Pacar Saya Muak Dengar Cerita Karl Marx

Pacar Saya Muak Dengar Cerita Karl Marx
©IDN Times

Sore menjelang magrib, pacar saya tiba-tiba mengabari dan ingin mengajak saya ngopi di jam 20:30. Sedang saat itu, saya berada di warung kopi yang tidak jauh dari kos.

Pacar saya adalah perempuan dan tidak beda jauh dengan perempuan pada umumnya. Ia juga memiliki sifat sensitif sama halnya dengan perempuan lainnya. Tapi wajar saja sih, mengingat ia seorang perempuan.

Saat itu, saya yang sedang ramai-ramainya berkumpul dengan kawan yang mungkin di jam 20:30 tidaklah cukup. Jadi ada kemungkinan saya tidak akan menemui pacar saya tepat di jam yang ia sudah tentukan.

Namun parahnya, saya sudah mengiyakan pada jam itu saya akan menemuinya di warung kopi yang tidak jauh dari tempat saya ngopi. Ketika, sedikit saja saya melanggar janji waktu, saya akan menerima ceramah 3 SKS ala kampus yang memenjaraku saat ini.

Ia tidak akan mau menerima alasan apa pun. Ya solusinya, membiarkannya marah sampai ia merasa lelah. Perkiraan dan rencana saya yang mungkin ketika ia tahu akan marah juga. Terserah.

Pasca-perkiraan dan rencana itu yang tidak saya perhatikan lagi, benar amarah itu mengarah kepadaku dan tepat di depan mukaku. Mata, muka, dan sekujur tubuhnya tegang dan kaku melihat ke arahku dan senyum membalasnya. Walaupun saya sudah tahu bahwa ia sedang marah.

Setelah saya berada di depannya dan duduk di sampingnya, benar pula bahwa kata tak keluar. Ia membiarkanku berpikir dan melihat perilakuku terhadapnya yang menurutnya saya tidak adil. Mungkin seperti kata Pramoedya Ananta Toer, adil sejak dalam pikiran. Itu yang tidak saya lakukan kepadanya.

Lamanya ia menunggu kedatanganku membuat perasaannya merasa bahwa dirinya tak dihargai sebagai manusia yang punya perasaan dan pikiran. Begitulah kiranya.

Saya yang duduk di sampingnya dan tak saya sadari bahwa saya telah membiarkannya duduk diam dan, parahnya, membiarkan diriku diam terhadapnya. Ah, bingung. Pada saat itu ingin bicara, tapi tak tahu apa yang dibicarakan. Pokoknya anehlah. Teman-teman yang membaca tulisan ini mungkin bisa membayangkannya.

Baca juga:

Ketika sekitar se-jam-an lebih perdiaman itu terjadi, ia pun mulai melirik dengan sorot mata yang tajam tanpa kata. Saya dengan riang membalas lirikannya dengan senyuman yang paling terbaik yang aku miliki, senyum dengan memperlihatkan barisan gigi dan menghilangkan mata. Ia pun membalas dengan kata, “Kamu pikir kamu ganteng kek gitu?”

Ya tidak saya jawab karena saya tidak tahu betapa gantengnya atau betapa jeleknya diriku pada saat itu. Tapi kalau dibayangkan mataku yang minimalis dan muka yang agak mulus, ya menyerupai oppa-oppalah. Ya pasti ganteng dan unyu-unyu.

Saya yang sedang diam dan tak tahu lagi mau ngapain, agar ia yang sedang marah menyempatkan membuka mulutnya dan berbicara terhadapku. Tapi tak kunjung terdengar.

Saya pun menyadari atas perilaku yang saya perbuat terhadapnya. “Ya mau gimana lagi, kan udah terjadi? Kalau ada yang salah, ya dibicarakan. Jangan diam,” kataku kepadanya.

Ia pun menjawab, “Ya tentu ada yang salah. Kamu pikir saya diam, kenapa? Tentunya kamu bisa mikir di mana letak kesalahannya. Kalau kamu belum tahu letak kesalahannya, ya balik saja sana sama teman-temanmu.” Malah dia makin marah.

“Gimana, yank (panggilan sayang dia ke aku dan pastinya aku juga harus begitu), tadinya mau cepat ke sini, tapi urusan sama teman-teman belum selesai. Ya kalau gitu, kamu jangan bilang akan ke sini kalau tidak bisa menepati. Bukannya kamu sudah menjadi manusia, di mana kepedulianmu terhadap sosial sangatlah besar, tapi kamu malah bermasalah sama kehidupan pribadimu. Coba pikirkan apa yang salah terhadapmu? Intinya, kamu tidak bisa adil.

Kamu juga sudah banyak baca buku dan diskusi menyoal ketidakadilan. Dari situ kamu tidak akan mungkin bermasalah lagi menyoal keadilan.

Kamu pun pernah bercerita soal sosialis dan kapitalis. Di mana Karl marx sebagai tokoh sosialisme memepertanyakan dan menyimpulkan ketika barang yang dihasilkan dari seberapa banyak tenaga yang digunakan. Tapi mengapa buruh sebagai penghasil tenaga tidak menjadi pemilik barang yang sesunguhnya?

Baca juga:

Menurutmu, Karl Marx juga menginginkan kesetaran yang inti dari semua itu adalah menginginkan keadilan terhadap yang tidak mendapat keadilan. Karena pada saat itu sistem kapitalis membuat buruh merasakan ketidakadilan yang akan panjang jika tak ada pergerakan dan kritikan mengarah kepadanya. Sekali lagi, dasarnya hanya keadilan bagi kita semua.

Jadi, kesimpulan dari itu, ketika sesorang sudah mengalami dan mengerti akan keadilan dan kesetaran dalam sosial yang sering terjadi, maka pribadi seseorang itu akan terhindar dari perilaku yang tidak adil.

Terus kamu masih melakukan ketidakadilan, apakah cerita itu hanya bacot semata? Coba kamu renungkan lagi dan coba bertanggung jawab terhadap apa yang sudah kamu lakukan selama ini. Saya pulang.”

Tak membiarkanku bicara terlebih dahulu sebelum ia pergi. Padahal banyak yang saya mau ceritakan kepadanya, menyoal romantisme kehidupanku yang terkadang dianggap orang-orang adalah sebuah ketidakadilan. Karena diamku dan tidak tepat waktu serta hal-hal yang tak seperti orang pada umumnya dalam berhubungan adalah romantisme itu sendiri. Karena berbeda adalah sejatinya romantis yang kau dapati. Cerita yang belum sempat ia dengar.

Pikirku mendengar ceritaku yang diceritakan ulang adalah keadilan tak punya harga dan kemanusiaan adalah hak semua makhluk hidup. Baik itu pacar, dosenmu, kawanmu, para penjual, para kapitalis, dan pemerintah, semuanya punya hak.

Sebagai penutup, keadilan, kebenaran, kebebasan, itulah pangkal dari kebahagian, kata Plato.

    Iqbal Maulana

    Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
    Iqbal Maulana

    Latest posts by Iqbal Maulana (see all)