Overthinking, Penerimaan dan Pengakuan

Overthinking, Penerimaan dan Pengakuan
©Detik

Overthinking, Penerimaan dan Pengakuan

Pemaknaan terhadap hidup tentunya memiliki porsi yang tidak gampang ditebak, apalagi ditentukan. Keadaan terjebak atau terperangkap merupakan situasi ‘keterpilihan’ yang mengharuskan manusia untuk menentukan. Hilangnya atau tidak adanya pilihan akan menjadi suatu euforia, senantiasa terus terbayang.

Tempat terakhir dari keadaan tersebut tidak lain adalah keadaan ‘over and over again’. Kemungkinan terbesar yang akan menjadi landasan berikutnya ialah ‘menggerutu’. Tidak heran bila keadaan menggerutu dari seseorang sering dicap sebagai ‘monkey mind chatter’, karena pikiran senantiasa dipenuhi dengan pelbagai tangkapan indra.

Ungkapan dari salah satu grup musik Nosstress-Pegang Tanganku; Jika senang jangan terlalu,, Jika sedih jangan terlalu, adalah gambaran tentang terbatasnya segala yang ada, baik dalam diri manusia maupun di luar diri manusia. Hakikat terkait dengan ‘otoritas’ dalam diri manusia tidak serta-merta memberi dampak yang baik bagi dirinya maupun sesamanya.

Kecenderungan seseorang overthinking sangat didasarkan pada aspek otoritas, entah dalam dirinya sendiri maupun dalam diri orang lain. Otoritas yang merujuk pada keberadaan utuh kemanusiaan pribadi terkait; kemauan harus dituruti, permintaaan harus dikabulkan, dan lain sebagainya. Namun, lirik lagu Nosstress masih menjadi jawaban yang menjadikan otoritas setiap orang belum dapat memadai pelbagai kemungkinan situasi manusia.

Dampak dari hadirnya otoritas dalam diri manusia menimbulkan banyak suka dan juga duka. Lazimnya duka adalah landasan seseorang menjadi overthinking. Entah dasar duka itu orang tua, keluarga, sahabat dan pacar.

Yang pasti bahwa keadaan duka itu akan menjadi luka, luka yang nantinya menghadirkan banyak duka dalam setiap perjumpaan, kebersamaan. Hingga menghadirkan sebuah traumatis seumur hidup, terutama bila mendapat kesempatan untuk bertemu dan berinteraksi dengan keadaan atau situasi yang sama persis.

Hakikat waktu lebih besar dari ruang bukanlah tawaran yang tepat untuk memperbaiki keadaan overthinking dari seseorang, sehingga seseorang hanya pasrah dan terpaku pada waktu; kapan? Kenyataan untuk berdamai dengan masa lalu atau lebih dikenal dengan situasi yang mengakibatkan luka batin sangat disayangkan bila dipaksa menuntut pada keberadaan waktu.

Baca juga:

Ibaratkan membuang sampah tanpa memastikan bahwa wadah yang digunakan dalam keadaan baik atau tidak. Artinya, usaha tanpa niat dari dalam diri tidak akan berarti sepanjang waktu terus berjalan.

Penerimaan akan keadaan overthinking merupakan bentuk pengakuan diri yang utuh dan universal sebagai makhluk yang diciptakan unik dan istimewa. Dasar utama dari penerimaan adalah pengakuan, saya mengakui bahwa saya seorang yang overthinking.

Penerimaan diawali terutama dari orang atau situasi yang menghantarkan saya menjadi overthinking, melalui penerimaan tersebut pengakuan secara otomatis secara khusus terkait dengan otoritas pribadi mendapat kepenuhan, karena seseorang memahami secara baik proses pencarian jati diri.

Entitas yang berada di luar diri saya bukanlah ‘sarana utama’ untuk membahagiakan diri orang lain, yang akan didapatkan ialah ‘kebiasaan sesat’. Keutamaan untuk mencapai pengakuan dan penerimaan adalah dengan berani memaknai ‘fre will’ setiap pribadi, ketaksanggupan untuk mencerna otoritas diri berhadapan dengan otoritas orang lain harus dialami, dinikmati.

Sebab, situasi tidak dapat berarti bila seseorang tidak mengalami atau beriteraksi dengannya. Dengan demikian, keberartian dari situasi tersebut perlu dimaknai secara inplisit seturut kehendak bebas setiap pribadi.

Pengakuan dan penerimaan dapat menghantarkan seseorang mencapai ‘kejujuran diri yang tinggi’ karena juga menghadirkan pengampunan. Masa lalu atau situasi yang mengakibatkan overthinking tidaklah berdampak bila seseorang berani ‘menentukan’.

Mario G. Afeanpah
Latest posts by Mario G. Afeanpah (see all)