Panduan Berciuman

Panduan Berciuman
©Liputan6

Judul tulisan ini bukan berisi panduan terkait bagaimana Anda menemukan cara yang paling tepat untuk mencium seseorang. Sebaliknya, isinya coba mengajak Anda berpikir tentang mengapa Anda memilih cara ini dibandingkan cara lain untuk mengungkapkan apa-apa yang ada di dalam pikiranmu, alih-alih melalui ciuman.

Sudah sering disebut bahwa ketika orang-orang saling berciuman, mereka berhenti berbicara. Tetapi jika ciuman itu adalah kata-kata, kira-kira apa yang hendak ia katakan kepadamu ketika kamu berciuman?

Tentu saja pertanyaan di atas sangat eksistensial karena berhubungan dengan keputusan (decision) Anda memilih antara melakukan dan tidak melakukan ciuman tersebut.

Jawaban pertama dapat kita temukan dalam Three Essays in the Theory of Sexuality karya Sigmund Freud di mana ia menjelaskan secara panjang lebar alasannya.

Penting di sini karena Freud fokus pada bagian tubuh tertentu untuk dicium yakni mulut. Ia menulis, “orang mencium orang lain di mulut karena dia tidak bisa mencium dirinya sendiri dengan cara itu.”

Sebuah jawaban yang sangat sederhana sekaligus masuk akal. Namun jika diteliti lebih dalam, betapa sederhananya pernyataan tersebut membuat ia makin sulit dijelaskan secara mendetail dalam bahasa yang mudah dipahami. Tetapi saya akan coba menjelaskannya.

Tentu saja, frasa “tidak bisa” pada kalimat “tidak bisa mencium dirinya sendiri dengan cara itu” mengisyaratkan keterputusan kita pada sosok ibu dalam Oedipus Complex. Keterputusan itu menghantui kita sejak kecil hingga dewasa di mana kita mencari pemenuhannya dalam berbagai bentuk di antaranya tindakan mengonsumsi, dan tentu saja, berciuman.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika melalui ciuman, terungkap kompleksitas kehidupan seseorang yakni karakter dan kepribadiannya.

Baca juga:

Lalu apa yang ingin dikatakan tulisan ini? Jawabannya bisa Anda tebak.

Kita hidup dalam zaman di mana hampir semua perilaku kita diukur berdasarkan dimensi transaksional atau pertukaran ekonomis. Namun demikian, dalam konteks psikoanalisis, melalui ciuman misalnya, menjadi sebuah solusi kompromistik bagi paradoks dan ambivalensi kita sebagai manusia: ambisi dan kegagalan kita menjadi subjek yang otonom.

Dalam hampir semua literatur yang mengaitkan psikoanalisis dan politik, dijelaskan bahwa kegagalan menjadi subjek merupakan momen produktif. Itu sama seperti melalui pertengkaran dan konflik, Anda bisa bangun rumah tangga sekalipun sampai mati pun kita merasa tak pernah cukup berhasil membangun rumah tangga yang ideal, sekurang-kurangnya dalam penilaian kita sendiri.

Tentu saja, penalaran di atas datang dari teori konflik punya Marx yang melihat bahwa terbentuknya masyarakat manusia bukan dari optimalisasi fungsi (fungsionalisme Herbert Spencer), legitimasi dan interkasi sosial (Max Weber), solidaritas dan integrasi (Emile Durkheim), melainkan dari konflik dan pertentangan (bukan kekerasan).

Akhirnya, ciuman di mulut dapat dilihat sebagai tindakan mutualisme yang pada gilirannya merobohkan batas antara tindakan “memberi” dan “mengambil” yang cenderung menjadi dimensi dominan dalam kehidupan kita pada era kapitalisme neoliberal hari ini.

Jika melalui ciuman Yudas dimulailah karya keselamatan Kristen, maka melalui ciuman Anda belajar membangun sebuah rumah tangga.

Satu-satunya jenis ciuman yang sulit diprediksi apa maknanya yaitu ciuman yang dilakukan oleh negara. Disebut demikian karena tidak sedikit para politisi dan birokratnya lebih sering tertidur duluan. Atau mengutip kalimat “mulutnya yang hangat dan lembab” dari Bob Dylan ketika bernyanyi tentang sebuah ciuman, kita menyadari fakta ini: tidak semua yang hangat itu lembab.

Baca juga:
Hans Hayon
Latest posts by Hans Hayon (see all)