Pasar Senen-Malang Kota Baru

Pasar Senen-Malang Kota Baru
©Ichi

Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Jika kereta itu tepat sesuai jadwal, maka 15 menit lagi seharusnya aku akan bertolak menuju Jakarta.

Sial, ternyata sudah terlalu lama aku mengadu nasib di kota Malang ini—ah bukan, merangkai nasib lebih tepatnya. Entahlah, rasanya jiwaku masih tertinggal di berbagai tempat di kota ini, seperti horcrux-horcrux Voldemort. Bedanya, jiwaku tidak terikat oleh benda, melainkan sudut-sudut jalan kota ini. Kota ini begitu menawan, setidaknya menurut pengamatanku selama hampir lima tahun tinggal di sini.

Tepat, keretaku sudah datang. Informasi kedatangan keretaku itu kudapat dari suara sebuah speaker. Sambil membopong tas keril dan menarik koper tuaku, aku melangkah menuju loket pemeriksaan tiket. Setelah memberikan KTP beserta tiketku, petugas itu membiarkanku lewat.

Berat sekali menjadi petugas tiket itu, menurutku. Bagaimana tidak, ia harus setiap saat melihat wajah-wajah sepertiku, wajah yang enggan kembali pulang. Betapa banyak wisatawan yang sekadar menginap barang 2-3 hari di kota ini, pergi berwisata ke Bromo, melepas penat di pantai sebelah selatan kota ini, lalu setelahnya mereka harus kembali pulang ke kota untuk kembali bekerja atau setidaknya, dunia asli mereka.

Barangkali, ada juga yang menghabiskan hari-hari liburnya dengan menanjak puncak Semeru, atau sekadar mampir ke danau Ranukumbolo. Tempat-tempat eksotis itu kiranya tepat dijadikan tempat untuk melepas penatnya kota tempat mereka tinggal.

Aku pernah berpikir, atau mungkin orang-orang yang pernah berkunjung ke tempat ini juga, betapa bahagianya mereka yang tinggal di kota ini. Tidak seperti kami yang harus melarikan diri dari tempat kami tinggal, lalu singgah barang beberapa hari di kota ini sebelum kembali pulang.

Gerbong ke delapan, baiklah. Untuk mencapainya aku perlu berjalan agak jauh. Saat mengeret koperku dengan malas, aku mendengar ada grup penyanyi yang terdiri dari 3 orang perempuan yang sedang mengamen dengan membawakan sebuah lagu. Penyanyinya seorang perempuan yang tunanetra.  Lagu ini tidak asing bagiku, karena penyanyi lagu ini pun terkenal di kota ini. Judulnya Pulang.

Apakah kau pernah, jauh dari rumah
Rindu yang menumpuk, sakit dan berkecamuk
Apakah kau pernah jauh dari rumah
Terbangun di tengah malam
Dingin lapar tak tertahan

Penyanyi itu bernyanyi seakan bisa merasakan dan melihat mereka yang sedang berlalu-lalang di depannya, mereka yang akan menjalani “kepulangan”. Tapi, apakah mereka yang enggan menjalani “kepulangan” adalah mereka yang tidak menghargai rumah?

Mungkin saja orang-orang seperti itu, termasuk aku ini, hanya telah terlalu lama tinggal di kota rantau, beratus-ratus kilo jauhnya dari rumah. Jadi, bagiku ini bukan “kepulangan”, justru pergi kembali dari rumah.

“Maturnuwun, Mas,” ucap penyanyi itu setelah aku menyisipkan dua lima ribuan ke kantung yang ada di depannya. Tangannya ia letakkan di antara lubang yang dijadikan pintu masuk uang-uang dari orang-orang sekelilingnya, yang menghargai suaranya. Jadi, dengan begitu ia bisa merasakan siapa saja yang menyisipkan uang lewat sana lalu mengucapkan terima kasih. Wajahnya sayu namun bibirnya masih terus mengembangkan senyum.

Aku balas dengan senyum juga. Namun aku pikir tindakanku tidak akan berguna. Lalu, aku berkata, “Sama-sama, Mbak. Terima kasih telah membawakan lagu itu, ya.”

Penyanyi itu tiba-tiba tertegun, lantas seperti meraba-raba suara tadi; ucapan yang terlontar dari bibirku. Aku raih tangannya yang masih berusaha menggapai sesuatu itu. Tiba-tiba bibirnya kembali menyunggingkan senyum. Ia menggenggam tanganku lumayan lama. Aku tebak, perempuan ini berusia sekitar 30an tahun. Tangannya dingin dan agak kasar. Ia mungkin sejak pagi-pagi sekali berangkat dari rumahnya untuk bernyanyi di stasiun ini.

“Terima kasih, Mas.”

Wajahnya kembali membekaskan sesuatu padaku, sespesial itu kah ucapan terima kasih yang aku lontarkan? Rasanya biasa saja. Wanita itu kembali pada tempatnya bernyanyi dengan masih menyunggingkan senyum. Lalu, setelah melewati peristiwa yang membingungkan itu, aku lanjut menuju gerbong kereta tempatku akan melewati 12 jam perjalanan.

Rasanya, senyum tadi mungkin saja ucapan selamat tinggal. Ah iya, pantas saja agak berbeda. Sejak pergi dari kos, rasanya tidak ada yang mengucapkan selamat tinggal kepadaku. Lucu sekali, bahkan ucapan selamat tinggal itu dilontarkan oleh seseorang yang bahkan aku tidak kenali.

Barangkali, menjadi wanita barusan lebih berat daripada petugas tiket yang berjaga di depan tadi. Aku ralat penyataanku sebelumnya. Memang petugas tiket tadi selalu melihat orang-orang yang hendak naik kereta untuk pulang dengan biasa saja. Tapi perempuan ini lain dari si petugas tiket. Ia merasakan mereka, alih-alih hanya sekadar melihat lalu-lalang kerumunan orang-orang yang hendak pulang itu. Mungkin karena ia tunanetra, jadi ia lebih bisa melihat sesuatu yang tidak tembus hanya dari sekadar melihat. Paling-paling, hipotesisku ini salah.

Jangan-jangan, perempuan itu adalah seseorang yang hendak pulang, namun ada sesuatu yang menghalanginya untuk itu. Entahlah, beberapa orang tidak dapat menjalani “kepulangan” karena hal-hal di luar kuasa mereka. Misalnya, ditolak oleh tempat mereka pulang, tempat mereka seharusnya tinggal. Tidak, pikiranku mulai kacau dengan kata “pulang”.  Memang seharusnya aku harus bersikap biasa saja dengan ini, dengan kepulangan.

Setelah sampai pada kursi yang aku pesan di kereta ini, aku langsung meletakkan tas keril-ku di bagasi atas dan koper di bawah bangku, karena jika mengangkatnya ke bagasi atas terlalu merepotkan untukku. Aku duduk sambil mengaitkan headset di telingaku, lalu aku memutar lagu yang sama, lagu yang dinyanyikan si penyanyi perempuan tunanetra. Sambil memejamkan mata, kepalaku digelayuti oleh tatapan si penyanyi perempuan. Tatapan itu benar-benar tatapan tulus. Ah, sial.

***

Aku sampai di stasiun sekitar pukul 8 malam, lebih cepat sekitar 20 menit dari perkiraan jadwal. Saat aku keluar dari kereta, hawa kota Jakarta sudah menyeruak masuk ke setiap pori-pori kulitku, udara malam yang panas, sesuatu yang telah lama tak pernah kurasakan.

Stasiun Pasar Senen, terakhir kali aku menginjakkan kaki ke stasiun ini sekitar 2 tahun yang lalu. Saat dulu sempat pulang karena menengok bapak yang sedang sakit. Kepulanganku kali ini pun memang permintaan ibu, karena bapak baru saja mengembuskan napas terakhirnya dua hari lalu.

Iya, bapak memang menjadi alasanku untuk menolak setiap kepulangan ini. Aku hanya berpikir, kehadiranku di rumah selalu mengganggu bapak. Ia selalu berteriak pada setiap apa pun yang aku lakukan di rumah. Dan lima tahun lalu, aku memutuskan untuk pergi ke Malang, kampung halaman ibu.

Awalnya ibu menahanku. Namun, ia juga berpikir rumah akan lebih tenang jika aku tidak bersama bapak. Setidaknya, sampai bapak bisa menerimaku kembali. Namun, bapak keburu meninggal sebelum bisa menerimaku.

Setelah keluar dari lorong menuju pintu kedatangan, aku hendak menuju trotoar parkiran di depan stasiun, sekadar menyalakan satu-dua batang rokok. Selama di kereta, aku tidak menyalakan sebatang pun, padahal kereta beberapa kali berhenti untuk mengisi air atau mengambil penumpang di beberapa stasiun lain. Aku enggan sekali mengangkat pantat dari kursi kereta untuk sekadar merokok cepat-cepat. Tidak nikmat rasanya.

Saat baru akan menyumut satu batang rokok, aku melihat sebuah grup penyanyi yang sedang mengamen di depan kursi-kursi tempat orang-orang duduk untuk menunggu kereta atau menunggu kedatangan sanak-saudara atau seseorang yang mereka ingin jemput. Betapa beruntungnya mereka yang ditunggu kepulangannya. Mereka yang dinantikan kedatangannya di rumah oleh keluarga mereka. Mereka yang kepulangannya disambut dengan meriah, setidaknya dengan senyum orang-orang yang mungkin telah lama menunggu kepulangannya.

Aku berpikir mungkin akan lebih enak jika merokok sambil mendengarkan musik mereka. Lalu, tanpa menunggu lagi, aku mendekat sambil kembali mengeret koperku. Saat sampai di depan mereka, aku baru menyadari jika penyanyi grup itu seorang tunanetra, sama dengan seorang perempuan yang kutemui di stasiun Malang itu. Namun, sekarang penyanyi itu adalah seorang laki-laki.

Baru saja aku akan menyumut lagi rokok yang sebelumnya tertunda, penyanyi itu mulai mendendangkan lagu yang sama pula dengan yang aku dengar di stasiun Malang. Mendengar itu, aku seperti merasakan deja vu, seakan-akan aku masih hadir ketika si perempuan bernyanyi tadi pagi.

Setelah usai melantunkan larik terakhir, aku mengantonginya beberapa lima ribuan. Lalu, si penyanyi itu mengucapkan suatu hal yang sama persis dengan yang diucapkan si penyanyi perempuan, “Maturnuwun.”

“Sama-sama, Mas. Terima kasih telah membawakan lagu itu, ya,” ucapku datar, mengimbangi kesamaan peristiwa yang kulewatkan tadi pagi. Barangkali dengan begitu akan ada hal ajaib yang terjadi. Memikirkan itu, aku tertawa geli dalam hati.

Mendengar perkataanku, laki-laki itu tertegun. Sama persis dengan raut muka si penyanyi perempuan itu. Kali ini ia tidak mengucapkan terima kasih, melainkan kata-kata yang membuatku mematung, seakan badanku meluruh semuanya. Laki-laki itu tiba-tiba meneteskan air matanya sambil mengucapkan sebuah pertanyaan, “Mas, apakah perempuan itu masih bernyanyi di sana?”

Aku menelan ludah, lalu kugapai tangannya seperti saat si penyanyi perempuan ingin menggapai tanganku ketika kuucapkan terima kasih padanya. Lalu kujawab, “Ia masih setia menunggu, Mas. Di depan kedatangan kereta-kereta itu, di antara orang-orang yang akan pulang atau baru saja datang.”

Ah sial, betapa bahagianya mereka yang ditunggu kepulangannya.

Raflidila Azhar
Latest posts by Raflidila Azhar (see all)