Pelakor, Korban Posesivitas Kaum Perempuan

Pelakor, Korban Posesivitas Kaum Perempuan
©Ozy

Pelakor, perebut laki orang, adalah istilah yang sengaja dicipta oleh mereka-mereka yang posesifnya keterlaluan. Istilah ini, sekali lagi, sengaja mereka hadir-gunakan demi membenarkan bahwa laki-laki, yang para pelakor rebut, adalah milik pribadi semata; tak boleh orang lain memilikinya, siapa pun kecuali mereka.

Mereka yang ingin berkuasa seenak dengkul sangat membenci pelakor ini. Lantaran menganggap sudah mengikatnya dalam jejaring pernikahan, misalnya, si perempuan lalu mematok bahwa diri sang laki-laki adalah kekuasaan mutlaknya. Pada pokoknya, tak boleh ada yang merebutnya, menggunakan tanpa izinnya—sudah seperti barang saja.

Sedari awal mesti Mimin tegaskan, tak ada maksud untuk bersikap misoginis dalam hal ini. Ya, hanya ingin mengungkap fakta: pelakor lebih banyak tersorot ketimbang pebinor (perebut bini orang).

Mengapa penegasan itu penting? Sebab, kalau dalam tradisi agama (Islam), seorang muslim seperti Mimin selalu diajarkan, sampaikanlah kebenaran walau satu ayat. Manis ataupun pahit, kebenaran harus terungkap. Begitu kata guru ngaji Mimin sewaktu belum puber.

Tanpa bertele-tele lagi, Mimin ingin katakan, sudahilah menyebut pelakor itu dalam maknanya yang peyoratif. Karena, dalam ide kebebasan yang Mimin pedomani, tak ada hal mutlak yang bisa orang klaim selain apa yang melekat pada diri atau bawaan diri sendiri: tubuh dan pikiran masing-masingnya.

Suami atau istri, apakah itu bawaan sejak lahir? Tentu tidak, bukan? Itu adalah konstruksi sosial belaka, yang baru lahir di kemudian hari saja. Jejaring pernikahan hanyalah bentukan, yang sejatinya merusak ide kebebasan.

Hei, kaum-kaum posesif, apa hak Anda-Anda mengatur hidup orang lain? Selama tidak melanggar hak kebebasannya, tubuh dan pikiran yang terbawa sejak lahir, maka tak ada masalah untuk berbuat apa saja, termasuk “merebut laki orang”, jadi pelakor.

Sadar diri dong. Kalian saja yang terlalu posesif, menganggap orang di luar diri kalian adalah benda yang boleh kalian miliki secara pribadi. Padahal nyatanya? Ah, sudahlah.

Baca juga: