Pemuda dan Republik Korupsi

Pemuda dan Republik Korupsi
CNN Indonesia

Korupsi merupakan kejahatan yang tergolong extraordinary crimes menggerogoti bangsa ini. Hampir setiap hari media massa, baik elektronik, cetak maupun media arus utama (meanstream) menyuguhkan kabar tentang korupsi.

Sebagai anak muda, rasanya gamang dan alergi dengan tingkah yang sedang dipertontonkan elite, layaknya sebagai pemain sinetron dadakan yang hampir setiap saat dihiasi dalam media.

Maka tidak ada cara lain menghentikan korupsi negeri ini adalah dengan melawannya. Sebagai Generasi Milenial, jangan sampai korupsi ini menjadi sesuatu yang biasa, way of life, sehingga membawa malapetaka bagi bangsa dan generasi penerus nantinya.

Kegelisahan sekaligus spirit, itulah sekelumit curahan hati dan pikiran Generasi Milenial soal korupsi. Kegelisahan muncul apabila korupsi menjadi barang yang gampang diobral oleh elite dan tidak pernah introspeksi diri, dan berpikir apa yang mereka mau wariskan untuk anak dan cucu mereka ke depan?

Kegelisahan muncul apabila sebagian generasi muda masa bodoh, karena sudah mengganggap bahwa korupsi adalah sesuatu yang biasa, sehingga pola pikiran tersebut terbawa kedepannya.

Mungkin ini sebatas curhatan sebagai Generasi Milenial. Agar budaya malu, mengajarkan yang baik bagi Generasi Milenial, agar menjadi generasi yang baik, akhlak dan moralnya untuk membangun bangsa.

Gerakan melawan korupsi mengingatkan saya bagaimana Budi Utomo, Organisasi pelopor kebangsaan yang dipelopori oleh orang-orang muda yang peduli terhadap kemiskinan dan pendidikan kaum pribumi. Kongres Pemuda II 1908 dan bagaimana Reformasi 1998 merupakan suatu pemberontakan terhadap sistem pemerintahan yang otoriter zaman Soeharto terutama pemerintahan paling korup selama Indonesia merdeka.

Tantangan Oligarki

Cukup menggelitik. Memori kolektif yang perlu dihadirkan kembali saat ini. Pasca pidato pembelaan yang dibacakan oleh Soekarno pada persidangan di Landraad, Bandung pada tahun 1930, “Indonesia Menggugat”.

Kita mengharapkan peran pemuda menjadi garda terdepan “Menggugat Indonesia” cengkraman korupsi. Gugatan menghidupkan kembali ruh Sumpah Pemuda, Budi Utomo cs dalam diri pemuda.

Semangat kebangsaan yang terus menggelora seluruh pelosok negeri. Menggetarkan suasana, ikhwal keindonesian yang berkeadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Memang tak semudah membalik telapak tangan. Mengingat sistem politik yang kental dengan pragmatis dan oligarki. Sekatan oligarki partai politik membuat perjalanan bangsa status quo, dan mematikan semangat perubahan.

Semangat Pemuda tidak diragukan dalam catatan sejarah bangsa ini. Sumpah Pemuda yang melahirkan persatuan dan kesatuaan bangsa menggetarkan nurani. Peran pemuda menurunkan rezim Orde Baru yang otoriter dan korup adalah catatan sejarah yang tak bisa dibantah.

Bagaimana pemuda menghadapi situasi sekarang? Pemuda sebagai agent of change selalu dan senantiasa mengaktualisasikan diri dalam tugas sosial kemasyarakatan maupun organisasi. Bersifat kritis dan melebur diri dalam diskursus anti korupsi.

Tantangan akan selalu ada.Pemuda akan diperhadapkan dengan warna partai yang oligarki, akan sulit berkembang bahkan idealisme luhur itu pun, akan luntur sendiri. Itulah konsekuensi dari demokrasi kita yang kebablasan.

Demokrasi yang bablas membuka peluang artikulasi politik pragmatis yang bertentangan dengan Pancasila mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Soekarno, sejak awal mengingat bahwa, demokrasi yang kita jalankan adalah demokrasi Indonesia, membawa kepribadiaan Indonesia sendiri. Jika tidak bisa berpikir demikian, kita nanti tidak menyelenggarakan apa yang menjadi amanat penderitaan rakyat itu” (1958).

Oleh sebab itu, dalam peliknya korupsi akhir-akhir ini, mestinya pemuda perlu menghidupkan kembali sendi-sendi demokrasi setiap individu maupun komunitas. Demokrasi bukan lagi hegemoni kelompok elit semata tetapi menjadi tugas bersama. Karena urusan bersama, maka pemuda hadir didalamnya secara aktif dan sadar.

Dengan kata lain, apapun situasinya pemuda harus tampil beda dan berpikir out of the box, mewujudkan Indonesia sejahtera jalan menuju perubahan.

Melawan Korupsi

Komitmen bangsa berantas korupsi perlu dibumikan. Korupsi masalah akut bangsa kita. Beberapa hari lalu kita disuguhkan Kepala Daerah yang ditangkap KPK.

Tercatat semakin banyak operasi tangkap tangan (OTT) tahun 2018 ini. Dan ratusan kepala daerah sudah ditetapkan tersangka oleh Komisi Pemberatasan Korupsi. Tentu ini menjadi evaluasi lebih mendalam, ada apa dengan birokrasi kita?

Noda hitam yang dialami birokrasi kita semakin hari semakin menjadi. Ada yang bilang karena konsekuensi sistem politik kita yang mahal mengalami kepala daerah melakukan korupsi. Dan itu, sah sah saja, bukan berarti menafikkan bahwa korupsi adalah kejahatan luar biasa (extra ordinary crime).

Dan dibutuhkan cara -cara luar biasa pula (exstra ordinary need) untuk memberantasnnya. Entah itu, lewat Undang-undang merevisi biaya politik atau aturan penyertaan lainnya. Intinya, perlu ada kultur birokrasi yang kedap korupsi mulai dari moralitas politisi atau birokrat itu sendiri.

“Generasi muda yang bekerja sebagai aparat birokrasi menjadi tumpuan dalam penyelenggaraan birokrasi. Karakteristik anak muda yang anti kemapanan, memiliki idealisme besar, kreatif dan berani selayaknya mampu diberdayakan sebagai daya pendorong utama lahirnya reformasi birokrasi. Berbagai terobosan dan keberanian perlu dilakukan oleh birokrat muda guna mempercepat laju perubahan yang dicita-citakan.

Beberapa aspek determinasi kinerja birokrasi yang perlu diperhatikan oleh birokrat muda di antaranya, menggerakkan birokrat muda, keberanian melakukan diskresi, orientasi terhadap perubahan, melawan paternalisme, etika pelayanan publik, kontrol dan pengaduan Publik, dan sistem intensif”, (Baca; Jurnal Integritas, “Peran Birokrat Muda sebagai Agen Utama Reformasi Birokrasi”).

Prilaku birokrasi dan politik yang feodalistik menghantarkan pemerintah yang korup. Tidak akan membuat suatu pemerintah berjalan sesuai bonum commmune yang diharapkan publik luas. Tetapi bagaimana menerapkan sikap feodalistik diadopsi dalam pemerintahannya.

Birokrasi kita perlu rejuvenasi kembali dan tampil dengan membawa semangat baru dalam perpolitikan dan birokrasi. Kepala daerah harus kreatif, inovatif dan melawan kebiasaan buruk yang instan dan memperkayai diri sendiri atau kelompok

    Kontributor

    Kontributor Nalar Politik
    Kontributor
    Share!