Pemilih Prabowo Paling Banyak Tidak Punya Komitmen pada Nilai Demokrasi

Pemilih Prabowo Paling Banyak Tidak Punya Komitmen pada Nilai Demokrasi
©JPNN

Pemilih yang tidak punya komitmen atau rendah komitmennya pada nilai-nilai demokrasi memilih Prabowo Subianto 48 persen, Ganjar Pranowo 26 persen, dan Anies Baswedan 26 persen.

Sebaliknya, yang memiliki komitmen tinggi pada demokrasi, hanya 29 persen yang memilih Prabowo, sementara yang memilih Ganjar 39 persen dan Anies 33 persen.

Demikian temuan studi Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) sebagaimana yang disampaikan Prof. Saiful Mujani dalam program ‘Bedah Politik bersama Saiful Mujani’ episode “Nilai-nilai Demokrasi dan Pilihan Capres” melalui kanal YouTube SMRC TV pada Kamis, 20 Juli 2023.

Saiful menjelaskan bahwa tiga nama bakal calon presiden memiliki latar belakang dan pengalaman politik yang berbeda. Prabowo berkarier sebagai tentara pada zaman otoritarian Orde Baru yang anti pada nilai-nilai demokrasi.

Sementara Ganjar memulai kariernya sebagai politisi di ujung Orde Baru, dan menjadi aktivis Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang menentang Orde Baru. Dia memulai kariernya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di masa Reformasi.

Anies relatif sama dengan Ganjar, namun dia berkarier politik setelah Indonesia mengalami reformasi.

Melihat dari latar belakang yang berbeda ini, asumsi atau hipotesis yang terbangun adalah kalau masyarakat punya komitmen yang kuat pada demokrasi, kemungkinan mereka tidak mendukung Prabowo, sebaliknya akan cenderung mendukung Ganjar atau Anies.

Di sini kita melihat bahwa orang yang mendukung Prabowo mungkin tidak melihat bahwa nilai-nilai demokrasi itu penting atau setidaknya mereka menganggap nilai-nilai demokrasi itu bukan sesuatu yang lebih penting dari faktor yang lain. Itu sebabnya mereka tetap memilih Prabowo walaupun dia memiliki rekam jejak yang tidak positif dalam hubungannya dengan demokrasi dan nilai-nilai human rights.

Baca juga:

Jadi Prabowo mungkin dipilih dengan dasar bahwa nilai-nilai demokrasi itu bukan sesuatu yang sangat penting dalam menentukan pilihan mereka. Sebaliknya, mereka yang tidak menilai penting demokrasi kemungkinan tidak memilih Ganjar. Hipotesis itu akan sah sejauh konsisten dengan fakta empiris.

Saiful menjelaskan bahwa ada banyak nilai demokrasi yang dijadikan sebagai ukuran dalam pelbagai studi. Namun dalam konteks studi ini, dibatasi hanya tiga ukuran nilai demokrasi yang semuanya bertumbuh dari konsep kebebasan.

Kebebasan, lanjut Saiful, adalah konsep yang sangat esensial dalam demokrasi. Yang membuat demokrasi berbeda dengan otoritarianisme adalah karena dalam demokrasi, nilai-nilai kebebasan dijadikan fondasi.

Sementara dalam otoritarianisme, bukan kebebasan yang menjadi fondasi, sebaliknya adalah suatu bentuk pemerintahan yang lebih menekankan pada stabilitas dan hirarki sistem yang tidak menoleransi aspek-aspek kebebasan dan nilai-nilai hak asasi manusia.

Variabel pertama adalah kebebasan berpendapat. Variabel kedua adalah kebebasan berkumpul, baik untuk mendirikan organisasi sosial, mendirikan partai politik, ikut serta dalam partai politik, dan sebagainya. Komponen ketiga adalah kebebasan rakyat untuk mengkritik pemerintah.

SMRC melakukan studi tentang komitmen warga pada nilai-nilai demokrasi di Desember 2022. Studi ini menemukan sangat sedikit orang yang menyatakan kebebasan berpendapat itu kurang atau tidak penting sama sekali, sekitar 6,5 persen. Sementara yang menyatakan sangat penting 60 persen dan cukup penting 30,2 persen.

Jika digabungkan antara yang menyatakan sangat atau cukup penting, jumlahnya mencapai 90,2 persen.

“Di masyarakat, perhargaan pada nilai-nilai kebebasan sangat tinggi. 9 dari 10 orang Indonesia menilai bahwa kebebasan berpendapat itu penting,” jelas Saiful.

Halaman selanjutnya >>>