Pemerkosaan sebagai Senjata Perang dan Alat Teror

Pemerkosaan sebagai Senjata Perang dan Alat Teror
©UG Times

Pendeta korban dugaan pemerkosaan dan pembunuhan di OKI, Sumsel, berasal dari Nias.

Nalar Warga – Orang Nias sama seperti orang Dayak dan orang Minahasa. Mirip orang Cina. Secara fisik, kebanyakan berkulit kuning langsat dan bermata sipit. Perempuan Kristen. Bertugas di tengah perkebunan sawit milik perusahaan besar.

Tiga hal yang secara tidak sadar sangat mungkin berkelindan dalam kepala pelaku ketika menghadang, mengikat, menyeret, (diduga) memerkosa dan membunuh korban. Bisa jadi juga lahir dari kebencian berlatar sosial-ekonomi mengingat korban tinggal di dalam lingkungan gereja yang ada dalam kompleks perusahaan yang mengelola perkebunan kelapa sawit.

Saya akui, ini asumsi prematur. Tapi, jangan mudah simplifikasi kasus ini sebagai sekadar kriminal biasa.

Tidak ada pemerkosaan yang menyasar korban secara acak. Pelaku selalu mengamati dan memilih. Apalagi korban adalah ulama perempuan. Rasanya omong kosong. Apalagi kalau tahu-tahu dikait-kaitkan dengan asmara-lah, dendam-lah, dan sejenisnya demi meredam keresahan. Terlalu basi.

Pemerkosaan sebagai senjata perang tak bisa lagi hanya dikaitkan pada penghancuran dan mempermalukan dengan kejam para laki-laki di pihak lawan. Kini, pemerkosaan dalam perang juga teror mengerikan dalam peperangan politik.

Tahun 2017, saya, Pratiwi Febry, Mbak Ita Fatia Nadia dkk melaporkan ke Polda Metro Jaya ancaman pemerkosaan seorang pemuda di media sosial. Ancaman tersebut secara spesifik menyasar perempuan-perempuan pendukung salah satu Cagub Cina-Kristen di Pilkada DKI Jakarta yang lalu.
Kami menyikapi ancaman tersebut serius.

Kebencian terhadap yang berbeda dan anggapan minoritas yang melawan harus ditundukkan dengan teror yang menghancurkan martabat, bukan sesuatu yang berlebihan.

Contoh kasus ancaman pemerkosaan yang saya dkk laporkan di tahun 2017 dan pemerkosaan massal di kerusuhan Mei 1998 adalah bukti penting pergeseran pemerkosaan sebagai alat perang yang menyasar perempuan “milik laki-laki” musuh, ke alat teror bagi musuh. Dalam konteks ini, minoritas yang dianggap tidak patuh, melawan, dan perempuan.

Ingat, dalam situasi penindasan terhadap kelompok yang diminoritaskan, perempuan-anak-minoritas seksual adalah yang paling mengalami penindasan berlapis.

Mereka yang melihat kapabilitas saya menulis ini sebelah mata, silakan menuding saya berlebihan. Tapi fakta berkata lain.

Kasus terbunuh dan dugaan pemerkosaan Pendeta Melinda Zidemi tidak mungkin lagi ditempatkan menjadi sekadar kasus kriminal biasa. Saya dengan tegas menolaknya.

Ada kebencian (terhadap perempuan dan yang berbeda) yang terus-menerus dipupuk dengan tekun oleh pelaku-pelaku politisasi agama. Sehingga meskipun nantinya pelaku ditemukan sebagai warga biasa yang sederhana, cara berpikir mereka tak lagi sederhana. Sebaran kebencian terhadap yang beda, terhadap yang rentan, telah telanjur masuk merusak hati nuraninya, kemanusiaannya.

Tuhan memberkati jiwa Pendeta Melindawati Zidomi, memberi kekuatan bagi keluarga dan jemaat yang ditinggalkan. Memberi ketabahan dan ketekunan bagi kita untuk tetap melawan.

#SahkanRUUPenghapusanKekerasanSeksual

*Helga Inneke Worotitjan (Perempuan Kristen Minahasa yang berkampung halaman di Balikpapan, penyintas, single mom, cooktivist, menggelandang di Jakarta)

    Warganet
    Latest posts by Warganet (see all)