Pembubaran HTI dan Pembodohan Parpol Pendukungnya

Pembubaran HTI dan Pembodohan Parpol Pendukungnya
Foto: CNN Indonesia

Ada gelagat memang, parpol-parpol yang mendukung HTI ini hanya ingin memanfaatkan isu pembubaran HTI, tak lebih hanya untuk menangguk simpati umat Islam di negeri ini.

NU adalah organisasi Islam yang jauh lebih besar daripada HTI. Muhammadiyah pun jauh lebih besar daripada HTI. Kalau HTI memang ingin tetap di organisasi Islam, masih bisa memilih bergabung ke NU atau ke Muhammadiyah, kecuali ada agenda lain.

Kalau HTI memang berniat untuk membangun umat Islam, kenapa tidak memilih bahu-membahu bersama Muhammadiyah atau NU saja? Toh kedua organisasi ini sudah berperan, bahkan dalam perjuangan lahir dan berdirinya negeri ini.

Kurang islami apa coba organisasi seperti NU dan Muhammadiyah? Tapi mereka memang tidak sesumbar bahwa merekalah paling berperan membangun umat Islam. Lha, ini HTI yang belum jelas sudah punya kontribusi sebesar apa jika dibandingkan NU/Muhammadiyah, kok malah terkesan terlalu genit?

NU/Muhammadiyah tidak teriak-teriak bahwa mereka paling berjasa, tapi mereka sudah berperan dalam membangun umat Islam lewat pendidikan, kesehatan, dan berbagai kegiatan kemanusiaan. Semestinya HTI tak perlu merasa kehilangan jika dibubarkan. Masih ada NU dan Muhammadiyah kok.

NU dan Muhammadiyah mampu bekerja jauh lebih berdampak langsung pada pembangunan umat. Karena yang mereka lakukan itu langsung bersentuhan dengan persoalan umat Islam.

Atas masalah kebodohan umat Islam, NU dan Muhammadiyah bergerak lewat pendidikan. Atas masalah keterbelakangan, kedua organisasi ini juga belum berhenti mengajak umat Islam negeri ini untuk juga bisa maju. Kenapa HTI tak membantu kedua organisasi ini saja jika ingin membangun umat?

Umat Muslim di Indonesia sudah cukup terwakili dengan organisasi seperti Muhammadiyah dan NU. Kedua organisasi ini tidak membenturkan agama dengan negara, sehingga satu sama lain saling menguatkan.

NU dan Muhammadiyah adalah organisasi yang dewasa bersama Indonesia sebagai negara. Saat Indonesia masih lemah, mereka menguatkan. Ketika Indonesia mulai menguat, membiarkan organisasi lain mengatasnamakan Islam, tapi merusak, tentu saja sama dengan tidak menghargai NU/Muhammadiyah.

Lihat juga: Para Pembenci NU

Dengan segala agenda terselubung HTI, maka langkah pemerintah membendung mereka sudah tepat. Sebab dengan langkah itu, pemerintah sekaligus menghargai kerja dan keringat NU dan Muhammadiyah sejak negeri ini lahir.

NU dan Muhammadiyah punya pengikut yang turut menyumbang darah sampai nyawa untuk lahirnya negara ini. Keduanya tak meminta diutamakan daripada yang lain, tapi mereka bisa tumbuh besar.

Kenapa NU dan Muhammadiyah bisa tumbuh besar? Karena keduanya ditopang oleh niat baik dan pikiran besar. Tidak heran jika ulama-ulama besar diakui dunia lahir dari kedua organisasi itu. Lha, HTI? Belum seupil kedua organisasi tersebut, masa ingin dibiarkan membawa agenda berbahaya?

Jadi, ketika pemerintah membubarkan HTI, bukanlah sebagai tanda kebencian pada Islam. Justru itu adalah satu cara menghargai keringat, darah, dan nyawa dari organisasi Islam seperti NU dan Muhammadiyah, yang bahu-membahu dengan organisasi umat agama lain, memperjuangkan tegak berdirinya Indonesia.

Tragisnya, ada saja parpol yang semestinya punya tanggung jawab moral menjaga negeri ini, justru mendukung HTI. Lha, parpol-parpol ini hidup di sini untuk menghancurkan negara inikah?

Saya tidak yakin bahwa parpol-parpol yang rajin membangun kesan membela Islam dengan mendukung HTI tidak tahu apa yang diusung organisasi ini. Lantas kenapa mereka tetap menyuarakan pembelaan terhadap HTI?

Memang bisa jadi untuk memperjuangkan hak berkumpul/berorganisasi yang juga bagian HAM. Tapi mereka terkesan lugu, seolah tidak tahu apa dan bagaimana organisasi ini.

Ada gelagat memang, parpol-parpol yang mendukung HTI ini hanya ingin memanfaatkan isu pembubaran HTI, tak lebih hanya untuk menangguk simpati umat Islam di negeri ini.

Mereka berharap, dengan membela HTI, maka citra parpol-parpol ini sebagai partai pembela Islam makin menguat. Jika sudah begini, potensi mendulang suara dari umat muslim pastilah lebih besar.

Ini justru pembodohan. Sebab langkah itu memang hanya berpotensi menangguk simpati umat muslim akar rumput saja. Dan bagi muslim berpendidikan, akan mudah meraba arah parpol-parpol tersebut.

Kenapa pembodohan? Karena parpol-parpol pendukung HTI tega menampilkan kesan membela Islam dengan mendukung organisasi ini, alih-alih membantu meyakinkan umat muslim bahwa langkah pembubaran organisasi itu bukanlah kebencian atas Islam.

Lihat juga: HTI, Penumpang Gelap Demokrasi

Semestinya parpol-parpol tadi turut menjelaskan, setidaknya kepada pengikut masing-masing, bahwa keberadaan HTI bukanlah ancaman terhadap pemerintah yang bisa diganti. Mereka adalah ancaman untuk negeri ini.

Dalam pembubaran HTI, pemerintah bisa dipastikan tidak berpijak pada bagaimana mempertahankan kekuasaan.

Kenapa bisa dipastikan begitu? Karena jika landasannya hanya ingin mempertahankan kekuasaan, maka mereka takkan melakukan pembubaran HTI. Sebab mereka pasti tahu, langkah ini rawan fitnah, rawan hasutan, dan antipati.

Namun kemudian justru pemerintah membubarkan HTI. Karena pemerintah punya kepentingan lebih besar daripada sekadar mempertahankan kekuasaan. Itu adalah bagaimana mempertahankan negeri ini agar tak dirobek-robek oleh kekuatan asing yang berpotensi memboncengi HTI cs.

Ya, jika ada yang berpikir saya terlalu sok tahu hingga menulis pembubaran HTI ini, saya cuma bisa bilang: karena saya pernah lebih dari satu dekade mengamati mereka, membaca media mereka, berdiskusi dengan mereka.

Jika ada yang keliru, silakan bantah. Jika ada yang baik, silakan share.

___________________

Artikel Terkait:
Zulfikar Akbar