Pasar Bebas dan Oligarki

Pasar Bebas dan Oligarki
©Lens News

Sekali waktu saya pernah ngobrol sama orang yang usianya sudah 50-an tahun, pemilik warkop yang dulu sering saya kunjungi. Dia bilang, pasar bebas itu membuat terciptanya oligarki dalam ekonomi.

Saya tanya, apa maksudnya oligarki? Dia bilang, segelintir orang/perusahaan yang memegang kendali atas pasar. Setelah itu saya tanya lagi, apa maksudnya pasar bebas? Dia bilang, sistem kapitalisme dalam ekonomi.

Ya, definisinya tidak sepenuhnya salah, sih. Cuma kemudian saya tanya lagi, kalau pasar dikendalikan oleh segelintir orang, lantas dari mananya pasar itu bebas? Bukankah pasar bebas mensyaratkan tidak ada penguasa tunggal ataupun mutlak atas pasar? Di mana pertukaran jasa dan penawaran bersifat bebas dan minim regulasi?

Bahkan dalam tahap ekstrem, pasar bebas tidak mensyaratkan negara sama sekali (seperti keyakinan para anchap, anarcho-capitalism). Di sinilah perdebatan panjang saya dengan pemilik warkop ini.

Saya jelaskan bagaimana asbabun nuzul dari penulisan The Wealth of Nation oleh Al Mukarom Habib Adam bin Smith, misalnya. Smith menuliskan karya legendarisnya itu sebagai kritik atas perdagangan merkantilisme saat itu, yang melibatkan otoritas kerajaan sebagai pelindung atau pengayom. Hasilnya bukan peningkatan kemakmuran, malah membentuk kongsi dagang yang erat dengan kongkalikong satu sama lain. Kita sudah tidak asing soal bagaimana VOC rubuh, kan?

Itulah kenapa kemudian Smith menggagas ide pasar bebasnya. Justru karena ingin menghilangkan praktik dagang yang khas kongkalikong antara swasta dengan kerajaan. Suatu praktik yang dianggap Smith memunculkan sistem ekonomi yang rawan korupsi.

Hal ini masih ditunjang oleh banyak pemikir lain seperti Mises, misalnya, yang secara terang-terangan menolak otoritas apa pun atas pasar, termasuk keterlibatan negara sekalipun, dengan gagasan negara penjaga malamnya. Hal ini penting digaris-bawahi karena tidak jarang kritik atas pasar bebas adalah karena beberapa perusahaan dalam pasar itu kerap menggunakan kaki tangan negara demi memuluskan kepentingan bisnis mereka sendiri, hal yang sebenarnya ditolak juga oleh para pengusungnya, di mana pun.

Si pemilik warkop tidak setuju. Dia bilang, “Meski idealnya begitu, toh praktiknya tetap menghasilkan kelas oligarki. Fakta ini tidak bisa ditolak.” Saya juga tidak menolak fakta tersebut. Tapi alternatif pasar bebas, seperti central planning yang dilakukan oleh rezim-rezim komunisme, misalnya, pun juga menghasilkan kelas oligarki juga. Jadi apa poinnya?

Pada akhirnya saya cuma bisa bilang begini, “Komunisme memang berhasil, tapi pada semut dan lebah.”

Baca juga:
Syahid Sya'ban
Latest posts by Syahid Sya'ban (see all)