Pemilih Prabowo Paling Banyak Tidak Punya Komitmen pada Nilai Demokrasi

Seberapa penting kebebasan berkumpul atau berserikat? Ada 83,9 persen publik yang menilai hal tersebut sangat atau cukup penting, yang menilai kurang atau tidak penting 12,2 persen, dan tidak jawab 3,9 persen.

“8 dari 10 orang Indonesia menganggap kebebasan berkumpul dan berserikat itu penting atau sangat penting,” jelas pendiri SMRC tersebut.

Dalam hal pentingnya kebebasan untuk mengkritik pemerintah, terdapat 84,3 persen publik yang menilai hal itu sangat atau cukup penting, kurang atau tidak penting 12,9 persen, dan tidak jawab 2,7 persen.

Saiful menjelaskan bahwa secara umum, mayoritas masyarakat Indonesia menganggap kebebasan berpendapat, berkumpul, dan mengkritik pemerintah sebagai hal yang penting.

Selanjutnya Saiful menjelaskan bahwa ketiga variabel kebebasan tersebut kemudian digabungkan menjadi indeks komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi. Dalam rentang 0 sampai 100 di mana 50 ke atas adalah skor yang tinggi dan 50 ke bawah rendah, maka indeks dukungan publik yang tinggi pada kebebasan atau nilai-nilai demokrasi 92,3 persen, sementara yang rendah 7,7 persen.

Dari 92,3 persen yang memiliki komitmen tinggi pada nilai-nilai demokrasi, 33 persen memilih Anies, 39 persen memilih Ganjar, dan 29 persen memilih Prabowo.

“Selisih Anies dan Ganjar sekitar 6 persen, sementara selisih Ganjar dengan Prabowo sekitar 10 persen,” jelas Saiful.

Sebaliknya, 7,7 persen yang memiliki komitmen rendah pada nilai-nilai demokrasi, 48 persen memilih Prabowo, sementara yang memilih Anies dan Ganjar masing-masing 26 persen.

Baca juga:

Saiful menyatakan bahwa jika yang bersaing adalah antara Anies dengan Ganjar, maka komitmen pada demokrasi bukan faktor yang penting.

“Penjelasan komitmen pada nilai-nilai demokrasi tidak meyakinkan secara statistik untuk dua tokoh ini (Anies dan Ganjar),” kata Saiful.

Namun jika yang diperbandingkan adalah antara Prabowo dengan Ganjar atau dengan Anies, faktor komitmen pada demokrasi menjadi signifikan. P-value dalam analisis Chi-squared sebesar 0,003, lebih kecil dari 0,05, yang berarti hubungannya signifikan secara statistik.

Apa yang membuat hal itu signifikan secara statistik adalah perbedaan antara pemilih yang memiliki komitmen tinggi pada demokrasi pilihannya pada Ganjar dan Prabowo berbeda dan memiliki selisih yang signifikan. Di sisi lain, pada pemilih yang memiliki komitmen rendah pada nilai-nilai demokrasi, hampir separuhnya memilih Prabowo (48 persen) dan berbeda sangat signifikan dengan yang memilih Ganjar (26 persen).

“Dilihat dari sisi ini, pemilih yang punya komitmen pada nilai-nilai demokrasi cenderung lebih memilih Ganjar, sementara yang kurang memiliki komitmen pada nilai-nilai demokrasi cenderung memilih Prabowo,” jelas Saiful.

Kenapa demikian, lanjut Saiful, karena dua tokoh ini memiliki latar belakang nilai-nilai politik dan pengalaman langsung dengan dunia politik yang berbeda. Prabowo dibesarkan dan berkarier di Angkatan Darat pada masa otoritarianisme Orde Baru. Sementara Ganjar mulai berkarier di dunia politik pada masa awal Reformasi atau akhir dari otoritarianisme Orde Baru. Sejak muda, Ganjar cenderung beroposisi terhadap rezim otoritarianisme Orde Baru.

Lebih jauh Saiful menjelaskan bahwa mungkin saja hubungan signifikan antara komitmen pada demokrasi dengan pilihan pada calon presiden karena pengaruh dari faktor lain seperti pendidikan dan generasi. Karena itu, Saiful menganalisis hubungan antara komitmen pada nilai-nilai demokrasi dan pilihan presiden dengan kontrol pada variabel pendidikan dan generasi.

Studi ini kemudian membuat analisis regresi dengan tiga independent variable: komitmen pada demokrasi, tingkat pendidikan, dan perbedaan generasi.

Baca juga:

Dalam analisis multivariat ditemukan bahwa faktor generasi tidak signifikan berpengaruh dalam pilihan pada presiden. Sementara aspek pendidikan memiliki hubungan signifikan dan negatif pada pilihan terhadap Prabowo. Demikian pula faktor dukungan atau komitmen pada nilai-nilai demokrasi tetap punya hubungan signifikan negatif pada pilihan terhadap Prabowo.

Walaupun variable pendidikan dan perbedaan generasi dimasukkan dalam analisis regresi, faktor komitmen pada nilai-nilai kebebasan atau demokrasi tetap memiliki hubungan negatif dan signifikan pada pilihan terhadap Prabowo. Karena itu, menurut Saiful, komitmen pada nilai-nilai demokrasi kemungkinan besar memiliki nilai yang cukup independen pengaruhnya atas pilihan calon-calon presiden.

Orang yang memiliki komitmen pada nilai-nilai demokrasi cenderung akan menggerus suara Prabowo. Sebaliknya, hal itu tidak berpengaruh secara signifikan pada Anies dan Ganjar.

“Kalau komitmen pada nilai-nilai demokrasi naik di kalangan pemilih, misalnya yang awalnya menganggap nilai-nilai demokrasi cukup penting menjadi sangat penting, hal tersebut akan menggerus suara Prabowo. Sebaliknya, bila komitmen pada nilai-nilai demokrasi semakin rendah, misalnya dari yang sebelumnya menyatakan cukup penting menjadi tidak penting, itu akan memperkuat dukungan pemilih pada Prabowo,” simpulnya.

*Sumber: SMRC