Pemuda dalam Arus Perubahan Sosial

Pemuda dalam Arus Perubahan Sosial
©WordPress

Berkat iktiar yang tulus dari para pemuda, perubahan sosial terjadi dalam gerakan aksi yang dilakukan.

Saat tanda-tanda kekalahan Jepang oleh sekutu mulai tampak, lahir perdebatan sengit antara golongan tua dan golongan muda perihal kemerdekaan Negara Indonesia. Berbagai masukan dan argumen telah dikeluarkan dan menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan kemerdekaan Indonesia.

Golongan muda mendesak untuk segera dilakukan proklamasi sebagai wujud kemerdekaan dan terbebasnya bangsa Indonesia dari penjajahan. Sementara itu, golongan tua menginginkan agar proklamasi kemerdekaan Indonesia ini dipertimbangkan dan melihat situasi yang baik.

Sejarah mencatat bahwa pemuda-pemuda yang mempunyai semangat berapi-api itu menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok dan mendesak untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Secara respresentatif, pemuda telah membangun konstruksi peradaban pemikiran pemuda dalam peran dan tanggung jawabnya sebagai pemuda dalam kemerdekaan Indonesia. Inilah realitas yang terjadi mengenai pemuda zaman kemerdekaan Indonesia.

Setelah itu, selepas berahlinya zaman Orde Lama, kita melihat peran pemuda dalam Orde Baru. Zaman ini kita kenal dan mungkin tak akan dilupakan bagi semua rakyat Indonesia. Bagaimana tidak, pada zaman ini, terjadi berbagai masalah, baik dari segi ekonomi, politik, SARA, hukum, dan permasalahan KKN.

Namun setelah itu, pemuda pada saat itu telah memberikan banyak kontribusi yang banyak untuk keberlangsungan hidup rakyat Indonesia. Tibalah pada tahun 98 di mana pemuda (mahasiswa) melakukan aksi sehingga merenggut banyak korban jiwa bahkan kasus HAM yang sampai sekarang tak kunjung diselesaikan.

Berkat iktiar yang tulus dari para pemuda, perubahan sosial terjadi dalam gerakan aksi yang dilakukan. Alhasil, presiden seumur hidup yang kita kenal bapak Soeharto turun dari jabatannya.

Parlemen Jalanan

Babak baru kehidupan tatanan rakyat Indonesia dimulai dengan senyuman tangis haru yang membasahi pergerakan pemuda yang saat itu berdoa agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi. Para pemuda bebas melakukan aktivitas diskusi dan mengeluarkan pendapat di depan umum secara bebas. Itulah yang kita kenal dengan demokrasi.

Namun sungguh disayangkan realitas yang terjadi apabila kita merasionalkan konstruksi identitas pemuda. Sejauh ini, jika menelaah dan mengkaji secara komprehensif pemuda saat ini, jauh dari harapan yang kita inginkan.

Bagaimana tidak, pemuda para hari ini seakan tidur lelap dalam pergerakan. Kalau kita melihat permasalahan yang terjadi di masyarakat, tentunya sebagai pemuda (mahasiswa) harus memiliki rasa iba yang sangat tinggi.[1]

Pergerakan perubahan sosial adalah manifesto mengenai nalar perubahan kemanusiaan sebagai penggerak manifestasi moralitas intelektual serta kritisme. Dalam tulisan ini, saya sekadar mencurahkan perasaan sedih saya sebagai penulis melihat realitas yang terjadi di dalam tubuh pergerakan pemuda.

Realitas yang Ada

Kemudian menjadi pertanyaan yang besar, mengapa harus pemuda yang menjadi titik berat dalam pergerakan perubahan sosial? Sebab pemuda (mahasiswa) dalam setiap momentum sejarah merupakan representasi dari golongan yang lebih luas. Untuk konteks Indonesia, kaum pemuda (mahasiswa) pernah bersepakat sebagai manusia-manusia Indonesia yang menyatakan diri sebagai satu bangsa dan satu tanah air.

Merdeka adalah tonggak sejarah dalam kemerdekaan dan perubahan sosial Indonesia. Olehnya itu, keterlibatan dalam semua aspek dalam perubahan sosial harus tetap melibatkan pemuda, karena kegagalan mereka adalah kegagalan negara Indonesia.

Seperti yang difirmankan Allah SWT dalam Q.S. Ali Imran ayat 104, yang artinya “Sekiranya ada segolongan umat yang menyeruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar, agar kamu bertakwa.

Ketika kita mengkaji ayat tersebut, tentunya segolongan itu adalah menjadi hal sangat penting, yaitu segolongan pemuda yang memberikan perubahan sosial yang mengarah lebih baik dan pemuda yang mencegah kepada perbuatan yang buruk. Pemuda menjadi agen pengontrol segala kebijakan penguasa sehingga mereka menjadi ingat dan bertakwa kepada sang pencipta.

Baca juga:

Peran pemuda dalam gerakan sosial pada hari ini hanya mengantarkan kita kepada realitas fenomena pengangguran aktivis. Bagaimana tidak, seakan pemuda hari ini diam dan bungkam akan segenap masalah yang ada di negara kita. Bahkan lebih parahnya intelektual kaum pemuda mereka jadikan sebagai ajang pamer intelektual, saling menyerang dan saling menjatuhkan satu sama lain demi mendapatkan gelar hebat.

Fenomena pengangguran aktivis/pemuda pada hari ini bukanlah kenyataan remeh-temeh yang harus dibiarkan.

Perkembangan terakhir yang terjadi dalam tubuh generasi muda adalah terombang-ambing ke dalam cakupan perdebatan. Apakah diskursus (wacana) dan kreativitas (praksis) harus dijadikan tolok ukur keberhasilan dalam gerakan perubahan siosial (me-manage isu-isu).

Topik diskusi yang menarik bahwa kaum muda (mahasiswa) pada saat ini dengan melihat kepragmatisan pemuda saat ini mengingatkan kita pada zaman Orde Baru dengan politik kampus yang diterapkan, yakni NKK/ BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus) mengalami suatu kenyataan baru tentang pragmatisnya kehidupan pemuda (mahasiswa) hari ini.

Implikasi yang terjadi secara riil, terhadap aktivitas mahasiswa atau generasi muda dibatasi aktivitasnya di kampus hanya dengan orientasi akademik belaka. Mahasiswa didoktrin agar memilki IPK yang tinggi dan cepat menyelesaikan studinya dan memilki pekerjaan yang tetap. Sementara masih banyak kegiatan sosial yang harus diselesaikan sebagai pemuda yang mempunyai tanggung jawab moral.

Akhirnya, sebagai pemuda (mahasiswa) marilah kita kembali ke khittah perjuangan pemuda saat negara ini dalam proses pencarian jati dirinya. Masih amat banyak masyarakat yang membutuhkan kita sebagai lisan-lisan perjuangan, membuat pergerakan menuju perubahan sosial dan mengembalikan kembali nyawa pergerakan pemuda dalam mengawasi dan mengontrol kebijakan penguasa.

Marilah kita bersama-sama ber-fastabiqul khairat untuk mendapatkan ridha dari Sang Khalik. Masih banyak rakyat yang dirampas haknya yang harus kita bantu. Bergeraklah mahasiswa! Mari kita ciptakan sejarah baru perjuangan pemuda dalam gerakan sosial. Mari kita beralih dari aktif menjadi proaktif dalam menangani semua maaslah sosial dalam kebangsaan, keummatan, dan kemasyarakatan kita.

[1] Khaidir, Piet H, Nalar Kemanusiaan Nalar Perubahan Sosial, Teraju, Mizan

Asman