Pannekoek Kalibayem

Pannekoek Kalibayem
©Ist

Perimeter pertahanan sekitar rawa dan bendungan Kalibayem yang mereka jaga cukuplah solid untuk tidak terendus dan tertembus Belanda yang sibuk di kota Jogja dengan agresi militernya.

Aroma keju Belanda rombutter mewangi di sekitar dapur sederhana itu. Perempuan paru baya tampak bersemangat mengaduk adonan.

Di lantai yang kusam itu, beberapa cangkang telur ayam berserakan, sekaleng susu kental manis terbuka kosong, dan seekor anjing yang sedang mendengkur.

Sedang di serambi, berisik dengan radio siaran dari pemancar MAVRO (Mataramse Vereniging Voor Radio Omroep), gegap gempita membakar perjuangan jelang Agresi Militer Belanda II di Jogja tahun 1948 itu.

Ada dua pria kurus kerempeng duduk berhadapan mematung, laksana mbah dukun dan pasiennya. Asap yang mengepul bukanlah dupa, namun dua sigaret keretek yang enggan terbakar. Berkali-kali keduanya menyulut ulang hingga merah membara.

“Ahh, tembakau layu!” keluh Ramlan.

“Berapa sekarang?” tanya Yoso.

“Gratis,” jawab Ramlan sambil tarik napas dalam untuk persiapan isapan berikutnya.

Sambil asyik antara hidup-matinya bara ujung rokok, keduanya masih tetap duduk berhadapan.

“Loh, kok gratis?” Yoso keheran.

“Salah simpan. Itu hasil ambil saat ritual among tebal,” jelas Ramlan.

“Setahun yang lalu?”

“Ya.”

Ramlan, seorang kejawen tulen, suka sekali menghadiri acara-acara ritual, khususnya yang berhubungan dengan kesukaannya itu, tembakau.

Among tebal bagi penduduk sekitar Gunung Sumbing-Sidoro-Prau adalah ritual sakral terkait tembakau. Kesakralan didedikasikan kepada Ki Ageng Makukuhan, orang suci yang dipercaya sebagai orang pertama yang memperkenalkan bibit tembakau yang ia perolehnya dari Sunan Kudus.

Setali tiga uang dengan si Ramlan, Yoso juga sama saja. Malah ia sempat berburu ritual tembakau hingga ke pulau Madura untuk ritual katandur. Nama ritual ini diberikan oleh Habib Ahmad Baidlowi, sosok yang kemudian dikenal menjadi cikal bakal pengembang tanaman tembakau di Pulau Garam itu sejak abad ke-12.

Sebenarnya bukan karena tembakaunya yang dibagi gratis pada setiap ritual yang mereka ikuti, namun lebih dari itu. Menurut mereka berdua, pengisap tembakau hasil ritual di kedua acara tersebut panjang umur!

Terbukti beberapa kali kontak senjata di garis depan Operatie Kraai (Agresi Belanda ke-1), mereka berdua hingga kini sehat-sehat saja. Tak sebutir peluru pun yang mampu menggores keduanya.

Kembali suara keretek tembakau layu itu beradu, saling meletup ke udara sejuk lembahan Kalibayem pagi siang itu. Suaranya letupan keretek itu bersaing dengan bunyi adonan gosong dari perempuan paruh baya yang kini mencak-mencak setengah kesurupan.

“Wah, kau lihat si Yoso saja, Rus!!” sergap si Ramlan.

Rusni salah tingkah. Adonan panganan panenuk ala Belanda itu gosong di atas loyang. Mentega mahal itu hancur cita rasanya. Seperti bau ketela gosong saja.

Tanpa ampun, Rusni meringsek ke arah mereka.

“Ni, makan!” Rusni menaruh saja panganan panekuk yang kelam berarang itu di depan mereka berdua sambil ngeloyor ke arah sungai.

“Waduh…”

“Parah…..”

Rusni, setengah gigih praktik panganan pannekoek (panekuk) Belanda itu, dan hasilnya, seperti merah wajahnya. Kreasi panganan itu ia baca dari sobekan resep yang tercetak di koran yang kini sudah diremas-remas oleh Rusni.

“Kalau ngasih resep yang benar, Yos!!” cercah Ramlan.

“Mending makan singkong rebus daripada ini,” seloroh Yoso sambil terus mengunyah panganan gosong itu.

Tak disangka, ternyata resep panganan itu dari koran Jogja Vooruit yang sedang dibaca dari pejuang Kalibayem itu. Siapa lagi kalau tidak si Yoso, si kutu koran.

Mereka bertiga adalah laskar-laskar Indonesia yang memperkuat pertahanan Kalibayem dan akses pabrik besi Wilson. Pabrik itu sedang memproduksi sesuatu yang sedang diburu oleh Belanda.

Perimeter pertahanan sekitar rawa dan bendungan Kalibayem yang mereka jaga cukuplah solid untuk tidak terendus dan tertembus Belanda yang sibuk di kota Jogja dengan agresi militernya.

Sinar matahari di terik siang itu menguapkan air Kalibayem. Tampak di kejauhan pesanggrahan Ambarbinangun, tempat peristirahatan keluarga Kraton Yogyakarta.

Bangunan pesanggrahan itu dulu menjadi tempat beristirahat atau bermalam bagi para pejabat atau pegawai pemerintah Hindia-Belanda yang sedang melakukan perjalanan dinas ke daerah-daerah yang tidak memiliki fasilitas hotel atau penginapan.

Sekarang dikuasai penuh oleh pejuang. Sudah tidak ada lagi kewajiban bagi penduduk di Jawa untuk melakukan kerja wajib heerendienst, ataukerja paksa untuk merawat pesanggrahan tersebut.

Bangunan kokoh itu terlihat bergaya arsitektur tajam berkarakter. Setajam bendungan di sisi lain itu, yang dibangun Sri Sultan Hamengkubowono ke-7 pada tahun 1890 Masehi.

Bendungan sepanjang 700 meter berbahan batu bata itu mengatur aliran air Sungai Kalibayem yang dendritik sepanjang kurang lebih 6 kilometer itu, mengalir sepanjang rawa-rawa yang ikut menghiasi sungai tersebut hingga arah tenggara Sidorejo.

Rusni berdiri mematung di bendungan itu. Matanya tajam selidik sebuah perahu bermotor milik Belanda yang tertambat di situ. Perahu produksi Dalson 1940 itu sengaja dipakai oleh tuan-nyonya Belanda untuk menikmati panorama Kalibayem.

“Bagaimana kabar utusan Ginagan?” tanya tiba-tiba Ramlan yang muncul dari belakang Rusni.

“Beres,” jawab Rusni yang sibuk memasang beberapa batang dinamit di badan perahu motor itu.

“Jangan sampai bocor informannya.”

“Siap.”

Sedang jauh di dalam kota, sebuah pabrik pengecoran besi Wilson, para pekerja membabi buta menyelesaikan rancangan barang yang berukuran panjang 7 meter, lebar 1 meter, dan berat 5 ton.

“Prototip bau Jerman!”

“Merdeka, Bung!”

Orang-orang berotak Kriegsmarine itu saling memberi semangat. Ruangan pengap penuh cipratan kembang api dari bara-bara pengelasan saling-silang membentuk pestanya sendiri.

“Ginagan mana?” tanya seorang bertubuh jangkung dengan setelan necis itu.

“Periksa mesin Fiat,” jawab seorang pekerja telanjang dada itu.

Keringatnya seakan berpendar oleh semburan percik-percik las. Sepertinya sudah kebal percikan. Mungkin tak sepanas pelor yang pernah bersarang di rusuknya itu. Luka jahit itu makin indah saja dengan endapan daki yang membentuk lukisan tertentu.

Orang bernecis itu langsung menghambur keluar, ingin cepat-cepat menghubungi Ginagan. Sepertinya ada yang sangat penting ingin disampaikan.

Yang sering disebut-sebut sebagai Ginagan itu, sekarang lagi memeriksa sebuah mesin truk merek Fiat berkekuatan 4 PK. Dia akan membenamkan mesin itu pada rancangan rahasia di parik besi Wilson tadi.

Penampilan orangnya kalem, tampak kecerdasan menghiasi sorot matanya yang tajam.

“Putaran torsinya cukup?”

“Cukup, Pak!”

“Pastikan mampu memompa air keluar dari tangki pemberat.”

“Siap, Pak!”

“Gan!!” Orang necis tadi setengah berlari menemui Ginagan.

“Hi, Bung.” Keduanya berjabat tangan hangat.

“Bagaimana kabar Gemeentelijke Zeevaartschool?

“Den Helder tetap seperti dulu, Bung, penuh pembelot!” sambil terkekeh, pria necis itu menjawab.

“Mau dinamai apa prototipemu itu, Bung?”

“Ah, tanpa nama saja,” jawab Ginagan yang pernah diusir dari Belanda pada Desember 1946 itu.

“Blokade Belanda terhadap kapal-kapal kita harus ditembus!”

“Merdeka!!”

“Itu yang penting, Bung!”

“Jangan lupa ambil munisi yang 5 meter itu di Maguwo!”

“Baik, Gan.”

Pria necis perlente itu langsung pamit menuju Maguwo. Pikirannya dipenuhi rumus-rumus peluru dengan jarak tembaknya sekitar 1 mil. Jarak yang luar biasa dalam sejarah demolisi bawah air.

Keesokan harinya, masih di lembahan Kalibayem yang sejuk, tampak di pojok semak dua orang bersitegang tentang sesuatu.

“Bagaimana gak bisa mampus dia?”

“Sumpah, Bang, sudah kumasukkan racun di panekuk itu!”

“Ah! Kau pasti sudah digagahi si bangsat itu!”

Tampak di kejauhan, susunan rel darurat tersambung tak sempurna, dari bantaran Kalibayem hingga pabrik Wilson yang sedang menggarap benda unik tersebut.

Sepertinya untuk mengangkut benda aneh seberat 5 ton dari pabrik Wilson ke bantaran sungai Kalibayem. Benda yang kini dicari-cari Belanda untuk cepat segera dirampas atau dihancurkan.

Tanpa banyak perdebatan yang panjang, si pria itu langsung menikam lawan bicaranya tadi. Diseretnya saja mayat itu, dan dinaikkan ke perahu motor yang berdinamit itu. Ditutupi sedemikian rupa hingga tak terlihat mata telanjang.

Baca juga:

“Beres,” gumamnya sendiri.

“Harus kuhabisi sendiri,” lanjutnya sambil membersikan pisau bayonet dengan air Kalibayem yang jernih itu.

Matahari mulai naik, bunyi berderit memecah kesunyian lembahan Kalibayem yang sunyi. Hanya jeritan perempuan tertikam tadi yang cukup melengking, membuat beberapa burung terbang menghindar.

Beberapa tamu kehormatan dan pejabat militer serta puluhan pejuang sudah memenuhi tepian Kalibayem. Mereka tak pernah tahu, baru beberapa jam yang lalu, airnya ternoda darah anak bangsa.

Para pejuang memang berhasil membuat ring pertahanan yang solid. Namun, mereka tak akan pernah percaya bahwa salah satu pejuang tewas pagi itu.

“Saudara-saudara, siang ini, kita akan saksikan karya anak negeri yang akan membobol blokade Belanda di laut kita.” Pidato sambutan itu melengking bak derit roda di rel lori di kejauhan yang mengangkut benda aneh seberat 5 ton itu.

Beberapa menit kemudian, derit roda lori berhenti di kejauhan. Karena jarak yang cukup jauh, yang terlihat oleh hadirin hanya bayang-bayang mengkilat di kejauhan yang diderek turun ke sungai Kalibayem.

Hadirin makin penasaran ketika benda yang setengah menyelam itu mendekat. Bunyinya begitu berisik membelah arus sungai Kalibayem.

“Itu Ginagan!!”

“Merdekaaaa…!!!”

Benda aneh makin mendekat, yang terlihat hadirin hanyalah kepala Ginagan yang menyembul di ruang kemudi benda aneh itu. Kemudian dengan tenang, seluruh kepalanya masuk ruang kemudi dan menutup palka logam tebal itu.

Benda itu tak sepenuhnya mampu menyelam, meninggal tonjolan yang mudah sekali terbidik senapan.

Van rakettijd!!!” (terpedonya!!)

Aba-aba itu membuat hadirin agak mundur dari tepian sungai. Benda aneh itu siap meluncurkan terpedo sepanjang 5 meter yang diambil oleh pria necis di lapangan terbang Maguwo kemarin.

Tetapi ketika torpedo dicoba untuk dilepaskan, ternyata handel pengikat tidak mau melepaskan dan torpedo tetap terikat. Akibatnya, benda aneh itu malah terseret terpedonya sendiri!

O mijn God!!!!” teriak beberapa pejabat turunan Belanda yang hadir.

Benda aneh itu langsung menghantam pinggiran sungai, terhenti dengan kerusakan lambung yang tak berarti. Begitu kokoh kontruksinya, hingga terpedo pun tak mampu membawanya lebih jauh.

Bersamaan dengan kekacauan tersebut, terdengar ledakan yang cukup keras. Beberapa dinamit yang dipasang Rusni di perahu bermotor tempo hari menyalak. Entah siapa yang memicuh detonatornya.

Seketika raungan sirene tanda bahaya menjerit dari seberang. Ternyata ledakan cukup keras itu memancing Belanda yang sudah menduduki Jogja untuk mendatangi sumber ledakan.

Hadirin panik, laskar pun begitu. Pos-pos pertahanan yang sedikit melonggar akibat beberapa penjaganya ikut menyaksikan uji coba benda aneh itu mulai ditembus Belanda.

Dalam sekejap, Belanda datang ke Kalibayem dengan kekuatan penuh. Benda aneh itu langsung diangkut menuju kota. Belanda pun mengejek dengan penuh kesombongan lewat siaran-siaran radionya, “Wah, orang Indonesia, di kali, membuat kapal selam dari drum.”

Prototipe kapal selam pertama Indonesia itu akhirnya diangkut ke Semarang oleh Belanda, dan hingga kini tak tahu rimbanya.

Sementara di sebuah ruangan yang cukup gelap, asap tebal tampak terang oleh secercah cahaya yang menerobos dari atas ruangan itu. Asap tebal kali ini tidak berbau rokok keretek, namun bau dupa yang sangat menyengat. Tampak Ramlan duduk bersila sambil mulutnya komat-kamit membaca mantra.

Di sampingnya tergeletak tumpukan uang ORI pecahan 100 rupiah bergambar Soekarno, dan beberapa bungkus tembakau-tembakau yang disusun aneh bak sebuah candi.

Rokok-roki, rokok bernama si raja wadun, tembakaunya bernama si raja nila, asapnya bernama si lam putih, tersebut buat saya meluluhkah serta melunturkan diri si……”

Suara itu melirih, bersamaan dengan masuknya beberapa laskar Merah Putih yang mendobrak pintu kayu itu.

“Pengkhianat!!!”

Yudho Sasongko
Latest posts by Yudho Sasongko (see all)