Palestina Tidak Butuh Khilafah

Palestina Tidak Butuh Khilafah
Foto: Tempo/Prima Mulia

Palestina sebenarnya tidak butuh khilafah. Hanya orang-orang ambisius saja yang menjadikannya itu isu krusial, padahal sebatas pemanis di bibir belaka.

Nalar Warga – Anda harus lebih dari sekadar goblok untuk mempercayai propaganda Felix Siauw dkk. Bahwa untuk membebaskan Palestina, kita harus menegakkan Khilafah terlebih dahulu.

Percayalah, jika suatu hari Hizbut Tahrir berhasil meraih mimpinya, yaitu Kekhalifahan dari Maroko di Afrika Utara hingga Indonesia di Asia Tenggara, maka Palestina sudah tidak tersisa.

Hizbut Tahrir sudah didirikan sejak 64 tahun yang lalu di Palestina, tapi apa hasilnya? Palestina selama nyaris 7 dekade ini makin kehilangan wilayah dari tahun ke tahun. Dan pendudukan Zionis semakin luas hingga yang tersisa dari Palestina hanya jalur Gaza dan Tepi Barat.

Sementara itu, apa yang dilakukan kelompok pengkhayal ini di Palestina? Hanya sibuk bermimpi tentang Khilafah di atas bantalnya setiap hari tanpa menyadari mereka hidup di tengah negara yang sedang mengalami penjajahan, yang tidak butuh Khilafah.

Dalam hal ini, bahkan langkah yang dilakukan Israel untuk mewujudkan mimpinya mendirikan “The Greater Israel” yang terbentang dari lembah Nil di Barat hingga sungai Eufrat di Timur lebih layak diapresiasi daripada misi “Khilafah Transnasional” Hizbut Tahrir yang sejak didirikannya sampai hari ini hanya utopia penghibur lara.

Israel secara nyata membangun militer dan melakukan lobi-lobi melalui AIPAC di Amerika Serikat. Saat HT masih bermimpi, Israel terus memperluas wilayahnya di bumi Palestina, wilayah yang diinginkan HT untuk menjadi bagian Khilafah.

Sampai hari ini, hanya gerakan-gerakan muqawwamah Palestina yang secara nyata melakukan perlawanan dalam Intifada terhadap Israel, mulai dari yang berideologi Nasionalis hingga gerakan muqawwamah berhaluan Komunis pun memberikan kontribusi agar Palestina tetap bertahan.

Di sana masih ada PFLP, Hamas, Fatah, Islamic Jihad Palestine dll, beserta sayap militernya masing-masing seperti Brigade Abu Ali Mustafa, Brigade Izzudin al Qassam, Brigade Al Quds dan Brigade Syuhada al Aqsha. Dan saya yakin, jika bukan karena perlawanan gerakan-gerakan ini, Palestina hari ini hanya tinggal sejarah yang bisa ditemukan di museum-museum Israel.

Sementara, ke mana para pengusung Khilafah dengan bendera Al Liwa’ dan Ar Rayah yang mereka banggakan itu? Tampak bahwa mereka sebenarnya tidak butuh khilafah.

Sekali lagi, mereka masih sibuk bermimpi. Tak mendapat tempat di Palestina, mereka menyebar dari London hingga Indonesia, masuk ke kampus-kampus dan berbagai instansi, meneriakkan slogan anti nasionalisme di manapun mereka berada. Itulah kenapa sangat mengejutkan jika hari ini para tokoh HTI berlagak meneriakkan bela Palestina padahal Palestina adalah negara nasionalis yang ‘ter-talaq tiga’ oleh ideologi mereka.

Berkamuflase itu sebuah kepastian. Tapi sayang, mereka tak bisa menyembunyikan topeng mereka ketika mereka mengusung spanduk-spanduk bertuliskan “Free Palestine with Khilafah”.

Ya, dengan slogan itu mereka sebenarnya tidak hendak berkata bahwa negara Palestina akan bebas jika Khilafah tegak, karena itu Paradoks! Mereka sendiri meyakini, bila Khilafah tegak, negara Palestina itu tidak ada.

Lihat juga: Kenapa Regional Arab Begitu Kacau?

Yang mereka maksud dengan “Free Palestine” bukanlah membebaskan Palestina dari Israel, tapi membebaskan Palestina dari bentuk negaranya dan dari nasionalismenya. Atau lebih tepatnya, membebaskan Palestina dari Palestina itu sendiri.

Palestina hanya pemanis di bibir dalam aktivitas marketing mereka. Nasionalisme adalah terkutuk dalam ideologi mereka.

Itulah bedanya mereka dengan gerakan-gerakan muqawwamah Palestina yang secara nyata bangkit melawan agresor Zionis untuk membela kedaulatan negara mereka. Hizbut Tahrir hanya memilih tidur dan bermimpi Khilafah sambil menyaksikan wilayah demi wilayah Palestina dicaplok.

Itulah kenapa kemarin saya berkata, jika saya jadi Benjamin Netanyahu, pihak pertama yang akan saya beri medali bintang mahajasa atas makin luasnya pendudukan Israel di Palestina bukanlah militer Israel, tapi para penceramah agama yang menanamkan kepercayaan di tengah rakyat Palestina bahwa “Nasionalisme tidak ada dalilnya”.

Orang-orang seperti ini harus dipelihara dan dikembangbiakan. Karena Israel bisa mewujudkan misinya tanpa harus mengeluarkan sebiji pelor pun.

*Ahmed Zain Oul Mottaqin

___________________

Artikel Terkait:
Warganet
Latest posts by Warganet (see all)