Para Pembenci NU

Para Pembenci NU
Gus Dur (nu.or.id)

Para pembenci NU tidak pernah hilang. Ketika ada peluang, Gus Dur pun disingkirkan. Mereka mau berkoalisi dengan Megawati asal mendapat jatah kekuasaan.

Nalar Warga – Sejak awal NU didirikan sebagai bentuk perlawanan terhadap penyeragaman. Dalam konteks dunia Islam ketika itu, pihak yang mau melakukan penyeragaman adalah para ulama Wahabi yang berkolaborasi dengan rezim penguasa Saudi. Mereka menilai umat Islam kalah karena tercerai berai. Mereka berpendapat umat Islam hanya akan menang bila bersatu dalam satu barisan.

Paham mengenai persatuan Islam itu bergaung hingga ke Indonesia. Di sini, segera setelah kemerdekaan, para tokoh Islam membangkitkan kembali Masyumi sebagai satu-satunya wadah politik umat. Dibayang-bayangi persaingan dengan kaum nasionalis sekuler, Masyumi mengklaim dirinya sebagai wakil Islam dalam politik.

Akan tetapi, tanpa perlu menunggu lama, terbukti kepemimpinan Masyumi dikuasi oleh kelompok Islam modernis. Para tokoh NU tersingkir. Akhirnya pada 1952, NU memutuskan keluar dari Masyumi dan membentuk partai politik sendiri.

Keputusan NU tersebut membuat marah para pemimpin Masyumi. Sejak itulah mereka membenci NU. Organisasi Islam tradisional ini dituduh oportunis-pragmatis. Tuduhan ini semakin menjadi-jadi ketika NU tergabung dalam aliansi Nasakom Soekarno, sementara pada saat yang sama Masyumi dibubarkan karena para pemimpinnya terlibat pemberontakan.

Kebencian terhadap NU terus berlanjut. Terutama ketika NU dipimpin oleh Gus Dur, anak keturunan Masyumi sudah terkonsolidasi setelah sebelumnya tiarap karena tekanan politik penguasa. Di akhir masa kekuasaan Soeharto, mereka sudah siap kembali memasuki gelanggang merebut kekuasaan.

Masalahnya, mereka tidak mempunyai pemimpin yang kuat. Selepas M. Natsir, anak keturunan Masyumi adalah sekelompok kaum profesional yang kurang terlatih memobilisasi massa. Makanya dengan terpaksa mereka mendukung Gus Dur sebagai presiden di tengah situasi transisi politik yang membingungkan.

Namun, para pembenci NU tidak pernah hilang. Oleh karena itu, ketika ada peluang, Gus Dur pun disingkirkan. Mereka mau berkoalisi dengan Megawati asal mendapat jatah kekuasaan.

Belakangan muncul Habib Rizieq Shihab. Tokoh ini pada awalnya kurang diperhitungkan karena hanyalah seorang habib preman dari Petamburan.

Namun, karena kekosongan kepemimpinan populer di kalangan Alawiyyin setelah wafatnya Habib Mundzir, Habib Rizieq Shihab dengan cerdik mengambil alih posisi itu. Kancah pilkada DKI Jakarta yang sangat brutal meroketkan Habib Rizieq Shihab ke puncak, sebelum akhirnya jatuh hingga membuatnya harus lari ke pengasingan.

Anak keturunan Masyumi yang sekarang semakin canggih di era internet memanfaatkan dinamika tersebut untuk menghajar NU. Bagi mereka, NU tetap merupakan kerikil dalam sepatu. Hingga kini, NU tetap dianggap batu sandungan dalam mewujudkan imajinasi persatuan Islam.

Namun, sekali lagi, anak keturunan Masyumi ini tidak mempunyai tokoh populer yang siap diadu di lapangan keagamaan. Syukurlah sekarang ada Abdul Somad. Latar belakang kulturalnya sebagai orang NU cocok dijadikan bingkai sebagai proxy war dalam menggembosi NU dari dalam.

*Amin Mudzakkir

___________________

Artikel Terkait: