Pancasila sebagai Moral Negara, Bukan Moral Individu

Pancasila sebagai Moral Negara, Bukan Moral Individu
©Hipwee

Pancasila itu moral negara, bukan moral individu.

Negara itu organisasi. Tindakannya berbeda dengan tindakan individu. Kalau organisasi mempersoalkan politik, individu mempersoalkan etik.

Saat ini, banyak orang yang tidak bisa membedakan mana tindakan individu dan yang mana tindakan organisasi. Taruhlah organisasi partai politik: kegiatannya nanam pohon! Kalau cuma untuk nanam pohon, Pak Ndul yang dari Boyolali tanpa berorganisasi juga bisa. Tanpa harus berpartai, secara individu dia sudah melakukannya.

Begitu juga, kalau cuma bagi-bagi takjil: nggak harus berlabel organisasi jihad. Soros yang notabenenya Yahudi juga melakukan hal yang sama. Di mana sebagian uangnya digelontorkan untuk kemanusiaan.

Kita berorganisasi karena kita sadar bahwa suatu tindakan tidak bisa dilakukan secara sendiri sehingga harus melibatkan berorganisasi. Konsekuensinya, menuntut tindakan organisasi, yakni tindakan politik!

Kekeliruan ini terus berlangsung, dan terus dibiarkan. Masyarakat kita beranggapan bahwa politik, dialah orang yang mengeluarkan sebagian uangnya untuk kemaslahatan. Kepala desa dianggap bertindak politik kalau nyumbang ke acara mantenan, nyumbang ke pesta-pesta rakyat.

Padahal, nyumbang ialah tindakan yang bisa dilakukan individu. Tidak perlu menjadi kepala desa; asal kamu kaya atau rela, pasti kamu bisa nyumbang.

Problem ini bukan hanya ditemukan pada tingkatan lokal, tetapi juga pada tingkatkan nasional. Tindakan organisasi kenegaraan direduksi menjadi tindakan sebatas personal. Digambarkan kalau presiden suka nyumbang merupakan cerminan dari tindakan politik. Kalau menteri menghadiri acara mantenan warga, dianggap tindakan tersebut ialah tindakan politik.

Padahal, tindakan politik itu selalu berhubungan dengan perencanaan sistem dan pengambilan kebijakan yang sesuai dengan Pancasila. Pertanyaan saya, apakah para pejabat sudah melakukannya? Kalau cuma sekadar orang baik, Pak Ndul dari Semarang juga baik. Buktinya, dia ikut berkurban tiap tahun!

Jangan ulangi kesalahan masa lalulah. Kok warga yang bergotong royong membersihkan sampah desa dianggap sebagai cerminan Pancasila? Kalau cuma untuk itu, ya nggak harus bernegara!

Baca juga:

    Iwan Rahmat (Weins)

    Sarjana Teknik Mesin | Data Scientist | Aktif berdiskusi, ngopi, dan menaruh harapan besar terhadap kemajuan bangsa.
    Iwan Rahmat (Weins)