Pelajaran untuk Gubernur Sulawesi Barat

Pelajaran untuk Gubernur Sulawesi Barat
©Liputan6

Saya, Nasaruddin Ali, kembali mengirimkan surat sebagai pelajaran untuk Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) Ali Baal Masdar. Surat ini saya tulis tepat di malam takbiran, di sekretariat Ikatan Keluarga Mahasiswa Mandar Sulawesi Barat (Ikama Sulbar) Yogyakarta.

Sampai hari ini, saya cukup berprasangka baik sama bapak. Bahwa saya dan bapak sama-sama resah atas kondisi masyarakat Sulbar hari ini. Bedanya, bapak lebih senior alias tua, yang tentu sudah banyak mengeyam dunia hitam-putihnya politik, serta sebagai pemimpin tertinggi di Provinsi Sulbar.

Sementara saya? Ya, hanya sebatas orang biasa yang mengalami kondisi kemiskinan parah. Saya sama seperti kebanyakan warga Sulbar yang miskin itu, baik yang percaya pada janji-janji politik bapak, kiprah bapak yang katanya ada untuk memperjuangkan rakyat pada kedudukan jabatan gubernur, atau yang tidak sebelumnya sama sekali.

Jujur, saya dan kawan-kawan asal Sulbar di Yogyakarta ini terkadang merasa malu dengan teman-teman mahasiswa dari daerah provinsi lain. Bagaimana tidak, jangankan asrama, harapan dari kabar pemerintah Gubernur Sulbar yang kini bapak dukuki pun belum ada sampai saat ini. Yang ada, dan paling terkenal, hanyalah slogan dan janji-janji politik belaka, yang katanya hendak menjadikan Sulbar malaqbiq dan akan memperhatikan betul bidang pendidikan.

Tapi di Jogja, sebagai Kota Pendidikan, duta Sulbar di sini hanya memandang semua itu sebagai bualan kampanye saja. Itu hanya merupakan pemanis bibir belaka, hambar pada realitas.

Oh, ya, pak, melalui surat bertajuk Pelajaran untuk Gubernur Sulawesi Barat ini, saya senantiasa akan mendoakan bapak semoga tidak pernah miskin. Ya, miskin seperti saya dan kebanyakan rakyat di Sulbar sana meski tanahnya terkenal sebagai tanah malaqbiq. Karena apa, pak? Miskin itu berat. Biar saya saja. Biar kami rakyat saja yang miskin.

Semoga umur bapak panjang agar punya kesempatan terus memperjuangkan air mata kemiskinan, keterbelakangan akses pendidikan, fasilitas, kesehatan warga-warganya. Tidak seperti gubernur lain (gubernur khayalan) yang panjang umurnya untuk membodoh-bodohi masyarakat, memelihara kemiskinan agar lebih leluasa dalam melanggengkan kekuasaan. Untuk apa lagi kalau bukan untuk lebih mudah menyogok atau menekan para Pegawai Negeri Sipil (PNS), Kepala Desa, dan sejenisnya itu lantaran keserakahan mereka? Begitu, kan, pak?

Kali ini bukan surat tantangan saya menyoal bapak tentang keseenak-enaknya dalam menetapkan Perda tentang PT Migas Blok Sebuku Malaqbiq. Bukan juga surat amarah kepada Sang Gubernur, atau tentang Surat Peringatan saya kepada pemimpin besar Provinsi Sulawesi Barat lainnya. Seperti judulnya, surat ini adalah surat pelajaran untuk Gubernur Sulbar. Ini saya tujukan kepada bapak selaku Tuan Besar.

Baca juga:

Surat ini berisi materi pelajaran untuk gubernur yang memuat poin-poin penting bagi gubernur yang tertera dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Saya beri judul surat ini Pelajaran untuk Gubernur Sulawesi Barat.

Apakah ini penting? Tentu. Kalau UU RI Nomor 23 Tahun 2014 tidak penting, berarti tidak ada gunanya bapak menjadi gubernur untuk masyarakat Sulawesi Barat. Kan begitu, kan, pak?

Saya tahu kalau bapak serba sibuk, tidak punya waktu banyak untuk santai. Dan semoga kesibukan bapak tidak membuat lupa akan tugas dan tanggung jawab yang tertera dalam undang-undang tersebut. Sebab jangan sampai karena kesibukan dan semangat bapak sebagai gubernur yang berapi-api malah bapak buat Perda lagi tentang tugas kewajiban pemerintah daerah (gebernur) menurut versi bapak sendiri. Bisa repot, pak. Dan bapak layak dikudeta kalau buat macam-macam terhadap jabatan bapak, apalagi hanya PHP-in rakyat sulbar.

Untuk hal-hal yang buruk ini, saya yakin Gubernur Sulbar itu tidak bodoh. Bagi saya, menyoal bacaan Pancasila itu cuma mainan-mainan bapak untuk mengecek apakah masyarakat Sulbar sudah paham Pancasila atau tidak. Dan terbukti, masyarakat sampai saat ini masih hafal. Mereka sampai menegur bapak.

Baiklah. Materinya saya singkat, pak. Hanya menampilkan kesimpulan yang munurut saya sangat urgent untuk bapak perhatikan dan pahami betul-betul, yang masih beberapa tahun lagi dalam masa jabatan gubernur bapak.

Pelajaran untuk Gubernur

Pertama, bahwa gubernur harus benar-benar paham bahwa atas dasar pertimbangan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat. Adanya keharusan peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, dan kekhasan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ingat, pak, catat baik-baik ini:

Bukan atas dasar karena bapak dari golongan bangsawan, golongan ‘peppuangan’, keturunan raja-raja atau sebagainya. Bukan pula untuk melanggengkan kepentingan pribadi guna meraup keuntungan sebanyak-banyaknya di atas penderitaan rakyat.

Apakah sejauh ini kondisi percepatan yang bapak lakukan sebagai gubernur sudah maksimal dalam mempercepat kesejahteraan masyarakat? Jangan sampai hanya keluarga bapak saja yang drastis meningkat kesejahteraannya. Jangan sampai ada cerita-cerita di dalam masyarakat bahwa bapak dan keluarga bapak pakai mobil mewah dan hidup serta berkemewahan. Apa-apa bisa bapak beli, tapi rakyat dan orang-orang di bawah yang mendukung bapak hanya bisa naik mobil pete-pete, mobil truk saat kampanye bapak.

Halaman selanjutnya >>>
Nasaruddin Ali
Latest posts by Nasaruddin Ali (see all)