Organda Bisa Serius?

Organda Bisa Serius?
Ilustrasi: platform24.org

Tak sedikit yang mengenal Organda sebagai undercover cultural organization. Sangat erat dengan keunikan budaya kedaerahannya. Menjunjung asas kekeluargaan, sehingga tampaklah kelonggaran dalam aktivitasnya.

Organisasi merupakan kesatuan, kelompok kerja sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama (J.R. Schermehorn). Titik tekannya ada pada 1) sekelompok orang, 2) bekerja sama, dan 3) tujuan bersama.

Dewasa ini, organisasi mahasiswa muncul dengan corak yang semakin beragam. Mulai dari organisasi mahasiswa berbasis area (lokal-nasional), formal-nonformal, struktural-kultural, dan intra-ekstra kampus.

Organisasi Daerah atau yang dikenal dengan sebutan Organda menjadi salah satu organisasi mahasiswa lokal (asal daerah tertentu), kultural, dan eksra kampus. Atas karakteristiknya ini, tak sedikit yang mengenal Organda sebagai undercover cultural organization. Sangat erat dengan keunikan budaya kedaerahannya. Menjunjung asas kekeluargaan, sehingga tampaklah kelonggaran dalam aktivitasnya.

Padahal, misi untuk kembali mengabdi untuk memberdayakan potensi daerah menjadi salah satu landasan pembentukannya. Maka sesungguhnya Organda menjadi wadah yang efektif untuk menjembatani putra daerah dalam penyaluran ide dan gagasan. Organda memiliki goal yang sangat jelas dan spesifik terhadap kesejahteraan daerah.

Latar belakang kedaerahan memiliki nilai politis yang besar. Kepentingan yang diusung di setiap programnya tentu merujuk pada isu-isu kedaerahan untuk diselesaikan. Sehingga organda berpotensi dan berpeluang sangat besar dan efektif untuk bali ndeso, mbangun deso.

Bicara Organda berarti bicara mahasiswa dan perannya. Otomatis dikaitkan dengan idealisme membawa perubahan, baik di tingkat mikro maupun makro. Gagasan yang digadang oleh mahasiswa ke hadapan publik disampaikan melalui berbagai macam media untuk membangun dan membuka opini publik.

Gagasan ini dibentuk dari atmosfer akademik yang mengondisikan mahasiswa untuk memiliki idealisme. Bahwa agen perubahan sudah seharusnya berdiri sebagai “pembela” kaum yang dirugikan dan berkesadaran tinggi. Mempertahankan diri jika berada pada posisi yang dirugikan. Perasaan dirugikan itulah yang menimbulkan pemikiran bahwa mereka telah mendapatkan perlakuan yang tidak adil, sehingga mendorong munculnya perlawanan (Yusron: 2009).

Aksi atau demonstrasi menjadi salah satu sarana mainstream yang dianggap sebagai bentuk perlawanan heroik mahasiswa terhadap berbagai macam ketimpangan. Hal ini menjadi konsekuensi logis dari adanya demokrasi yang menempatkan opini publik sebagai suara rakyat (voice of the people). Sebab menyuarakan pendapat bagi warga negara merupakan merupakan kebutuhan vital untuk mewujudkan hak-hak politisnya (Asep: 2008).

Penyaluran opini publik bagi mahasiswa merupakan sesuatu yang tak terelakkan. Apalagi di tahun 1998 runtuhnya rezim Orde Baru dicapai melalui demontrasi besar-besaran. Itu berimplikasi turunnya Presiden Soeharto dari jabatan Presiden karena krisis ekonomi yang melanda Asia Tenggara.

Organda Bisa Serius?
Gambar 1. Aksi demonstrasi mahasiswa

Dalam satu dekade terakhir ini, sejalan dengan semakin terbukanya demokrasi di negeri ini, demonstrasi tidak lagi seefektif dengan aksi reformasi 1998. Keterbukaan pers memberikan wadah dari berbagai gagasan secara lebih luas dan efektif.

Antonio Gramsci berpendapat bahwa media massa berperan besar dalam membentuk suatu ideologi dan kepentingan masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya media yang bermunculan. Ada Bestari, Salemba, Civitas, Aspirasi, Kami, Inovasi, Mimbar, Komunikasi, Mahasiswa Indonesia, Mimbar Demokrasi, Muhibbah, Forum, Gelora Mahasiswa, dan Kampus.

Selain melalui lembaga pers mahasiswa, opini publik yang disuarakan oleh mahasiswa juga tertuang dalam surat kabar, majalah, radio, TV, dan media sosial online. Maka benarlah bahwa kesebandingan antara jumlah media massa dan opini yang dimuat mengindikasi efektivitas terbentuknya opini publik.

Adapun beberapa pilihan pers tersebut merupakan alternatif pilihan mahasiswa untuk mengungkapkan opini publik. Ya, sesuai dengan kapasitas dan kapabilitasnya sebagai upaya melakukan pengawasan jalur nonformal kepada negara.

Mengapa opini publik dapat dituangkan pada media tersebut? Dalam teori media dan masyarakat massa, media memiliki sejumlah asumsi untuk membentuk masyarakat, di antaranya:

  1. Media massa memiliki efek yang berbahaya sekaligus menular bagi masyarakat.
  2. Media massa memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pola pikir rata-rata audiennya. Bahkan pada asumsi berikutnya, ketika pola pikir seseorang sudah terpengaruh oleh media, maka semakin lama pengaruh tersebut semakin besar.
  3. Rata-rata orang yang terpengaruh media, dikarenakan dia mengalami keterputusan dengan isntitusi sosial yang sebelumnya justru melindungi dari efek negatif media (Mufid: 2005).
Organda Bisa Serius?
Gambar 2. Mahasiswa menyampaikan opini publik melalui media cetak 

Paparan di atas menunjukkan, opini publik melalui pers dalam teori media dan masyarakat massa memiliki keefektifan. Efektif untuk menyuarakan ide, gagasan, bahkan kritik konstruktif mahasiswa kepada publik. Harapannya, publik memberi respons atas opini tersebut secara positif. Hal ini senada apa yang diungkapkan Lindsey:

Pada umumnya, salah satu kekuatan media massa adalah kepiawaiannya dalam mempengaruhi sikap dan perilaku orang/publik. Media cukup efektif dalam membangun kesadaran warga mengenai suatu masalah (isu) melalui komunikasi intensif dalam jangka waktu yang singkat.

Dengan semakin terbukanya penyaluran aspirasi, dipastikan di setiap daerah memiliki isu krusial yang mencakup berbagai aspek. Dan hampir di setiap daerah di Indonesia memiliki wadah resmi untuk mempublikasikannya. Sebutlah Kabupaten Wonosobo dengan koran Ekspres dan akun IG @wonosobohitz-nya. Jogja dengan Harjo-nya. Solo dengan Solo Pos-nya. Riau dengan Tribun Pekanbaru-nya. IG @ridwankamil yang mengekspos isu Bandung, dan sebagainya.

Yang perlu diperhatikan oleh para mahasiswa putera daerah atau mahasiswa anggota Organda adalah meningkatkan kesadaran tentang daerah asalnya. Menyampaikan opini publik secara kritis dan tajam, namun tetap bersifat santun dan arif. Salah satu cara mengembangkan opini publik melalui pemanfaatan berbagai media massa adalah dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas bahan bacaan mahasiswa.

Organda idealnya bisa membangkitkan budaya literasi dan memperkaya wawasan kedaerahan mahasiswa dan mempertajamnya melalui budaya diskusi. Apa pentingnya diskusi? Karena sebelum menyalurkan opini, hendaknya mahasiswa dibekali teori sebagai upaya “dialogis” melihat realitas dan fakta sosial. Sehingga kedua hal tersebut dapat dijadikan pisau analisis tehadap kontrol kebijakan pemerintah secara umum, dan dikhususkan daerah asal mahasiswa berasal.

Forum diskusi merupakan ajang tukar beragam pikiran yang berbeda. Mau tidak mau, mahasiswa diajarkan untuk berlaku arif terhadap perbedaan pendapat. Secara tidak langsung, berdiskusi berarti mengimplementasikan kebebasan untuk berpikir, berbicara secara jujur, dan penuh tanggung jawab. Hal ini tertulis dalam pasal 28 UUD 1945:

Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan, dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.

Selain itu, kebebasan berpendapat juga tercantum dalam pasal 1 UU No 1 Tahun 1998:

Bahwa kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum adalah hak asasi manusia yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945 dan Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia.

Teknis penyelenggaraan aktivitas khususnya, diskusi pun akan sangat fleksibel. Namun, peluang menghadirkan narasumber berbasis asal daerah melalui ketersediaan tokoh dari putera daerah, praktisi maupun akademisi di lingkungan kampus dengan berbagai keahlianlah yang harus ditangkap dan Organda-lah yang punya peluang besar mewadahi itu.

Adanya dua legitimasi di atas menjadi peluang bagi Organda dan para pengurusnya untuk menyelenggarakan berbagai macam aktivitas diskusi. Tak perlu perlu khawatir akan ada ancaman dan intervensi dari pihak lain yang tidak berwenang. Buktikan bahwa Organda bukan sekadar berfungsi sebagai “paguyuban dan kongkow-kongkow” saja.

Organda mempunyai peluang dan potensi untuk membawa perubahan kepada para anggotanya. Terlebih lagi, akan membawa perubahan bagi daerah dengan meningkatnya kualitas SDM anggota. Itu setelah mereka lulus dari Perguruan Tinggi akan kembali ke daerah mereka untuk berpartisipasi dalam bidang ekonomi, pendidikan, budaya, dan politik.

Kemudian, adanya forum diskusi Organda merupakan upaya controlling terhadap kebijakan pemerintah jika dirasa kebijakan tersebut tidak pro terhadap keadaan rakyat secara umum. Dan, pada akhirnya, dari proses diskusi, terbentuklah suatu opini publik yang bisa disampaikan, baik melalui media cetak maupun online.

#LombaEsaiMahasiswa

*Ardita Markhatus Solekhah, Mahasiswa Pendidikan Dasar Pascasarjana UNY asal Kabupaten Wonosobo; pernah aktif di Organisasi Daerah bernama IKMMMASSSITA

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Peserta Lomba (see all)