Pameran Gambar; Sebuah Pengantar

Pameran Gambar; Sebuah Pengantar
Sumber: Fanpage FB Goenawan Mohamad

Nalar Warga Di Galeri Kiniko (Sarang II), Jalan Kalipakis RT 05/RW 011, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta—atas undangan panitia Biennale Yogya—saya akan memamerkan sekitar 75 gambar. Akan menyenangkan bagi saya dan panitia jika Anda sudi datang melihat.

Berikut ini pengantar yang saya tulis:

Ke Tengah

Saya cukup kaget diundang untuk berpameran dalam Biennale Yogya tahun ini. Saya tak dikenal sebagai perupa. Sejak saya menggambar dengan lebih serius, selama sekitar dua tahun terakhir, baru tiga kali karya-karya saya dipamerkan. Kenapa saya diajak? Saya pikir, orang—termasuk panitia Bieannale—tertarik kepada yang saya kerjakan karena rada aneh: saya seorang penulis—meskipun bukan satu-satunya—kok memproduksi gambar-gambar?

Tapi saya senang memenuhi undangan ini. Dan berterima kasih. Sejak saya menjajal kerja seni rupa, saya merasa seperti mendapatkan tonikum: ada tambahan energi. Apa yang saya biasa alami dalam puisi—dalam menulis dan membaca puisi—terasa disegarkan dalam proses menggambar.

Imaji-imaji puisi seakan-akan dipernis tiap goresan dan warna, dan benda-benda seakan-akan saya lihat buat pertama kalinya. Kata, yang “memanggil” benda-benda, kini digantikan dengan apa yang muncul dari kuas dan pensil dan tangan.

Transfer dari sajak ke gambar sebenarnya bukan satu langkah radikal. “Saya penyair”, kata Hofmannsthal, “karena saya mengalami benda-benda secara visual”.

Sajak, setidaknya sajak yang saya tulis, bukan dimulai dan dibimbing ide, melainkan apa yang datang ke dalam pengindraan. Demikian juga yang saya gambar. Proses indrawi ini dalam kerja seni rupa bahkan lebih akrab, karena melibatkan apa yang dekat dengan tubuh: gerak tangan yang memegang kuas, mata yang—dibantu cahaya—menangkap warna.

Mungkin sebab itu saya menolak konseptualisme ala Sol LeWitts, misalnya, yang menganggap ide sebagai “sebuah mesin yang membuat seni”.

Konseptualisme memang membongkar seni rupa dari pretensi tentang “esensi”-nya, dan itu penting, sebab seni, lebih dari kerja yang lain, terbuka kepada proses—dirinya adalah proses—bukan sesuatu yang berangkat dari esensi dan berakhir sebagai substansi. Ada jasa konseptualisme—dulu.

Tapi bagi saya konseptualisme—yang kini juga merasuki seni pertunjukan—lama kelamaan mengingkari apa yang sering mereka lahirkan sendiri: sesuatu yang hadir dan mendapatkan respons dalam bentuk-bentuk yang dipersepsikan, yang dilihat, didengar, disentuh.

Gambar adalah sebuah energi visual. Saya menggambar dengan dorongan untuk kembali ke tengah yang visual itu. Ini bisa disebut “jadul”, atau “retro” atau “kuno”. Mungkin. Tapi “tengah” juga sesuatu yang nisbi, dia ada dalam sebuah konstelasi dari pelbagai posisi. Kesenian hanya menarik jika yang “pelbagai” itu hidup. Kesenian bisa berarti dengan menjanjikan hidup yang tak monoton, doktriner, atau latah.

Semua yang saya kerjakan dan dipamerkan di sini juga mencoba untuk memenuhi janji itu. Saya mencoba-coba—cepat bosan dengan satu corak—sembari belajar hal baru tiap kali. Proses belajar itu memberi kegembiraan sendiri—yang mungkin membuat saya kini lebih asyik menggambar ketimbang menulis. Setidaknya sampai malam ini.

Saya berterima kasih kepada Neisya, Lia, Udi, Bubun yang mendampingi saya dalam menggambar. Dan kepada Dodo dan Ugo yang menerima gambar-gambar ini di Yogya.

*Goenawan Mohamad

___________________

Artikel Terkait:
Share!