Pemimpin Perempuan dalam Kacamata Gus Dur

Pemimpin Perempuan dalam Kacamata Gus Dur
©Kepanjen

Perdebatan soal kepemimpinan perempuan hingga kini masih menjadi perdebatan sengit, terutama di kalangan para politisi. Banyak tuduhan subjektif dari para kaum lelaki yang diacungkan pada perempuan saat menjadi pemimpin.

Bahkan ayat-ayat al-Qur’an-pun khususnya surah An-Nsa’ ayat 34 dijadikan alat untuk melegitimasi kedudukan laki-laki di atas perempuan. Apalagi ayat tersebut diperkuat dengan hadis yang menyatakan “Akan rusak suatu kaum yang dipimpin perempuan”.

Hadis itu jelas ahistoris. Sebab jauh sebelum Islam datang, nyatanya banyak para pemimpin perempuan yang berhasil memimpin negaranya.

Dalam ayat itu, secara harfiah memang menyebutkan bahwa laki-laki menjadi pelindung bagi perempuan. Namun ayat ini tidak bisa dipahami secara tekstual begitu, apalagi sampai dibawa ke dalam ranah politik.

Dalam penafsiran An-Nisa ayat 34 tersebut, ditemukan dua pengertian yaitu laki-laki memiliki tanggung jawab secara fisik terhadap keselamatan perempuan dan yang kedua laki-laki lebih pantas memimpin negara dari pada perempuan.

Melihat dua penafsiran di atas, tentunya kaum politisi lebih sepakat pada penafsiran kedua. Dalam alam pikiran mereka bahwa pemimpin itu laki-laki yang gagah berani dan berwibawa.

Budaya patriarki yang masih mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat memunculkan stigma bahwa perempuan berada di bawah laki-laki. Maka dari itu Gus Dur melakukan penafsiran ulang terhadap surat An-Nisa’ ayat 34 di atas. Menurut Gus Dur, penafsiran ayat tersebut harus melihat konteks dan asbabun nuzul ayat itu diturunkan.

Para kaum agamawan pun dalam menafsirkan Al-Qur’an masih banyak yang patriarkis dan bias gender. Penafsiran-penasiran tersebut bahkan diperkuat dengan ungkapan-ungkapan tekstual yang masih dipegang kuat oleh beberapa ulama konservatif, misalnya ungkapan perempuan menjadi sumber fitnah, perempuan hanya memiliki separuh akal, laki-laki lebih unggul dari perempuan.

Baca juga:

Segala macam labeling negatif seperti itu selalu melekat pada diri perempuan. Selain itu, dalam persoalan warisan, banyak penafsiran yang menyudutkan posisi perempuan hanya karena laki-laki mendapat warisan lebih banyak dari pada perempuan.

Gus Dur berusaha meluruskan pandangan-pandangan konservatif yang bias gender ini agar laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama. Islam tidak pernah mengajarkan diskriminasi dan berbuat sewenang-wenang pada orang lain.

Namun yang menjadi persoalan adalah penafsiran-penasiran subjektif dan bias gender. Hal seperti ini pada giliranya dapat membawa pemahaman dan tindakan sewenang-wenang.

Padahal sudah jelas dalam surat al-Hujurat ayat 13 bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan seimbang. Ayat ini mengisyaratkan adanya sebuah persamaan dan kesederajatan.

Secara biologis, perbedaan laki-laki dan perempuan dapat diamati dan ini merupakan sunatullah yang tidak dapat dipertukarkan. Namun dalam hal peran tentunya masih bisa dikomprompikan. Misalnya jika selama ini yang mengurus soal rumah tangga identik perempuan, kini peran tersebut bisa dipertukarkan atau dibagi sesuai kesepakatan agar tidak ada yang merasa  dibebani.

Sebagai seorang negarawan, Gus Dur selalu memperjuangkan nasib kaum minoritas, termasuk hak-hak perempuan. Melalui nilai keadilan, kesetaraan, kebebasan, dan kemanusiaan, Gus Dur menempatkan posisi manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki derajat sama.

Memang secara khusus Gus Dur tidak berbicara kesetaraan gender. Namun jika ditelisik dari buah pemikiran Gus Dur, akan ditemui banyak simpul-simpul yang mengarah pada aspek kesetaraan gender.

Dalam mendukung pemberdayaan perempuan, Gus Dur melalui istrinya Ibu Sinta Nuriyah A. Wahid mendirikan sebuah yayasan Puan Amal Hayati, yaitu sebuah yayasan yang mengkaji ulang teks-teks keagamaan yang dinilai misoginis dan diskriminatif terhadap perempuan.

Baca juga:

Sehingga out put yang dihasilkan yaitu lahirnya penafsiran baru dan bersifat fresh. Ibu Sinta Nuriyahlah yang menjadi pimpinan yayasan Puan Amal Hayati ini.

Secara tidak langsung Gus Dur membela kesetaraan gender dan perempuan punya hak yang sama dalam berkarier dalam dunia publik. Sudah saatnya kita menanggalkan pemahaman-pemahaman primitif dan dangkal mengenai kedudukan perempuan yang selalu dipandang rendah.

Dalam laku hidupnya pun, Gus Dur selalu berjalan pada nilai-nilai di atas. Hal ini terlihat pada komitmen Gus Dur yang tidak berpoligami sampai akhir hayatnya. Gus Dur adalah tipe orang yang setia pada satu wanita yaitu istrinya, Ibu Sinta Nuriyah.

Ferry Fitrianto
Latest posts by Ferry Fitrianto (see all)