PDI-P dan Golkar Terlibat Aktif Rancang dan Sahkan Perda Syariah Diskriminatif

PDI-P dan Golkar Terlibat Aktif Rancang dan Sahkan Perda Syariah Diskriminatif
NP

Nalar PolitikMengejutkan membaca temuan Michael Buehler, Guru Besar Ilmu Politik Nothern Illinois University. Dalam studinya, The Politics of Shari’a Law: Islamist Activist and the State in Democratizing Indonesia, ia ungkap bagaimana PDI-P dan Golkar terlibat aktif dalam merancang dan mengesahkan perda-perda syariah di Indonesia.

Nahasnya, wujud perda-perda syariah sangat diskriminatif. Alih-alih menjamin ketenteraman warga, terutama terhadap kelompok minoritas, pemberlakuan perda-perda tersebut malah mengundang konflik dan perpecahan.

Hal itu sebagaimana dikatakan peniliti SMRC Saidiman Ahmad. Lewat akun Twitter @saidiman, ia tegaskan kembali pernyataan Ketua Umum PSI Grace Natalie yang sebelumnya diungkap melalui pidato politiknya di Festival 11 Medan, (11/3).

“Mencengangkan. Partai-partai nasionalis (PDI-P dan Golkar) yang seharusnya menjadi benteng persatuan nasional, justru menjadi perancang aturan diskriminatif,” tulis Saidiman.

Memang, seperti kata Grace, tidak mungkin menyebut PDI-P dan Golkar sebagai partai-partai nasionalis. Sebab ternyata mereka diam-diam menjadi pendukung terbesar perda syariah.

Kita tahu, perda-perda model ini mustahil memberi rasa keadilan dalam keberagaman. Dengannya, selalu akan ada pihak yang dirugikan.

“Penelitian Robin Bush juga menyimpulkan hal yang sama. Ini bukan saya lho yang bilang. Saya hanya membacakan kesimpulan riset ilmiah,” kata Grace.

Menanggapi itu, Sekretaris Departemen Pemerintahan DPP PDI-P, Hanjaya Setiawan, menyebut serangan PSI sebagai sebuah pengkhianatan. Itu lantaran PSI tujukan untuk sesama anggota partai koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf.

“Bagi PDI-P, kemenangan Jokowi adalah prioritas. Serangan dari dalam (partai koalisi) dapat dikategorikan sebagai pengkhianatan,” ucapnya.

Sementara Golkar, direspons langsung oleh Ketum Airlangga Hartanto, memilih menyindir serangan PSI. Ia menyebut lebih baik fokus pada masalah masing-masing daripada saling serang sana-sini.

“Kami tidak memberikan komentar terhadap partai lain. Itu agenda masing-masing. Dan kami, sebagai partai pendukung utama, tidak terganggu karena punya posisi sendiri,” sentilnya.

Redaksi NP
Reporter Nalar Politik