Partai Politik dan Kecenderungan Oligarki dalam Birokrasi

Partai Politik dan Kecenderungan Oligarki dalam Birokrasi
Buku "Partai Politik" karya Robert Michels

Selalu ada kecenderungan oligarki dalam birokrasi. Buku Robert Michels ini, Partai Politik, memperlihatkannya begitu apik. Ia kemukakan soal “hukum besi oligarki” dalam partai politik.

Dalam prakata-nya, Michels menegaskan, ada banyak persoalan penting yang mencuat di kehidupan sosial-politik kita. Tetapi, sebagai satu persoalan, ini justru mendorong manusia untuk membuat rumusan yang lebih seksama, selain juga telah memperoleh makna baru melalui penumpahan segenap energi hanya guna menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut.

“Konon, prinsip kebangsaan diciptakan untuk mengatasi persoalan-persoalan rasial, yang secara terus-menerus mengancam, khususnya Eropa. Hanya saja, di wilayah ekonomi, masalah sosial ternyata lebih mengancam perdamaian dunia ketimbang masalah kebangsaan.”

Partai politik menjadi salah satu pemasok “hukum besi oligarki”. Ada banyak fakta di mana kecenderungan dominasi (penguasaan) dimainkan oleh sekelompok kecil orang (minoritas). Dan, bagi Michels, kecenderungan oligarki tersebut muncul dalam empat dimensi politik: organisasi, kepemimpinan, hubungan organisasi dengan rakyat, dan kekuasaan pemerintahan.

Elite, dalam pandangan Michels, adalah mereka yang bernaung di tubuh birokrasi partai politik. Meski jumlahnya hanya segelintir, tetapi mereka punya kekuatan dan kekuasaan yang sangat besar dalam menentukan arah kehidupan bersama.

Meski tidak terlalu memberi ruang yang lebih luas dalam menjelaskan konsep elite, pemikiran Michel dalam Partai Politik tetap patut jadi rujukan untuk melihat kecenderungan oligarki ini. Colin MacAndrew melalui Perbandingan Sistem Politik, memaparkan dua faktonya:

  • Kekuasaan dalam masyarakat terdistribusikan dengan tidak merata dan hanya dimiliki oleh orang atau sekelompok orang yang disebut elite.
  • Secara internal, elite bersifat homogen, bersatu, dan memiliki kesadaran kelompok serta mengatur sendiri kelangsungannya dan oleh karena itu elite menjadi otonom.

Akhirnya, prinsip pemerintahan sendiri, sendi dasar demokrasi, memunculan pandangan bahwa semua itu merupakan alat yang melengkapi penyelesaian persoalan kebangsaan. Karena prinsip kebangsaan mengantarkan gagasan akan keberlakukan praktik-praktik pemerintahan rakyat.

Kini, pengalaman memperlihatkan, tiada satu pun dari penyelesaian itu mampu mencapai pengaruh. Pentingnya prinsip kebangsaan ini tidak dapat disangkal. Dan memang sangat banyak masalah nasional yang dihadapi negara-negara yang dapat dan semestinya diselesaikan sesuai dengan prinsip ini.

Tetapi, persoalannya dipersulit dengan pertimbangan geografi dan strategis, seperti kesulitan di dalam menentukan batas-batas alam dan acap untuk membangun benteng-benteng strategis. Apalagi prinsip kebangsaan tidak dapat membantu kita di mana kebangsaan hampir tidak ada atau di mana mereka berada di antara kekusutan yang tak dapat dielakkan.

Pada persoalan ekonomi yang bersangkutan, telah ditawarkan sejumlah penyelesaian yang berbeda dengan aliran pemikiran sosialis. Karena rumusan hak untuk memproduk tenaga buruh secara keseluruhan adalah salah satu hal yang lebih mengandung paduan (sintesis) daripada analitis.

Tentang Partai Politik

Studi ini (Partai Politik) tidaklah mencoba untuk menawarkan suatu sistem baru. Karena memang, bukan tujuan prinsip ilmu pengetahuan untuk menciptakan sistem, melainkan lebih untuk mengedepankan pengertian.

Robert Michels pun tak bermaksud untuk menghakimi moral suatu partai politik atau sistem pemerintahan pada tingkat dakwaan kemunafikan. Kadang-kadang merupakan sesuatu kekhususan yang hakiki dari semua pengelompokan manusia untuk menentukan, seperti setiap hukum sosial lainnya, mana baik dan yang buruk.

Meski demikian, kajian tentang partai politik ini merupakan suatu cabang baru dalam ilmu pengetahuan. Ia berada di antara bidang ilmu sosial, filsafat—psikologi, dan disiplin sejarah, dan mungkin dinamakan sebagai suatu cabang sosiologi terapan.

Di dalam pengamatan perkembangan partai politik hari ini, tampak bahwa aspek kesejarahan pada cabang baru ilmu ini telah menerima perhatian yang penting. Penulisan sejarah telah dilakukan terhadap berbagai partai politik di dunia Barat.

Akan tetapi, manakala kita mempertimbangkan analisis tentang sifat dasar partai politik, maka kita mendapatkan bahwa bidang tersebut amat sukar disentuh. Untuk menjembatani kesenjangan di dalam ilmu sosiologi itulah pekerjaan ini ditujukan.

Tugas yang tentu tidak mudah. Begitu banyak bahan yang dibutuhkan untuk didiskusikan tentang berbagai kesulitan, pengenalan secara sederhan pun tampaknya hampir tak dapat diatasi. Michels menolak untuk berurusan dengan persoalan yang luas dan rumit itu, sekadar untuk memisahkan diri daari pertimbangan yang menunjukkan ciri yang penting.

Nyala peperangan telah melemparkan sorotan kesialan pada organisasi militer dan ekonomi negara-negara yang terlibat, selain memendamkan partai poliitk di dalam bayangan. Pada saat itu, partai politik ditenggelamkan oleh berbagai bangsa.

Akan tetapi, hampir tidak perlu mengatakan bahwa segera setelah perang berakhir, kehidupan partai akan diupayakn kembali, dan bahwa perang akan mengakibatkan menguatnya kecenderungan karakteristik pada partai.

Judul: Partai Politik; Kecenderungan Oligarkis dalam Birokrasi
Penulis: Robert Michels
Penerbit: C.V. Rajawali, Jakarta (Cet. I, 1984)
Tebal: lxxvi + 454 hlm.

___________________

Artikel Terkait:
Mimin NP
Latest posts by Mimin NP (see all)