Pemilu Usai, Lalu Apa?

Pemilu Usai, Lalu Apa?
©Liputan6

Pemilu Usai, Lalu Apa?

Acara lima tahunan yang bertepatan dengan hari valentine itu sudah berlalu 14 Februari kemarin. Tetapi apakah ini benar-benar hanya akan berlalu begitu saja? Apa hal yang perlu kita renungkan sebagai bahan introspeksi bersama? Adakah teman-teman yang kepikiran harus melakukan apa setelah Pemilu 2024?

Sebagai warga yang tinggal di negara demokratis, kita dibebani akan tanggung jawab untuk turut ikut serta dalam penyelenggaraan pemerintahan dan urusan kenegaraan. Setelah Pemilu 2024 ini, kita memiliki catatan tentang hal-hal yang perlu diperhatikan terkait kehidupan bernegara ke depannya.

Pendidikan Politik

Demokrasi telah membuka pintu bagi warga untuk memilih pemimpin berdasarkan suaranya sendiri, bahkan jika suara itu pun dikeluarkan dengan pertimbangan yang irasional sekalipun. Meskipun normalnya akal sehat adalah barang wajib yang dimiliki setiap orang, tetapi tampaknya pertimbangan yang rasional belum menjadi standar wajib bagi setiap pemilih dalam menggunakan suaranya.

Pemimpin-pemimpin yang populis masih lebih diminati dibandingkan mereka yang menawarkan gagasan dan integritas. Diskursus publik selama ini hanya menggema di ruang-ruang ekslusif, tidak membumi di akar rumput, tempat di mana masyarakat yang sesungguhnya paling rentan terkena dampak dari kebijakan pemerintah itu hidup.

Satu hal yang menjadi catatan penting bagi negara kita setelah Pemilu 2024 adalah masih rendahnya pendidikan politik bagi masyarakat di lapisan bawah. Banyak yang tidak mengerti apa pentingnya politik bagi mereka, apa pentingnya memilih pemimpin dengan pendekatan dan cara yang benar, padahal itu terkait dengan  kehidupan sekeliling mereka.

Di luar sana, masih banyak yang belum paham apa esensi dari demokrasi dan bagaimana itu bisa meningkatkan taraf hidupnya sebagai warga negara. Anak-anak di sekolah tidak hanya harus hafal apa definisi Trias Politica itu, tetapi memahami bagaimana mereka bisa berkontribusi terkait penyelenggaran politik di republik ini.

Proyek Mercusuar

Proyek pembangunan dan kebijakan pemerintah yang dirasa hanya untuk hura-hura dan tanpa memiliki kebermanfaatan yang begitu berarti jika dibandingkan ongkos keluar adalah hal yang harus menjadi perhatian masyarakat selepas pemilu ini di bawah pemerintahan yang baru.

Baca juga:

Kenapa kita wajib menolak proyek-proyek mercusuar ini? Karena sangat tidak berpihak pada kepentingan publik! Dari mana mereka membiayai pembangunan ini? Tentu saja dari uang rakyat, dari APBN, maka sudah sepenuhnya itu dihabiskan untuk kepentingan rakyat. Bukan soal keagungan masa pemerintahan mereka, apalagi hanya agar ada warisan yang bisa dibanggakan setelah mengukir nama mereka untuk terus-menerus disanjung dalam sejarah.

Pembangunan yang terencana dan bertahap sesuai skala prioritas (paham apa yang harus didahulukan, bukan gagah-gagahan), menggunakan pinjaman luar negeri dengan bijak dan tidak diinvestasikan pada pengeluaran-pengeluaran untuk proyek yang sifatnya konsumtif, semua itu adalah bentuk kehati-hatian dalam menggelontorkan anggaran untuk pertumbuhan ekonomi negara ini. Agar apa? Ya tentu saja pastinya demi menghindarkan kita dari pengeluaran yang salah sasaran dan tidak tepat guna.

Program-program dan kebijakan yang dibuat pemerintah harus selalu kita awasi jika tidak ingin kecolongan, meloloskan proyek mercusuar hanya akan menimbulkan penderitaan baru bagi rakyat, akibat dari dana yang seharusnya disalurkan untuk kebutuhan A malah didapatkan oleh selain kebutuhan A.

Partisipasi Masyarakat

Demokrasi merupakan pemerintahan dari rakyat, dan diwujudkan dengan pemberian kewenangan kepada masyarakat berupa partisipasi. Partisipasi masyarakat disini bisa berupa pengawasan atau bisa berupa penyaluran aspirasi dan pendapat terkait kebijakan publik serta pembangunan.

Strategi dan arah pembangunan nasional itu sudah seharusnya dilakukan dengan pendekatan bottom-up yakni diawali dengan keluhan dari masyarakat di bawah dan kemudian didengar oleh para pemangku jabatan untuk segera dicarikan solusinya. Agar negara dapat benar-benar hadir dan menunjukkan keseriusannya dalam upaya penyelesaian permasalahan yang muncul di tengah masyarakat.

Selepas masa kampanye dan Pemilu berakhir, rakyat harus kembali bersatu demi menyudahi masa-masa menjadi pendukung dan suporter paslon pilpres. Mereka harus mengerti apa prioritas mereka. Di sinilah masyarakat hadir sebagai pihak yang mengawasi dan menjadi penyengat akan kinerja pemerintah, rakyat harus terus berjuang, bahkan setelah Pemilu usai lalu pasangan calon presiden dan wapres yang mereka jagokan menang, maka itu bukan waktunya bersuka ria, namun itu awal untuk perjuangan mengawal masa pemerintahan yang baru.

Bukan soal kemenangan paslon B, ataupun kekalahan paslon A ataupun C, tetapi bagaimana rakyat itu bisa memanfaatkan perannya sebaik mungkin dalam sistem demokrasi ini agar tidak dimangsa habis oleh penguasa yang sudah mereka angkat tersebut, satu frasa yang mungkin mewakili ‘bertahan hidup’.

Saya rasa hal yang paling menyedihkan dari berakhirnya setiap kontestasi politik para elit ini adalah rakyat hanya mendapatkan ampas sisa dan getahnya saja, yang paling buruk di saat mereka dimanfaatkan untuk kepentingan elit. Lalu terjadi konflik horizontal, masyarakat saling gontok-gontokan, bagaimanapun juga ini menyedihkan.

Kondisi yang ideal adalah saat di mana elite saling sikut dan memakan satu sama lain sedangkan kita rakyat bersatu padu untuk merawat ekosistem demokrasi yang ada, menjadi makin dewasa.

Baca juga:
M. Nafis Athallah
Latest posts by M. Nafis Athallah (see all)