Orang yang Terhijab dari Pada The Truth itu Sudah Pasti Terhijab dari Pada Agama

Orang yang Terhijab dari Pada The Truth itu Sudah Pasti Terhijab dari Pada Agama

Orang yang Terhijab dari Pada The Truth itu Sudah Pasti Terhijab dari Pada Agama

Sebelum kajian tafsir Ibnu Arabi dimulai, Pardamean Harahap atau yang akrab dengan panggilan bang Dame membuka pertemuan dengan menyuruh kami yang berada di dalam aplikasi Zoom, online meeting itu untuk mengheningkan diri sejenak (berdoa) dan membaca surah Al Fatihah.

Ustad Andi Alpi Am atau yang akrab disapa Alpi sebagai pembahas membuka kajian yang bertema “Petuah Al Quran, Tadabbur Surah Al Baqarah, Seri 4” di Minggu sore, 27 Agustus lalu, pada pukul 16.00 WIB dengan mengatakan jika dirinya tidak ingin mengklaim sebagai orang yang paling paham dalam mengulas tafsir Ibnu Arabi. Namun, ia ingin kita mendapatkan hal-hal yang berguna dari tafsir surah Al Baqarah yang dipertemuan keempat ini yang dibahas adalah ayat ke enam sampai Sembilan (6-9).

Alpi kemudian membaca surah Al Baqarah tadi. Ia memulainya dengan membaca Taawuz dan Basmalah. Ia pun juga membaca arti dari ayat-ayat tadi yang artinya: 6). Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu sama saja bagi mereka, apakah engkau itu memberikan peringatan wahai Muhammad, atau pun tidak engkau beri peringatan, mereka tidak  beriman.

7). Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka. Dan juga pada pandangan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat. 8). Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami telah beriman kepada Allah dan hari akhir. Padahal mereka itu tidaklah beriman. 9). Mereka itu menipu Allah dan orang-orang yang beriman. Padahal, mereka itu menipu diri mereka sendiri dan tidaklah mereka merasakannya.

Menurut Alpi, empat ayat ini menyinggung tentang orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Jika pada pertemuan sebelumnya, pada seri ke dua jika mereka orang-orang kafir dan musyrik digolongkan pada golongan Al-Asyqiya yaitu orang-orang yang menderita atau ahlu dholmah atau orang-orang yang dalam kegelapan.

Lebih lanjut Alpi menjelaskan, bedanya orang-orang kafir atau terusir (Al-Mathrud) dengan orang munafik itu adalah keinginan namun mereka fokus pada hal-hal yang bersifat materi (material things). Mereka (orang munafik) belum mendapat petunjuk yang besar. Berbeda dengan orang yang sudah berbahagia dengan banyak petunjuk yang diperoleh. Sedangkan orang-orang munafik ingin merasakan itu.

Kemudian Alpi melanjutkan membaca teks bagaimana Ibnu Arabi menafsirkan bagaimana maksud dari ayat keenam tersebut. Sesungguhnya orang-orang yang kafir adalah orang-orang yang menderita yang diberikan peringatan tidak akan berhasil dan mereka tidak akan berhasil diberikan peringatan, tidak ada juga jalan bagi mereka untuk terlepas dari nar (neraka).

Mereka itulah yang mana seperti firman Allah SWT, jika mereka tidak beriman, tidak mungkin mereka beriman, karena beriman itu menuntut adanya hidayah, cahaya. Dan lebih lanjut menurut tafsir Ibnu Arabi jika mereka yang (orang-orang kafir) adalah penghuni neraka karena tertutup bagi mereka semua jalan dan tertutup bagi mereka pintu-pintu. Ini karena kalbu, hatinya tertutup, padahal kalbu adalah tempatnya ilham disitulah pengetahuan (disampaikan oleh Jibril). Padahal Tuhan dapat dirasakan namun mereka terhijab daripada ilham (hati itu tertutup).

Baca juga:

Ayat ini juga menyinggung tentang pendengaran dan penglihatan. Jika kita tidak memiliki awareness (kesadaran), whiteness (kemurnian?) tidak mungkin lagi manusia mendapatkan pengetahuan. Pendengaran dan penglihatan adalah tempat manusia bisa merasakan sesuatu. Karena ini adalah masuknya pemahaman (understaning) dan pelajaran ke dalam hati mereka.

Ketika telinga (pendengaran) dan mata (penglihatan) mereka ada penghalang untuk sampai ke hati, maka tidak ada jalan mereka ke batin. Mereka tidak akan merasakan ilmu rasa dan penyingkapan. Dan tidak pula juga akan mendapatkan di dalam (zahir) ilmu yang berdasarkan analisi luaran. Maka mereka itu terkurung di dalam penjara kegelapan. Maka sungguh sangat besarlah azab yang mereka rasakan. Alpi kemudian bertanya, karena kenapa, Alpi kemudian menjawab sendiri karena mereka dalam kegelapan.

Pada ayat kedelapan, ada orang yang berkata diantara manusia, kami telah beriman kepada Allah sedangkan mereka tidak melakukannya. Mereka telah menipu Allah Swt dan tidaklah mereka itu sadari. Sehingga dihilangkan keimanan dari mereka bersamaan dengan klaim mereka terhadap keimanan mereka. Berdasarkan firman Allah, mereka mengatakan kami telah beriman padahal tidak.

Alpi melanjutkan, menurut Ibnu Arabi mengatakan itu tidak bisa karena tempatnya keimanan itu di hati bukanlah lisan. Jika kita mengklaim beriman sedangkan hati kita tidak itu berarti belum beriman. Sebagaimana dalam surah Al Hujurat ayat 14, berkata orang Badui Arab, kami telah beriman. Namun, Nabi Saw menjawab kalian itu belum beriman tapi berislam, atau kami telah tunduk. Jadi keimanan itu perlu usaha.

Selanjutnya, penjelasan ayat Al Baqarah, mereka telah mengklaim telah beriman kepada Allah atau menyangsikan Allah. Maksud dari kami beriman kepada hari akhir adalah kami bukanlah orang-orang musyrik yang terhijab dari Allah SWT (The Truth). Jadi mereka itu mengklaim jika mereka ini bukanlah orang-orang musyrik yang tidak menyangsikan Allah dari golongan ahlul kitab yang mana tidak bisa atau terhalang daripada agama dan juga hari akhir.

Menurut Alpi poin pentingnya di sini dikatakan, sesungguhnya kekafiran itu adalah terhijab. Bahwasanya kekafiran itu adalah hijab karena pada dasarnya asal kata dari kafir adalah tertutup. Hijab itu ada dua yakni terhijab dari pada Al haq dan terhijab dari pada Allah Swt (The Truth) seperti orang musyrik atau terhijab dari agama. Sebagaimana ahlul kitab, mereka terhijab daripada agama atau terhijab dari kebenaran ilmu pengetahuan (True Knowledge).

Kata Alpi, “Di sini ada poin penting yang menurut saya sangat bagus untuk kita ketahui bersama. Ibnu arabi menerjemahkan begini. Orang yang terhijab dari pada The Truth itu sudah pasti terhijab dari pada agama. Agama itu adalah jalan untuk sampai kepada Allah secara pasti. Namun, ada lagi yang menarik, adapun orang yang terhijab dari pada agama kadang-kadang mereka itu tidak terhijab dari The Truth. Jika terhijab dari The Truth sudah pasti terhijab dari pada (mendapatkan) agama. Tapi, tidak mendapatkan agama tidak meniscayakan terhijab dari The Truth itu sendiri.” Alpi kemudian mengakhiri penjelasannya, dan memberikan ruang kepada bang Dame untuk membahasnya lebih lanjut.

Bang Dame kemudian melanjutkan pembahasan dengan mengatakan, “Banyak banget itu tadi jadi saya sambil nyatat-nyatat ini teman-teman sekalian. Terima kasih ustad Alpi yang sudah membantu kita mengurai dan menerjemahkan bahkan mengurai teks Arab, kitab kuning istilahnya itu. Sahabat-sahabat sekalian, mari kita sama-sama mengambil petuah dari uraian tadi. Nanti ustad Alpi juga akan menajamkan (kembali). Pertama-tama, saya ingin mengulang sahabat-sahabat sekalian. Ketika disebut Al Quran itu The Truth itu maksudnya bukan bukunya, bukan mushaf. Meskipun sore ini kita membaca teks melalui digital gitu yang kita bisa mengetahuinya lewat akal dewasa kita.”

Halaman selanjutnya >>>
Zuhriah