Pemuda Berkarya, Pemuda Menyejarah

Pemuda Berkarya, Pemuda Menyejarah
©Maxres

Bagaimanakah karakteristik pemuda yang mampu membangun suatu peradaban dalam negerinya sehingga dapat berkarya dan menyejarah?

Pemuda merupakan aset negara. Baik-buruknya suatu suatu negara 10 sampai 20 tahun ke depan tergantung pada jiwa-jiwa pemuda-pemudinya. Pemuda merupakan tongkat estafet kemajuan suatu negara. Tanpa pemuda, suatu negara tidak akan kokoh.

Harapan negara begitu besar terhadap eksistensi pemudanya yang dapat mengambil peran ikut andil membangun negeri dengan kreativitas dan produktivitas. Berani melangkah maju demi keutuhan negara dalam menghadapi gelegak arus globalisasi yang terus bergerak.

Lantas bagaimanakah jika nyatanya pemuda-pemudi di suatu negara tidak mampu untuk menjadi regenerasi bagi kemajuan bangsa? Apakah yang akan terjadi? Mampukah negara melawan problematika bangsa ke depan?

Bangsa hari ini ialah bangsa yang terus bergerak dan berubah dalam era demokrasi dan globalisasi. Kemajuan dan persaingan makin tinggi menjadikan suatu tantangan bagi pemuda-pemudi untuk terus menggali potensi dan kemampuan diri dalam mengimbangi persaingan tersebut.

Presiden Ir. Soekarno dengan semangat menggeloranya ketika berpidato pernah berkata, “Berikan aku 10 pemuda maka akan kuguncangkan dunia.” Pidato ini menjadi pesan tersirat dari Presiden Soekarno untuk menjadikan api semangat yang memotivasi pemuda, di mana pemuda dapat menjadi tonggak perubahan bagi suatu bangsa. Perubahan besar dapat terjadi dengan tekad, semangat juang, dan keberanian pemudalah yang dapat memperkuat suatu negara.

Namun sebaliknya, jika hari ini pemuda hanya berpangku tangan dengan sibuk mengurung diri tanpa aksi dan kreativitas, kita semua akan kehilangan peluang besar dalam menghadapi gelegak arus kemajuan globalisasi. Masa muda adalah masa di mana seseorang dapat terombang-ambing dengan keadaan yang negatif akibat nafsu yang tidak terkendali juga pada situasi dan kondisi lingkungan kurang baik.

Darah muda masa di mana kita merasa yang paling hebat, benar, dan tidak memedulikan keadaan. Sehingga tak heran banyak para pemuda terperosok ke jalan yang tidak diinginkan oleh bangsa dan negara. Pergaulan bebas, minum-minuman keras (miras), pesta narkoba, hamil di luar nikah, pacaran, geng motor, pencurian, begal, dan bahkan masif terjadi pemerkosaan dilakukan oleh kalangan pemuda-pemudi.

Masa yang berapi-api inilah pemuda perlu lewati dengan penuh dramatik. Pemuda yang hebat dan berjiwa besar tidak akan melakukan hal yang dapat melecehkan keadaan suatu bangsanya, melainkan mereka akan senantiasa berkata “Inilah diriku” yang akan mengandalkan dirinya sendiri, mandiri dan penuh semangat dalam membentuk kepribadian yang berbudi pekerti.

Pemuda tidak boleh hidup dalam kungkungan individualis serta apatis. Namun, mereka harus memiliki semangat jiwa sosialis yang peka akan keadaan suatu bangsa dan masyarakatnya. Lihatlah sejarah, tengoklah sejarah back to history bagaimana kemudian para pemuda berjanji bersumpah akan bahasa yang satu, berbangsa satu, dan bertanah air satu. Itu semua lahir dari pemuda-pemudi yang memiliki ghirah membangun peradaban terhadap bangsanya.

Bangsa ini membutukan pemuda-pemudi yang berkarakter yang mampu ber-KARYA bukan sekadar gaya. Bangsa ini merindukan pemuda-pemudi yang tangguh, inovatif, kreatif, jujur, berdedikasi tinggi, berintegritas, terampil, dan agamis. Pemuda harus sadar akan peran dan fungsinya seperti apa dan bagaimana.

Baca juga:

Apalagi mereka yang bergelar mahasiswa sebagai agent of change (pembawa perubahan), social of control (pengontrol sosial), direct of change (perubahan secara langsung) yang ini semualah menjadi titik sentral kemajuan suatu bangsa tentunya dengan ditopang dengan semangat keilmuan, baik sains maupun agama.

Imam Syafi’i pernah berkata, “Hidupnya seorang pemuda demi Allah hanya dengan dua, yakni ilmu pengetahuan dan agama. Jika keduanya tidak, maka pemuda takkan berguna.”

Mengingat betapa besar sumber daya potensi sekaligus emosi yang ada pada pemuda, maka sepantasnyalah segenap masyarakat membimbing mereka agar menjadi pemuda idaman yang mulia menurut Allah SWT. Maka dari itu, cara yang paling efektif dengan melibatkan pemuda ke dalam berbagai aktivitas yang positif dan konstruktif, membina serta mendidik mereka dengan rutin dengan siraman kebaikan, membentengi pemuda-pemudi agar tidak terjebak ke dalam perbuatan nista, zina, dan kejahatan.

Maka bagaimanakah karakteristik pemuda yang mampu membangun suatu peradaban dalam negerinya sehingga dapat berkarya dan menyejarah?

Pertama ialah mereka yang mampu membuang rasa malas. Di era globalisasi ini, sangat disayangkan bagi mereka para pemuda yang hanya sibuk rebahan tanpa memanfaatkan keadaan dengan membangun produktivitas apalagi di tengah pandemi Covid-19. Misalnya, ikut menulis puisi, cerpen, opini serta lomba esai sebagai langkah membangun potensi diri.

Kedua, pemuda yang lebih mengedepankan aksi nyata ketimbang beradu opini yang berujung caci maki sesamanya. Di situasi pandemi ini, pemuda dituntut agar ikut andil dalam membantu mengedukasi, membimbing serta membantu masyarakat untuk gotong royong meringankan beban mereka di tengah pandemi Covid-19.

Ketiga, pemuda yang gemar membaca. Kita ketahui bersama bahwa buku merupakan jendela pengetahuan. Dengan membaca akan menambah wawasan seseorang terutama pemuda. Dengan membaca mampu memenjarakan kebodohan yang masih bertebaran di luar sana.

Pemuda yang berkarakter akan senantiasa meluangkan dirinya membaca buku, bukan sekadar membaca status di medsosnya. Dengan membaca juga pemuda tidak mudah terprovokasi dengan berita yang tidak jelas alias hoax.

Keempat, pemuda yang senantiasa mencintai kedamaian. Pemuda sejati ialah mereka yang dapat merefleksikan sumpahnya dengan perbuatan nyata. Momen sumpah pemuda menjadi saksi bahwa bukan sekadar berbahasa satu melainkan berbangsa satu serta bertanah air satu. Ini menjadi bukti bahwa pemuda tak boleh pilih kasih, diskriminasi, menghina bahkan mencaci golongan lain selain golongannya karena sejatinya pemuda yang berkarakter mampu menciptakan kedamaian antar-sesama tanpa memandang suku, ras dan agama.

Kelima, memiliki jiwa spiritual yang tinggi. Penceramah kondang KH Zainudin MZ pernah berkata bahwa jika ada orang tua yang pergi ke masjid untuk beribadah itu merupakan hal biasa, mungkin karena umurnya yang sudah masuk jenjang. Tetapi akan mengagetkan jika yang demikian dilakukan oleh banyak kalangan pemuda.

Lihatlah realitas sekarang bahwa pemuda-pemudi kita tidak kurang dari segi intelektual dan emosionalnya, melainkan pada sisi spiritualnya sehingga inilah yang dapat merusak regenerasi bangsa dalam menciptakan pemuda yang mampu berkarya dan menyejarah.

Baca juga:
    Ibnu Azka