Peluang dan Tantangan Industri Pengolahan Indonesia

Peluang dan Tantangan Industri Pengolahan Indonesia
©Kompas

Peluang dan Tantangan Industri Pengolahan Indonesia

Hilirisasi menjadi tema menarik dalam kurun waktu setahun terakhir, selain tema sustainable supply chain (SSC).

Dua grand tema ini saling berkaitan karena hilirisasi adalah soal industri pengolahan sampai produk akhir, sedangkan manajemen supply chain soal bagaimana manajemen pergudangan (storage no gudang)—istilah ini diadopsi dari konsep Just In Time (JIT).

Keduanya adalah satu permintaan dari problem produksi di lantai produksi pabrik hingga out put. Produk jadi supply change adalah satu sistem sendiri untuk bisa  jadi penyedia dari bahan baku, setengah jadi sampai distribusi dari gudang ke pusat-pusat didistribusi penjualan ke konsumen.

Semua  terpantau dan terdeteksi melalui kertas kerja tertulis, sehingga kelancaran (arus supply) dari pengolahan bahan baku sampai produk akhir pada manajemen modern manufakturisasi menjadi makin cepat, ongkos yang murah dan efisien.

Pertumbuhan ekonomi bangsa-bangsa besar di dunia, sekalipun pertumbuhannya  terbilang tinggi selama beberapa tahun, tidak diikuti pemerataan kesejahteraan bersama. Inilah yang melahirkan kesenjangan dan ketimpangan.

Bonus demografi berupa lonjakan pertambahan penduduk melahirkan tantangan baru berupa penyediaan pangan, akses pendidikan, penciptaan lapangan kerja, lingkungan, sarana infrastruktur, ekologi dan lingkungan  yang sehat  sebagai prasyarat pembangunan berkelanjutan menjadi domain penting negara-negara berkembang tidak agar mengkakselerasi tidak saja menjadi meningkat menjadi negara maju dan unggul dan siap menuju kebingungan kosmopolitanisme negara modern.

Tantangan peradaban industri maju yang tidak saja multinasional, regional membuat transformasi masyarakat industri sudah bergerak menapaki peradaban maju untuk bersama dan bahu-membahu mengatasi isu-isu ekonomi, seperti harga pangan, kemiskinan, dan penciptaan lapangan kerja.

Baca juga:

Peran pemerintah dan hadirnya negara terhadap era baru industri dan digitalisme membuat kinerja pemerintahan harus gesit, tanggap serta responsif untuk meningkatkan pelayanan (service publik) menuju pemerintahan yang baik (good governance). Jadi salah, efek dari akhir masyarakat industri justru melahirkan de industrialisasi. Pun sejarah di mana saja, industrialisasi dunia (revolusi cerobong asap) akan terus berputar dan menemukan jalan sendiri dari persaingan dan itu wajar serta lumrah di mana pun untuk mengadaptasi.

Lahir kemudian proses copas (copy paste) dari prototype ideal dari Sains dan Teknologi. Proses invensi dan kreativitas menjadi kunci penting dari produk inovatif  terbarukan yang bisa melintasi zaman, ruang dan waktu bahkan letak geografis antar benua.

Kebijakan hilirisasi dianggap relevan untuk meningkatkan kembali kontribusi sektor industri. Kebijakan hilirisasi untuk menggerakkan sektor manufaktur dan meningkatkan kontribusi sektor industri terhadap PDB.

Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan peringkat Indonesia dalam peta produsen barang manufaktur global. Dengan memperbaiki ekosistem investasi, meningkatkan efisiensi investasi, dan memperbaiki distribusi pendapatan melalui kebijakan hilirisasi yang berfokus pada tingkat lokal, melibatkan pelaku ekonomi kecil, dan mempertahankan sumber daya ekonomi di wilayah tersebut.

Perdagangan lintas negara membuat produk impor mudah diperoleh konsumen. Persaingan dengan produk usaha mikro, kecil, dan menengah lokal terbuka. Tanpa kehadiran ekosistem industri/bisnis yang kompetitif, ekosistem inovasi tidak akan terbangun.

Jalan yang mesti dilalui untuk mewujudkan hilirisasi masih panjang. Langkah demi langkah diayunkan konsisten demi akhir yang baik. Ketika melihat alur mata rantai industrialisasi dari hulu ke hilir (input-proses-output), hilirisasi menyisakan Pekerjaan Rumah yang panjang.

Era pandemi, krisis global, konflik global, perubahan iklim membuat dunia di berbagai sisi adaptif dengan dunia baru ini. Sebagian industri bertahan, sebagian memindahkan usaha ke tempat yang masih kondusif untuk iklim usaha dan sebagian industri berpikir keras untuk memangkas besar-besaran biaya operasional, biaya produksi bahkan sampai muara akhir dari produksi pun berupa barang.

Biaya pengiriman barang (pasokan) juga makin dipangkas terkait biaya transportasi. (Dr Moh Ridwan dari Dept Teknology Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta menerepong dari proses industri alur awal sampai akhir produksi dengan melihat dan meneliti ulang alur proses produksi secara menyeluruh agar hasilnya lebih efektif dan efisien (otimal). Jangan berbalik arah, karena itu justru tidak menghasilkan kinerja yang positif.

Halaman selanjutnya >>>
Aji Setiawan