Para Senior Kampret

Senior Kampret
©Kompasiana

“Di dalam dunia kerja, tidak ada istilah senioritas.” Ungkapan semacam ini tentu sudah sangat sering kita dengar. Teruntuk para karyawan yang baru melabuhkan dirinya di dalam dunia kerja. Ungkapan yang bisa dikatakan sebatas formalitas, untuk menutup-nutupi kelicikan entitas ‘senior-itas’.

Istilah senior bukanlah istilah yang tabu bagi kita semua. Teruntuk rekan-rekan yang pernah mengeyam pendidikan di perguruan tinggi, tentu istilah senior menjadi irama yang selalu membumi di ruangan-ruang organisasi.

Bukan hanya di tubuh organisasi sekelas kampus, di dalam organisasi sekelas perusahaan pun kosakata ‘senior’ juga sangat tidak asing untuk kita dengar.

***

Senior itu semacam menuju pada makna kelebihan suatu tingkatan struktural. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata senior merujuk pada makna lebih tinggi dalam pangkat atau lebih matang dalam pengalaman dan kemampuan.

Tapi perlu kita catat bersama, matang di sini bukan senaknya saja petantang-petenteng untuk menindas yang belum matang. Semua kita bisa bersepakat bahwasanya kematangan pengalaman setidaknya membuat seseorang akan memperbaiki dan menginstropeksi sesuatu hal supaya tidak terulang lagi kesalahan yang sama di masa yang akan datang. Bukan hanya bagi dirinya saja, tapi juga bagi orang-orang yang memiliki satu tujuan yang sama, atau pekerjaan yang sama.

Pengalaman sebagai dasar untuk mengatasi pemasalahan yang terjadi di kehidupan berikutnya. Dan menghindari dari lubang-lubang masalah, supaya tidak terjebak pada kondisi yang sama.

Bukan justru meninggalkan beban masalah bagi orang-orang baru atau yang sering disebut junior itu. Terkadang banyak di antara kalian para senior memiliki mindset, bahwa apa yang terjadi pada mereka di masa lalu itu harus dirasakan pula bagi mereka (junior) di masa sekarang.

Atau kita sering mendengar; “Ah, apa yang kalian rasakan sekarang belum ada apa-apanya dibandingkan yang terjadi pada kami di masa itu.”

Why? Apa hebatnya ketika seseorang merasakan masalah atau penderitaan yang sama? Bukankah itu kebodohan yang amat nyata? Ketika kita membiarkan penderitaan dan kesalahan yang sama secara berlarut-larut. Dan buruknya lagi ketika senior merasa bangga jika ada orang mengalami suatu peristiwa yang sama dengan apa yang telah ia alami dulu.

Sadarlah, para senior-senior! Tidak bisakah kita mengambil pelajaran dari Georg Hegel, yang percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini terus bergerak: setiap kehidupan individu, alam, sejarah, dan masyarakat?

Setiap era memiliki semangat zamannya masing-masing. Zaman Anda dan zaman saya punya dimensi dan ruang tersendiri alias zeitgeist masing-masing yang khas dan berbeda-beda. Suatu zaman yang bersejarah tidak secara gamblang diikuti begitu saja oleh generasi pada zaman berikutnya.

Jika pengalaman masa lalu yang terjadi pada masa kalian tujuannya untuk mendidik, itu baik. Tapi tidak untuk diulang, jika diulang metodenya haruslah berubah. Sesuai dengan semangat zamannya. Jangan terlalu memfinalkan metode pengalaman masa lalu. Kebenaran yang bersumber dari pengalaman tidaklah final, karena sejatinya ilmu pengetahuan itu terus berkembang dan mengalami perubahan.

Kehebatan-kehebatan kalian pada masa lalu dalam mengelola organisasi atau korporasi, di zaman kami mungkin itu sudah basi! Kami punya metode dan cara tersendiri.

***

Jangan terlalu bangga dengan entitas senior. Yang terus berlindung dibalik ke-tua-an dan pengalaman. Jangan semaunya saja men-judge junior atau orang-orang baru itu atas dasar ke-muda-an usia dan pengalamannya.

Sudahi berkata-kata kepada kaum muda atau senior; “Ah, kami ini sudah tua. Kalian lagilah yang baru-baru.” Tapi ketika junior itu berbuat salah, kalian juga menyentil; “Ah! Kalian masih muda-muda tapi semangatnya loyo kayak orang tua, jangan kalah sama kami.”

Ungkapan itu bukanlah motivasi, bilang saja kalau kalian tidak mampu atau malas, lalu melempar tanggung jawab. Karena ketika kalian para senior yang berbuat salah, maka dalil sakti kalian seperti tidak mau disalah; “Kami ini sudah tua, jadi sudah tidak fokus lagi….Blablabla.”

Para senior selalu menjadikan usia dan pengalaman sebagai tameng untuk berlindung dari tangung jawab dan kesalahan. Sehingga orang-orang baru atau junior itu sering menjadi korban kelicikan kalian para senior.

***

Teruntuk para junior, jika kalian berada pada fase yang sama, apa kalian akan pada posisi yang sama seperti senior-senior itu? Bijaklah kita semua. Jangan sampai entitas senior bersanding dengan kata kampret. Kalian tahu, bukan, apa itu kampret?

Kampret itu kelelawar kecil pemakan serangga yang ukurannya jauh lebih kecil. Secara pengalaman kalian para senior mungkin memiliki sepak terjang yang lebih besar dari kami para junior. Tapi kalian bukan kampret, kan?! Yang hobinya memakan atau menindas orang-orang yang memiliki pengalaman yang masih sedikit dan kecil.

Jika kalian masih suka melakukan hal demikian, maka pantaslah sebutan kalian “Para Senior Kampret”. Sebagai apresiasi dari kami para junior, ada puisi indah untuk kalian para senior.

Titah disiulkan dengan gegabah
Tak bisa diubah apalagi disanggah
Menyanggah berakibat ‘salah’

 ‘Benar’ pondasinya pengalaman
Yang tak berpengalaman
dianggap tak punya nilai kebenaran

 Suara bawahan dilayang salah
Suara atas dipandang gagah
Kalian memang nyaring tapi kering
Kalian memang gagah tapi latah

Mahadir Mohammed
Latest posts by Mahadir Mohammed (see all)