PB HMI Bervisi, Bukan Kepengurusan Cecunguk

PB HMI Bervisi, Bukan Kepengurusan Cecunguk
©Generasi Kita

Aku tidak mungkin mengucap selamat ke pemenang Kongres PB HMI yang tidak kukenal. Aku tidak tahu visinya apa, isi kepalanya bagaimana, mau membawa HMI ke mana, dapat donasi dari siapa saja. Biarlah pemenang bergembira atas capaiannya, hingga tiba waktunya kita kembali ke kehidupan seperti sedia kala.

Sedikit kaget, aku tidak menduga koalisi gemuk memenangkan kongres HMI hari ini. Pemilihan yang lalu, biasanya berakhir dengan head to head. Ada yang benar-benar menang, ada seratus persen kalah. Kali ini, besarnya kekuatan koalisi menutup buku rangkaian Kongres Himpunan Mahasiswa Islam di Ambon.

Hasil bisa kita tebak, Primus Inter Pares yang ada di dalam koalisi paling besar, pasti dia yang menang. Kalau dominasi koalisi raksasa tidak tertandingi, mentok-mentok pertarungan berakhir aklamasi. Alasan si pengalah bisa kita mengerti, “Anda tidak mungkin melanjutkan pertarungan bila sudah bisa dipastikan kalah.”

Satu-satunya jalan politik yang diambil, ya tidak usah lanjut. Lalu rapatkan barisan dan coba kais peruntungan. “Jangan perang habis-habisan kalau akhirnya buatmu jadi debu. Bernegosiasilah, barangkali dengan begitu Anda masih dapat sedikit bagian dari pemenang.”

Pola politik pragmatik seperti itu jadi kegemaran sedari dulu. Istilah “berjuang sampai titik darah penghabisan” tidak ada di HMI. Tiada yang benar-benar mau habis demi pertarungan para jantan. Tidak ada orang mau fight sampai benar-benar kalah. Semua yang kalah, ingin kalah tetapi tidak seratus persen kalah.

Menjadi soal bila banyak koalisi mengerubuti si pemenang. Mereka akan menuntutnya untuk adil dalam membagi-bagi jabatan. Tekanan, ancaman, pesanan, tuntutan, dan kewajiban janji menjadi tak terelakkan. Semua orang mendekat menagih dan meminta, sedang porsi jabatan terbatas. Kedudukan ketua bidang tidak banyak, tetapi yang incar ratusan.

Kepengurusan atau kabinet PB HMI tak mungkin berjalan dengan mengakomodir tiap permintaan. Jangankan mengingat kembali siapa-siapa pihak yang berjasa antarkan si pemenang, sebelum ia pikir jernih, ratusan pengaku-ngaku berjasa atas keterpilihannya sudah memberondongnya tiap detik.

Saat semua orang di sekitar berubah jadi bidadari, mulutnya manis, senyum merekah, pujian tidak henti-henti menggema, tiba-tiba semua orang hormat padanya. Dia kaget dengan perlakukan istimewa terhadapnya. Seolah segala terasa indah dan baik semua. Itu membuatnya makin dilema untuk memutuskan siapa yang benar-benar tulus.

Baca juga:

Menjadi masalah manakala ketua terpilih benar-benar tidak mampu keluar dari transaksi politik. Dia harus benar-benar memenuhi janji. Membagi jabatan Sekjen ke A, Bendum ke B, Kabid PTKP ke C, Kabid PA ke D, dan sebagainya. Pertanyaannya, apakah si A punya kompetensi kesekretariatan? Apakah si D punya visi dalam pengaderan?

Dunia transaksional seperti itu tidak memungkinkan lagi ketua terpilih menunjuk orang yang benar-benar kompeten. Meski Ketua Umum PB HMI miliki hak prerogatif memilih perangkat, tetapi itu tidak mungkin ia lakukan karena sudah terjerat kesepakatan.

Pembaca tak perlu tuding saya macam-macam. Aku bukan tim sukses siapa-siapa, bukan pendukung dan pembenci siapa-siapa. Seratus persen aku menulis hanya semata-mata demi HMI lebih baik. Anda tidak perlu berprasangka buruk. Fokus saja apa yang kubicarakan.

Aku membayangkan ketua terpilih meminta tolong ke semua anggota se-Indonesia untuk menunjukkan siapa saja kader HMI yang berprestasi. Lalu setelah ketua mendapat laporan orang-orangnya, dia membuat proyeksi, menentukan posisi, dan membujuk kandidat ter-list untuk andil dalam membangun HMI melalui kepengurusan pusat.

Persetan dengan mereka yang ngaku-ngaku berjasa lalu meminta imbal kedudukan. Selama ketua terpilih tidak berani berkata ’’tidak’’’ pada calon pengurus pesanan, saat itu juga tidak ada kemajuan dalam HMI. Dalam logika mana pun, ajaran Islam maupun hukum alam, kemajuan hanya akan teraih bila yang memegang adalah para ahlinya.

Aku tidak berprasangka buruk. Melihat PB HMI yang sudah-sudah, aku tidak yakin ketua terpilih benar-benar memilih pengurusnya berdasarkan prestasi dan kompetensi personal. Paling-paling hanya mereka yang ikut koalisi gemuk yang menjabat. Padahal kita tidak tahu isi kepalanya, entah kosong atau berniat cari uang dari Himpunan.

Sebagai kader HMI baru, bukan siapa-siapa, hidup dalam kesunyian, tidak punya jabatan, tidak diperhitungkan, aku bermimpi mereka yang berwawasan mengisi PB HMI. Pengurus besar yang aku damba, yaitu yang peduli pengaderan, tidak cari proyekan, dan tidak melakukan apa pun kecuali memajukan Himpunan.

Aku anak kemarin sore, dari kampus kecil, tidak punya senior apalagi junior. Mungkin kata-kataku tidak layak dipertimbangkan; tulisanku patut diabaikan. Mungkin suaraku harus dianggap angin lalu. Jangankan ikut bantu pemenangan ketua terpilih, aku datang ke kongres saja tidak.

Halaman selanjutnya >>>
Muhammad Mualimin
Latest posts by Muhammad Mualimin (see all)