Pemikiran Pluralistik KH. Yahya Cholil Staquf

Pemikiran Gus Yahya dan Relevansi Dunia Kontemporer

Pergulatan pemikiran Gus Yahya kurang lebih banyaknya terpengaruhi pemikiran Gus Dur, yang sebelumnya pernah menggagas mengenai Pribumisasi Islam pada tahun 1980-an. Yang mana konsep Pribumisasi Islam atau Islam Pribumi meletakan konsep Agama secara normatif berasal dari Wahyu Tuhan dengan dilekatkan dalam tradisi kebudayaan manusia.

Dalam tulisannya Wahyudi Rahman dalam jurnalnya berjudul “Islam Nusantara: Pribumisasi Islam ala NU” menafsirkan bahawa Pribumisasi itu mengabaikan atau takut terhadap perlawanan kebudayaan terhadap agama, melainkan adalah bagaimana proses Ke-Tuhan-an dengan melestarikan tradisi kebudayaan/kearifan lokal, salah satunya yakni Selametan atau Tahlilan yang masih dilestarikan oleh Nahdlatul Ulama sebagai representasi dari Islam Tradisional.

Jika mengacu dalam tradisi Islam Sunan Kalijaga yakni dengan adanya Sinkretisme Islam dan Jawa atau Islam Kejawen. Sebagaimana Sinkretisme menurut John L. Espasito, akademisi dari Oxford of University, Inggris dalam bukunya Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, ia menggambarkan bahwa fenomena percampuran praktik keagamaan maupun kepercayaan lainnya dengan menghasilkan sebuah tradisi yang baru.

Dalam hal ini, bahwa Sinkretisme Islam seringkali di kritik oleh kalangan Islamis Modernisme yang hanya menggunakan Al-Qur’an dan Hadits dengan penafsiran literal sebagai sumber otoritas, sedangkan penafsiran diluar literal dianggap Bid’ah.

Sehingga inilah, UIN Sunan Kalijaga memberanikan diri untuk memberikan Gelar Doktor Kehormatan kepada Gus Yahya, yang merupakan tokoh Islam di Nusantara. Menurut saya, Gus Yahya bakal berkomitmen dalam melanjutkan pemikiran Gus Dur yang belum terimplementasikan. Sebagai Ketua Umum PBNU terpilih pada muktamar NU ke-34 di Lampung pada 22-23 Desember 2021. Dalam pidato penganugerahan Doktor Kehormatan, Gus Yahya mengambil judul tema “Rekontekstualisasi Ajaran Islam untuk Tatanan Dunia Baru”, dalam pidato tersebut memuat lima bagian yakni:

Bagian Pertama, Refleksi Pasca Perang. Dalam point ini menguraikan beragam refleksi dalam upaya resolusi konflik baik Islam diantara para madzhab maupun sekte yang bersebrangan, maupun konflik antar agama, ras, suku dan budaya Pasca Perang Dunia I maupun Perang Dunia Kedua antar Negara. Komponen utama dari tata dunia baru yang ditawarkan oleh Gus Yahya yakni: 1) rezim perbatasan internasional yangmenetapkan batas-batas definitif setiap negara sebagai lingkup kedaulatan yang dihormati dan dilindungi dari serangan pihak luar. 2) nilai hak asasi universal yang berisi prinsip penghormatan atas kesetaraan hak dan martabat bagi semua manusia terlepas dari perbedaan latar belakang apapun, baik tas, etnik, agama, ideologi sekular maupun label-label identitas lainnya.

Bagian Kedua, Perubahan Tatanan Dunia. Dalam hal ini beliau menggambarkan mengenai politik tatanan dunia global akan runtuh disebabkan oleh pertarungan antar identitas misalnya faktor pertarungan antar agama menjadi sebuah konflik. Oleh karena itu beliau menawarkan tatanan dunia baru harus memperhatikan beberapa point yakni 1) Perubahan tatanan politik Internasional 2) Perubahan demografi dan kewargaan 3) Perubahan dalam standar norma-norma, 4) Globalisasi.

Bagian Ketiga, Posisi Agama-Agama dan Tanggapan Islam Terhadap Tata Dunia Baru. Dalam point ini menggambarkan bahwa tujuan awal mula dari berdirinya agama yakni sebagai penyelamat umat maunsia dengan menampilkan standar-standar norma yang mempunyai kekuatan otoritas, serta mengembangkan perluasannya dalam memberikan pengaruhnya. Tentu hal ini menjadi tantangan bagi agama dalam ekspansinya untuk mengantisipasi adanya benturan keagamaan menjadikan konflik.

Baca juga:

Bagian Keempat, Syariat dan Politik. Dalam point ini menggambarkan bahwa proses perjalanan syariat adalah sebagai wujud dari ketaatan dalam menjalankan keimanan terhadap Tuhan. Sedangkan dalam membangun kerangka norma – norma yang ada di sosial adalah sebuah konsekuensi konstruksi politik. Syariat dan Politik manakalah dapat berjalan secara kolaboratif maupun pemisahan-pengiringan dengan mengedepankan aspek aspek pluralistik atau keberagaman dalam menjalankan hakikat dalam berTuhan sesuai dengan model dan teknis masing-masing.

Bagian Kelima, Pilihan-Pilihan dan Konsekwensi-Konsekwensi Obyektif. Dalam point terakhir dari pandangan Gus Yahya yakni mengenai kami memilih jalan lain, mengajak umat Islam untuk menempuh visi baru, mengembangkan wacana baru tentang fikih, yaitu fikih yang akan dapat mencegah eksploitasi atas identitas, menangkal penyebaran kebencian antargolongan, mendukung solidaritas, dan saling menghargai perbedaan di antara manusia, budaya, dan bangsa-bangsa di dunia, serta mendukung lahirnya tatanan dunia yang sungguh-sungguh adil dan harmonis, tatanan yang didasarkan pada penghargaan atas hak-hak yang setara serta martabat setiap umat manusia. Daripada mengumpulkan semua umat islam dengan mendirikan Negara Khilafah yang cenderung simbolik dan potensi besar adalah dehumanisasi.

Aji Cahyono