Orang Gila dan Normal

Orang Gila dan Normal
©Craig Thomas Gallery

“Dunia ini tak bisa menghargai keberadaan orang lain. Yang dihargai hanyalah mereka yang punya jabatan tinggi atau harta yang banyak.

Lalu siapakah aku? Manusia berpenyakit mental yang hina-dina, miskin, dan dianggap berada di luar lingkaran garis batas apa yang disebut dengan ‘dunia yang normal’. Aku bukanlah siapa-siapa. Oleh karena itu, aku selalu saja diperlakukan tidak adil, walaupun di tempat petirahan.

Demikianlah. Maka setelah beberapa lama aku tinggal di Petirahan Pak J, aku mulai dikata-katai gila, sinting, dan saraf.” ~ Gelombang Lautan Jiwa karya Anta Samsara (h. 136)

Membaca kutipan itu, aku jadi mempertanyakan ulang makna normal. Karena suatu hal yang aneh jika orang-orang normal itu memberikan tambahan beban kepada orang bergangguan mental yang sudah tak sanggup membawa masalah mereka sendiri.

Apa orang-orang normal itu tidak memahami bahwa mereka yang bergangguan mental sudah menyerah menanggung beban yang mereka pikul, namun malah memberikan beban tambahan dengan mengolok-olok mereka (orang bergangguan mental) dengan hinaan? Dan hal ini adalah normal di keseharian.

Jika orang normal saja segila ini, apa pula makna gila di kehidupan?

Kebanyakan dari apa yang aku lihat, pandangan umum makna gila adalah rusaknya logika di kepala seseorang. Jadi saat nalar seseorang sudah mati, dia tidak bisa disebut sebagai manusia normal lagi.

Lucunya, tulisan ini ditulis oleh orang yang memiliki bipolar disorder tipe dua, yang umumnya bisa dipersepsikan sebagai orang gila juga. Hal ini bisa terjadi jika pengetahuanmu pada bidang psikologi benar-benar buruk.

Sekarang, mari kita bedakan, kebutuhan orang normal dan orang gila ini bagaimana.

Sejauh pengalamanku menjadi penderita bipolar, hal yang kubutuhkan adalah kesabaran, kasih sayang, kebutuhan untuk bisa dipahami, baik bagi psikiater dan orang-orang di sekitar ruang lingkup kehidupanku. Kemudian, seorang pendengar dan penasihat yang bisa meredakan kecemasan yang muncul dengan alasan-alasan yang sepele.

Sejauh pengalamanku menjadi manusia normal, hal yang kubutuhkan lebih simpel: sandang, pangan, papan.

Tetapi apa yang orang-orang normal (mari kita singkat sebagai O-ON) yang merasa logikanya masih berjalan dengan lurus dan bagus itu lakukan? Mereka (O-ON) tidak hanya menyembunyikan kasih sayang di tiap kalbu, tetapi mereka memberikan yang sebaliknya, yaitu kebencian. Ini dikarenakan oleh ketidaksanggupan O-ON untuk bisa memahami psikologi. Maka cocok sekali sebutan O-ON dimiliki oleh mereka yang memang o’on.

Apa yang kulihat di sini tak lebih dari seleksi alam, di mana yang lemah sebisa mungkin disingkirkan dan dimusnahkan. Manusia menjadi tak lebih dari makhluk buas yang suka menindas. Hal ini tak bisa kumungkiri juga, karena hampir setiap minggu aku memakan daging. Pada akhirnya perut manusia menjadi kuburan bagi tubuh-tubuh yang kita makan.

Hal ini masih agak bisa dimaklumi, karena yang kita konsumsi bukan kaum kita sendiri[1]. Tetapi yang marak terjadi kini adalah tidak memanusiakan manusia yang lemah. Seperti tukang becak sekarang, mereka cenderung tak memiliki harapan di daerah-daerah Indonesia yang sudah banyak mempekerjakan Gojek dan Grab yang upah mereka jauh lebih murah. Apa yang akan pemerintah lakukan untuk memberi solusi kepada para tukang becak?

Kembali ke tema orang gila dan orang normal.

Solusi yang bisa ditawarkan adalah memberikan pengetahuan dan kesadaran kepada setiap manusia agar memperlakukan orang dengan gangguan mental yang lebih baik dengan cara memberikan mata pelajaran psikologi kepada intitusi seperti sekolah. Dan harapan ini agaknya terlalu tinggi.

Bimbingan Konseling (BK) di sekolah seringnya hanya memperbaiki anak-anak yang memiliki kencenderungan antisosial[2]. Mereka tidak menuntaskan kewajiban mereka untuk menjaring anak-anak yang memiliki kecenderungan atau potensi gangguan mental.

Dengan ini, aku yakin sebagian gaji para guru BK adalah haram. Mungkin guru-guru BK terlalu malas untuk memangkas potensi gangguan jiwa pada siswa-siswi yang padahal itu adalah tugas mereka.

Dan bukankah ini adalah salah satu bentuk kebiasaan orang normal yang gila juga? Karena mereka membiarkan anak-anak yang memiliki potensi gangguan jiwa, untuk tidak diobati, dan dibiarkan begitu saja.

Apakah hal ini bisa kau rasai sebagai sesuatu yang normal?

Bayangkan tugasmu adalah mencabuti tanaman-tanaman liar. Tetapi yang kau cabuti hanya rumput teki. Tanaman liar lain seperti anting-anting, meniran, rumput mutiara, alang-alang, dan lain-lain tak kau cabuti. Bukankah dengan ini, profesimu sebagai pencabut tanaman liar sudah gagal, atau setidaknya, belum tuntas?

Tetapi kau tetap menerima gaji secara penuh, meski yang kau kerjakan tak sampai separuh. Dan kau amat yakin gajimu sepenuhnya adalah halal. Dan sebuah dosa besar jika kau mencabut bunga yang kau kira tanaman liar. Maka aku bertepuk tangan untuk kalian, para O-ON. Karena kalian lebih gila daripada orang bergangguan mental.


[1] Daging manusia.

[2] Antisosial sering tertukar dengan asosial. Antisosial adalah mereka yang anti terhadap sosial dan cenderung melanggar aturan-aturan. Dan asosial adalah mereka yang cenderung menarik diri dari masyarakat dan tidak bersosialisasi.

Arham Wiratama
Latest posts by Arham Wiratama (see all)