Pasar Bebas Gagasan

Pasar Bebas Gagasan
Ilustrasi: panamericanworld.com

Pasar bebas gagasan akan melabrak regulasi yang melawan pasar. Betul, hanya jika produk Anda bermutu dan jika Anda adalah seorang penjual yang baik.

Nalar Warga Regulasi yang mengintervensi mekanisme pasar tidak akan bekerja dengan baik, paling banter dipaksakan dan akan berdampak luas pada hilangnya kebebasan secara luas. Mungkin tidak hari ini, tapi besok. Mungkin tidak besok, tapi lusa. Hanya semata-mata soal waktu.

Ketika saya sebut “pasar”, saya tidak semata-mata bicara pertukaran barang dan jasa, tapi juga pertukaran gagasan-gagasan. Artinya, sama seperti pertukaran barang dan jasa, intervensi atas pertukaran gagasan secara bebas akan sia-sia.

Regulasi Penodaan Agama, misalnya. Sekian orang dihukum karena divonis melanggar regulasi ini. Tapi UU itu tidak bisa mencegah gagasan-gagasan yang kritis terhadap agama terus bermunculan, tidak juga sanggup mencegah munculnya keyakinan-keyakinan religius baru, tidak juga sanggup mencegah meningkatnya ateisme dan ketakpercayaan terhadap agama-agama. Pasar punya logikanya sendiri.

Juga regulasi yang memberi kewenangan negara membubarkan ormas-ormas “radikal” tanpa keputusan pengadilan. Saya beri tanda kutip kata “radikal” karena dia bisa berarti ideologi apa saja yang melawan NKRI dan Pancasila—atau lebih tepatnya NKRI dan Pancasila versi tafsiran penguasa.

Tahun ini HTI dibubarkan. Tapi ideologi HTI, simbol-simbolnya tetap berkibar. HTI eksis sebagai pemasok karena ada permintaan pasar. Hanya orang naif yang menganggap HTI kehilangan dukungan setelah dibubarkan. Pasar punya logikanya sendiri.

Pertanyaannya kemudian, terutama bagi Anda yang kemarin menyetujui regulasi baru pembubaran Ormas, seberapa sudah kuat demand pasar terhadap gagasan Anda? Apakah Anda semakin bisa meyakinkan publik bahwa gagasan Anda lebih bermutu?

Tahun ini Anda menuntut negara meregulasi pasar, melakukan intervensi, dengan membubarkan Ormas kompetitor Anda. Ternyata demand terhadap produk ormas yang dibubarkan masih cukup untuk membuat mereka eksis. Negara malah kelihatan planga plongo karena regulasi seperti antara ada dan tiada.

Bicara beberapa tahun kemudian, ketika Jokowi tidak lagi menjadi Presiden, dan gagasan yang tidak Anda sukai semakin banyak peminatnya, dan bahkan mungkin menentukan kemenangan politik elektoral figur yang menurut Anda adalah representasi kelompok radikal. Ketika saat itu sungguh-sungguh terjadi, apakah Anda—atas nama NKRI dan Pancasila versi tafsiran penguasa yang berkuasa saat itu—siap di HTI-kan oleh produk regulasi yang Anda dukung kemarin?

Pasar bebas gagasan akan melabrak regulasi yang melawan pasar. Betul, hanya jika produk Anda bermutu dan jika Anda adalah seorang penjual yang baik. Anda “pede” bisa menjual gagasan Anda lebih baik dari HTI? Kalau Anda beneran “pede”, Anda pasti akan mendukung pasar bebas gagasan dan gak akan merengek pemberlakuan regulasi untuk menutup “pabrik gagasan” yang menjadi kompetitor Anda.

*Amor Fati

___________________

Artikel Terkait:
Warganet
Latest posts by Warganet (see all)