuk diapresiasi. Penulis meyakini bahwa Islam mewajibkan orang yang beriman untuk berjuang membebaskan kaum yang tertindas.

Sayangnya, bersama dengan berjalannya waktu, para penganut Islam melupakan pesan ini. Mereka telah menyerah dalam memperjuangkan emansipasi kaum perempuan. Malahan, mereka sendiri kemudian memperlakukan kaum perempuan dengan sikap yang tidak patut mereka perbuat.

Lihat juga: Semoga Anda Mendapat Hidayah

Belakangan ini, kenyataannya, semakin “religius” seseorang, semakin besar sifat menindasnya terhadap perempuan. Kemunafikan telah mencapai tingkat sedemikian rupa, sehingga mereka yang mempercayai dominasi kaum pria malah menulis artikel-artikel yang poin utamanya penjustifikasian yang berlebihan yang umumnya untuk konsumsi kalangan kontra bagi kaum bercadar.

Pada saat mereka membanggakan diri mengenai bagaimana seharusnya kaum perempuan, pada saat itu pula mereka bekerja untuk organisasi-organisasi yang menindas kaum perempuan. Sebagian penulis Sahabat Tanah Air juga gagal menyadari bahwa ada kalanya “simbol” membebaskan kita semua. Mereka justru tampak hipokrit!

Bagaimana mungkin kaum perempuan dapat melihat Islam sebagai kekuatan pembebas ketika media yang menyajikan berita seputar Islam, tapi ditunggangi oleh cara berpikir berbalut tribalisme dan chauvinisme kaum pria? Dengan cara seperti ini, kaum pria Sahabat Tanah Air secara tidak langsung menurunkan peran dan kedudukan kaum perempuan (bercadar) di masyarakat.

Penulis tidak yakin, masih ada media yang mau menyuarakan dan menampung segala bentuk aspirasi semacam ini, menulis dan berbicara tentang pembebasan kaum perempuan dan tentang hak-hak yang telah tuhan berikan kepada mereka.

Penulis menilai organisasi-organisasi dan media-media yang sekarang ada tidak berhasrat/tidak siap untuk sekadar menyuarakan hak-hak kalangan kaum perempuan. Penulis berharap dan berdoa agar Tuhanmu dan Tuhanku meridhai upaya mereka.

Semoga Tuhanmu dan Tuhanku memotivasi pihak lain untuk mengajarkan Islam yang benar dan untuk mengoreksi penindasan yang telah berlangsung lama terhadap perempuan bercadar.

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Rifai Descart (see all)