Pemilu Selesai, Kita Kembali Mencangkul Mimpi dan Menanam Derita

Pemilu Selesai, Kita Kembali Mencangkul Mimpi dan Menanam Derita
©Detik

Pemilu Selesai, Kita Kembali Mencangkul Mimpi dan Menanam Derita

Mentari muncul perlahan menerangi bumi yang berjuluk Tanah Borneo ini. Panas membakar amarah para tim sukses yang kalah bertarung secara politik dalam pemilu yang akut dan bising baru-baru ini.

Seperti biasanya, netizen akan saling menghujat mendewakan dukungannya. Saling kelahi secara argumen, menuduh dan menghakimi atas nama pilihan. Dan itulah negeri kita tercinta, Indonesia.

Seperti hari-hari sebelumnya saat saya menulis, duduk di kedai kopi sederhana nan murah di tengah kota. Menikmati secangkir kopi dan beberapa batang rokok, sesekali menatap keluar melihat orang lalu-lalang, bekerja siang dan malam. Mereka terlihat seperti diburu bayang-bayang nasib derita. Tampak seperti ketakutan sebab takdirnya mengerikan dan siap menerkam layaknya iblis.

Kehidupan menyajikan banyak drama, tetapi bagi orang sepertiku drama itu nyata dan menyayat hati setiap hari. Orang kecil sepertiku sebenarnya tak punya alasan untuk bertahan hidup. Hanya saja terlalu naif dan pengecut untuk bunuh diri secara massal.

Terbukti saat Pemilu tiba, saya hanya bisa menyumpahi para elite yang mempertontonkan perut buncitnya di TV saat kampanye. Saya tidak bisa menghalangi, terlebih melawan mereka secara langsung. Tetapi saya harus bersyukur karena masih bisa menertawai seraya menuliskannya dengan sangat merdeka.

Saat pemilu tiba, kelompok mayoritas, golongan rentan, kaum miskin sesamaku. Tak pernah jadi soal. Hanya seperti domba yang digiring ke TPS, dihibur lewat sosial media, lalu dilucuti kembali dengan penderitaan yang panjang.

Hal itu terus diwariskan dari generasi ke generasi. Tetapi beberapa orang menikmati, sebagian lainnya tak menyadari, kemudian selebihnya sama sepertiku, pasrah menerima kenyataan pahit.

Baca juga:

Lagi pula, kalau bisa jujur, belum pernah saya menyaksikan pesta demokrasi yang menghasilkan kegembiraan kecuali menuai pertikaian dan perpecahan. Tapi itulah negeri kita, negeri yang selalu rela membayar mahal demi menghasilkan penderitaan. Agar dapat menjadi tontonan mereka sambil berbagi makan enak, dan minum bir bersama perempuan simpanannya di luar negeri.

Penguasa negeri ini menginginkan itu semua, sebab itulah kita terus dibodohi dan didesain untuk memenangkan presiden lalu kembali seperti biasa, mengeluh jalan rusak, gaji rendah, kebutuhan banyak, mengurus berkas dipersulit. Kemudian kita sadar, dari semua polemik ini tak satu orang pun yang peduli.

Kita tak pernah jadi polemik di mata mereka, jangankan tangis darah, atau nyaring bunyi perut lapar. Bahkan mati pun, kita bukanlah apa-apa. Petani akan kembali sibuk dengan cangkul-cangkulnya. Demikian pemuda akan seperti biasa dengan gaya dan kebiasaan tidur di atas perut kekasih lamanya, pun pengangguran akan menjalani hari-harinya dengan segudang keluh akibat tagihan menumpuk lantarak kalah main slot.

Sebagai generasi muda atau merasa masih sangat muda, saya tidak pesimis. Kita semua optimis dengan negeri ini. Hanya saja para petinggi terlalu kejam, penguasa kian picik dan terus menipu kita dengan berbagai macam cara yang brengsek dan tak pernah masuk akal.

Saya sebenarnya tidak pernah memilih. Karena sadar, nasib kita tak pernah berubah hanya karena memilih mereka yang punya segalanya sejak masih dalam kandungan. Walau banyak yang bilang saya apatis, saya tidak berkontribusi terhadap demokrasi.

Saya sebenarnya tidak sepakat dengan anggapan ini terhadapku, karena saya taat bayar pajak, saya menyumbang nol koma sekian persen untuk negara, agar dapat menggaji pejabat untuk terus melayani yang lain. Atau paling tidak, saya menyumbang untuk negara agar dapat diperebutkan sebagai makanan kenyal pagi pejabat yang rakus dan doyang korupsi.

Jadi menurut saya, selama seseorang terlibat bayar pajak. Selama itu ia berkontribusi terhadap negara, pun di dalamnya andil dalam membangun demokrasi. Tidak banyak yang saya ulas mengenai dugaan kecurangan pemilu, atau bobroknya sistem pemungutan suara. Saya hanya akan fokus mengumbar keluhan saya dan orang-orang yang senasib denganku, yang terus merasa berada dalam tatanan yang kacau, dan tak pernah merasa terwakili oleh pejabat manapun.

Kopi saya hampir habis, rokok sisa dua batang. Sementara tulisan ini belum selesai. Keluhan saya sebagai pengangguran terlalu banyak. Di lain sisi, harapan tentang kemajuan bangsa dan negara telah lebur bersama adukan kopi yang sesak diminum bersama ampasnya.

Baca juga:

Tulisan ini saya buat sebenarnya hanya untuk mengingatkan pada pembaca yang semiskin diriku, bahwa kita bukan apa-apa. Tak lebih dari sekadar penambah angka dalam setiap ststistik perpanjangan masa kuasa.

Kita hanyalah orang-orang yang kurang beruntung, terlahir miskin di Indonesia, dengan terus berteriak dan berusaha agar kelak para pejabat dan petinggi negeri ini yang korup, bisa mati mengenaskan tanpa iringan ayat suci.

Saya hanya berpesan kepada semua kaum muda yang masih berjuang di luar sana. Agar teruslah melawan, berhentilah bermimpi akan dapat banyak dari mereka, berusahalah sendiri.

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.” ― Pramoedya Ananta Toer.

Burhan SJ