Paradoks Merdeka Belajar

Paradoks Merdeka Belajar
©Facebook

Kita tidak pernah merdeka belajar.

Mengapa?

Pertama, karena kita tidak mau, bahkan takut belajar Bahasa Inggris. Padahal, banyak konten berkualitas justru dibuat dan didistribusikan menggunakan Bahasa Inggris.

Kedua, bergantung pada algoritma media sosial.

Siapa di antara kita yang ketika mengakses aplikasi facebook, Instagram, YouTube dan Google misalnya, karena kita ingin mencari pengetahuan baru dan bukan hanya sekadar pasrah mengonsumsi konten yang ditawarkan oleh algoritma pada timeline atau beranda aplikasi? Dibahasakan secara berbeda, apakah platform ini kita gunakan secara proporsif—bertujuan?

Ketiga, terbuai pada viralitas yang menjelaskan betapa kita kehilangan kapasitas untuk berpikir secara mandiri karena menggantungkan sepenuhnya kemampuan berpikir, bertindak, dan penilaian kita pada selera massal.

Contohnya: kita akan merasa bersedih atau bersuka cita pada sesuatu hanya ketika banyak orang menangis atau tertawa pada sesuatu itu.

Secara perlahan, kita kehilangan kapasitas untuk menilai dan memahami apa itu keindahan, duka cita, kemesraan, kesederhanaan, dan kerendahan hati.

Keempat, terbatasnya insentif lingkungan di mana kita berada, baik di rumah maupun komunitas pergaulan di masyarakat. Ini membuat proses belajar kita terhambat dan tidak berkelanjutan, apalagi kegiatan belajar itu kita lakukan secara individual dan bukan sebagai sebuah gerakan kolektif-kolegial.

Kelima, jika fenomena ini tidak diantisipasi melalui adanya inisiatif—baik itu dari negara melalui lembaga pendidikan termasuk para guru dan keluarga, maupun inisiatif pribadi—ke depan, kita akan menjadi generasi class of irrelevance, kelas yang tidak relevan di hadapan perubahan dunia yang serba mendadak.

Baca juga:
    Hans Hayon
    Latest posts by Hans Hayon (see all)