Pandemi “dan Kematian Makin Akrab”

Pandemi “dan Kematian Makin Akrab”
©NPR

Lelaki yang mengetuk pintu pagi hari
sudah duduk di ruang tamu. Aku baru
bangun tidur. Tapi rupanya ia tidak
merasa tersinggung waktu aku belum
mandi dan menemui dia. Rambutku masih
kusut dan pakaianku hanya baju kumal
dan sarung lusuh.
“Aku mau menjemput,” katanya pasti,
seolah-olah aku sudah berjanji sebelumnya
dan tahu apa rencananya.
“Bukankah ini terlalu pagi?” tanyaku ragu.
“Dia sudah menunggu!” Ia tampak tak sabar
dan sedang tak senang dibantah. Aku belum tahu
siapa yang ia maksudkan dengan “dia”,
tetapi sudah bisa kuduga siapa.
“Tetapi aku perlu waktu untuk berpisah
dengan keluarga. Terlalu kejam untuk
meninggalkan mereka begitu saja. Mereka
akan mencari.”
Nampaknya tamu itu begitu angkuh seperti
tidak mau dikecilkan arti. Siapa dapat lolos
dari tuntutannya.
Sebelum aku sempat berbenah diri ia telah
menyeret aku ke kendaraannya dan aku dibawanya
lari entah ke mana. Ke sorga atau ke neraka?

(“𝘛𝘢𝘮𝘶”—𝘚𝘶𝘣𝘢𝘨𝘪𝘰 𝘚𝘢𝘴𝘵𝘳𝘰𝘸𝘢𝘳𝘥𝘰𝘺𝘰, 1989)

Kematian itu paradoksal: ia dicintai serentak dibenci. Pada momen tertentu, ia begitu didambakan namun berusaha kita elak pada lain kesempatan.

Respons paradoksal itu dapat kita jumpai dalam dua sosok penyair ini: Chairil Anwar dan Subagio Sastrowardoyo. Tidak sedikit kritikus sastra Indonesia, terutama Goenawan Mohamad, menunjukkan bahwa dua penyair tersebut merupakan gambaran terdekat dari dua cara berpikir kita tentang kematian.

Yang satu, seperti Sartre, melihat kematian sebagai hal yang mengerikan, terutama dalam puisinya, “Nisan”. Sementara yang kedua, terutama dalam “Dan Kematian Makin Akrab”, melihat kematian sebagai sebuah siklus biasa dalam perjalanan hidup manusia.

Dalam masa-masa pandemi, ketika kematian terjadi di mana-mana, Subagio terasa begitu penting untuk dibicarakan karena alasan yang tidak masuk akal: penyair itu membahas kematian dengan kegairahan yang sama seperti membahas kehidupan.

Katanya, 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘳/𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘸𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘱𝘶𝘵/𝘨𝘢𝘨𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘢𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘪. Dengan kata lain, Subagio tampak sedang main-main dan bersantai, dan itu menampakkan kedewasaan matang Subagio dalam menanggapi kehidupan yang senantiasa berada dalam bayang-bayang maut.

Bukannya gelisah atau takut, bagi Subagio, maut semestinya dihadapi dengan berani. Dalam sajak “Daerah Perbatasan” misalnya, ia menulis, 𝘈𝘥𝘢 𝘣𝘢𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢/𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘮𝘶𝘥𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵/𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘶𝘨𝘶𝘳 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢./𝘋𝘪 𝘶𝘫𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘴𝘪𝘮 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶/𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘳𝘰𝘯𝘨𝘳𝘰𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵/𝘵𝘶𝘢, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢/𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘨𝘪𝘯. Rasa takut semestinya tak perlu ada jika kita menyadari bahwa terkadang, 𝘔𝘢𝘵𝘪 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢/𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯/𝘵𝘦𝘳𝘣𝘦𝘭𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘯.

Dari dua perspektif di atas, kita dibantu untuk memahami bahwa cara kita mendefinisikan kematian menunjukkan cara kita memahami makna kehidupan. Ini penting menjadi panduan bagi kita, terutama dalam menghadapi kematian yang tiba-tiba.

Bertolak dari kebutuhan itulah, pembahasan ini mengikuti dua klasifikasi antara lain: Pertama, dimensi biologis dan sosial dari kehidupan. Kedua, dimensi biologis dan sosial dari kematian.

𝐊𝐞𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐦𝐚𝐭𝐢𝐚𝐧 𝐁𝐢𝐨𝐥𝐨𝐠𝐢𝐬

Tanpa berpretensi menggurui Anda, kehidupan biologis dimengerti sebagai berfungsinya sel-sel dan saraf dalam tubuh Anda. Itu berarti, segmen paling signifikan dalam mendukung hidup biologis adalah pasokan nutrisi yang diperoleh melalui sektor pertanian, perikanan, dan peternakan.

Itu juga berbicara tentang keterkaitan antara tubuh, lingkungan, dan alam semesta. Ini biologi standar tentang kehidupan yang mesti dipahami oleh siapa pun, sebelum makna itu dimonopoli oleh institusi kesehatan yang dikuasai oleh WHO melalui big pharma dan biotech.

Setahun terakhir, melalui normalisasi tata kelola pandemi, makna kehidupan biologis direduksi sekadar menaati protokol kesehatan dan wajib mengantongi sertifikat vaksinasi. Tentu saja itu bukan berarti saya tidak percaya pada virus yang dinamakan Covid-19.

Hal yang menjadi persoalan utama di sini adalah kontroversi tata kelola pandemi, epidemi yang dibuat menjadi pandemi. Jika epidemi adalah penyakit menular yang berjangkit dengan cepat di daerah tertentu secara luas, maka pandemi adalah wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yang luas.

Tanpa disadari oleh sebagian besar orang, melalui mekanisme global terutama politik kedaruratan dari WHO, World Bank, dan Bill & Melinda Gates Foundation, secara cepat, Covid-19, epidemik yang awalnya menyebar di Wuhan, diterima sebagai pandemi.

Bersamaan dengan itu, kematian yang kaya dimensi sosial dan teologis direduksi ke dalam arti terhentinya kerja jantung dan paru-paru oleh patogen, nyaris tidak berbeda jauh dengan komputer yang rusak karena terserang virus.

Tidak berhenti di situ, jauh lebih baik daripada bangkai alat elektronik, tubuh yang mati karena virus diperlakukan secara teknokratis, sama persis dengan menguburkan patogen tersebut—tanpa upacara perpisahan dengan keluarga terdekat.

Agama sebagai satu-satunya tameng kita dalam mendefinisikan kehidupan dan kematian tampak tidak bisa berbuat apa-apa. Kematian yang direfleksikan sebagai pengalaman teologis yang indah sekejap hilang dan digantikan dengan fatalisme, sesuatu yang menyeramkan. Dalam kekatolikan, kematian kristus sebagai peristiwa kemenangan, tampak tidak relevan dalam beberapa hari terkahir.

𝐊𝐞𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐦𝐚𝐭𝐢𝐚𝐧 𝐒𝐨𝐬𝐢𝐚𝐥

Refleksi tentang kehidupan dan kematian biologis mengantar kita pada analisis selanjutnya tentang kehidupan dan kematian sosial. Itu berarti, Anda tidak dapat mengontrol panjangnya hidup Anda, tapi Anda dapat mengatur lebar, dalam, dan tingginya hidup Anda sendiri.

Jika kematian dipahami semata-mata sebagai berhentinya aktivitas sel dalam tubuh, maka kita terpaksa mendefinisikan kehidupan berdasarkan pemahaman yang diberikan oleh industri kesehatan. Keyakinan bahwa kita hidup bukan hanya karena minum obat melainkan karena ada hubungan saling terkait antara tubuh, lingkungan, dan alam semesta; dibuang jauh-jauh dari perhatian publik.

Dengan kata lain, untuk hidup, Anda harus rajin cuci tangan, pakai masker, menjaga jarak, dan bila perlu divaksinasi. Dimensi sosial Anda dilucuti sepenuhnya seperti seekor domba yang tidak bersuara ketika bulunya dicukur.

Situasi teknokrasi kehidupan dan kematian ini mengantar kita pada kesadaran lain bahwa manusia disebut makhluk hidup persis ketika ia berelasi dan membangun jaringan sosial politik dengan sesamanya di satu sisi dan menjaga hubungan yang harmonis dengan segala entitas di darat, udara, dan lautan di lain sisi. Itu berarti, yang awal bukanlah di dalam kelahiran, dan yang akhir bukanlah di dalam makam.

Orang menjadi hidup justru karena menemukan dirinya bernilai dan berharga di dalam relasi sosial yang terbentuk. Sayangnya, di hadapan pandemi, kita, manusia, dipaksa memilih: antara kesehatan dan ekonomi.

Lalu dalam sekejap, kita menjelma buas, tak ubahnya binatang yang saling mencurigai, dan saling menggasak satu sama lain.

Ketika merenungkan makna kebangkitan Yesus pada peristiwa Paskah, Subagio menulis dalam puisinya, “Paskah di Kentucky Fried Chicken”, 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘺𝘢𝘮 𝘨𝘰𝘳𝘦𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪/𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘣𝘢-𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘪/𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴 𝘥𝘪 𝘨𝘦𝘯𝘥𝘰𝘯𝘨𝘢𝘯—𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳/𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘳𝘦𝘬 𝘴𝘪𝘴𝘢 𝘳𝘰𝘵𝘪/𝘥𝘪 𝘵𝘰𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘮𝘶𝘬𝘢 𝘳𝘦𝘴𝘵𝘰𝘳𝘢𝘯?

Maksudnya, setiap hari, kematian sosial jauh lebih mengerikan daripada kematian biologis. Ini juga sekaligus mau menegaskan bahwa jangan sampai kematian yang tiba-tiba itu justru membuat kita keliru dalam memaknai apa itu kehidupan.

Pandemi mestinya menegaskan kembali bahwa yang penting bukan berapa lama kita hidup, tetapi bagaimana kita hidup. Anda boleh mati dengan cara apa pun, namun kenangan akan kematian bukan diukur dari bagaimana caranya Anda mati melainkan dari bagaimana Anda hidup.

Jika sains memberi tahu kita bahwa tulang dapat keropos dan sel-sel tubuh tak dapat memperbarui diri lagi maka manusia mati, agama hadir dengan pandangan lain bahwa kematian bukan sekadar meninggal. Dalam konteks sosial politik, di mana-mana, kita dapat menjumpai orang yang mati sebelum meninggal karena kemiskinan, penindasan rasial, eksklusi sosial, dan seterusnya.

Kematian sosial itu dilukiskan oleh Subagio dalam puisinya, “Kubu”, 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘮𝘣𝘪𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘦𝘵𝘪𝘬 𝘪𝘯𝘪/𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘢𝘺𝘪 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪/𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘳𝘢𝘬𝘺𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨/𝘸𝘢𝘣𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵—𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘪𝘯𝘪/𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨,/

Mengakhiri refleksi ini, kita mesti sadar bahwa hal yang terpenting bukanlah apakah kita hidup atau mati, tapi untuk siapa kita hidup, dan untuk siapa kita mati.

Mengapa demikian?

Dalam puisinya “Nada Awal”, Subagio menjawab, 𝘛𝘶𝘨𝘢𝘴𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘵𝘦𝘳𝘫𝘦𝘮𝘢𝘩/𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨/𝘥𝘪 𝘳𝘢𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘵𝘪𝘩. 𝘙𝘢𝘩𝘢𝘴𝘪𝘢/𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘤𝘢𝘱/𝘥𝘪 𝘱𝘶𝘯𝘤𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘱𝘪. 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘶𝘯/𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘵𝘢𝘬𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩. 𝘛𝘢𝘱𝘪/𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘮 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢/𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘥𝘶𝘩 𝘱𝘦𝘥𝘪𝘩.

Hans Hayon