Pemuda: Dari Aktivis Perjuangan ke Aktivis Media Sosial

Pemuda: Dari Aktivis Perjuangan ke Aktivis Media Sosial
©Jejamo

Betapa bahagianya makhluk bernama pemuda, sang aktivis. Banyak orang selalu menyebut-nyebut namanya, baik dalam seminar-seminar, ruang-ruang diskusi, majalah, koran, maupun televisi. Tidak akan pernah bosan bila membincang makhluk yang bernama pemuda karena pengetahuannya yang luwes dan semangatnya yang selalu energik.

Bayangkan, dari saking hebatnya pemuda, seorang Bung Karno, Sang Proklamator Bangsa, sampai berkelakar, “Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya; berikan sepuluh orang pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia ini.” Sungguh pernyataan yang sarat akan makna filosofis.

Kelakar beliau di atas mengindikasikan betapa hebatnya pemuda sebagai aktivis, sehingga Bung Karno hanya butuh sepuluh aktivis pemuda untuk mengguncang dunia yang begitu besar ini.

Saya dapat menangkap satu pesan dari kelakar Bung Karno tersebut, bahwa dalam diri pemuda, tersimpan potensi yang besar. Sehingga kekuatan seribu orang tua pun akan mampu terkalahkan oleh kekuatan sepuluh orang pemuda.

Hanya satu kata yang pasti keluar dari mulut saudara, bila saya bertanya tentang pemuda, yaitu pejuang.

Iya, memang, pemuda identik dengan kata pejuang dan perjuangan. Pada masa kolonialisme Belanda, pemuda menjadi ujung tombak gerakan perjuangan bangsa ini dalam melawan penjajah. Ia senantiasa menggelorakan perjuangan ke antero bangsa ini.

Berdirinya Budi Utomo menjadi awal sejarah kebangkitan pemuda. Bangsa Indonesia, khususnya pemuda, mulai bangkit dari keterpurukannya untuk melawan penjajah. Berdirinya Budi Utomo juga menjadi spirit lahirnya organisasi-organisasi kepemudaan lainnya, seperti Jong Ambon, Tri Koro Darmo, Jong Betawi Sekar Rukun, Jong Sumatranen Bond, dan Pemuda Timor.

Tidak henti-hentinya organisasi-organisasi kepemudaan ini terus mengumandangkan pentingnya persatuan seluruh anak bangsa, khususnya Perhimpunan Indonesia (PI). PI adalah organisasi yang mampu mempersatukan seluruh pemuda dari berbagai suku bangsa ini yang ada di Belanda. Sehingga bersatulah para pemuda tanpa sedikit pun memikirkan dari daerah mana mereka berasal.

Baca juga:

Kemudian, pada 15 November 1925, terlaksanalah Kongres Pemuda untuk membahas kepanitiaan yang harus mereka sepakati bersama. Sehingga pada 30 April 1926, organisasi kepemudaan tersebut melaksanakan Rapat Kongres I.

Dan kongres ini merumuskan dasar-dasar pemikiran bersama, yaitu: 1) Kemerdekaan Indonesia merupakan cita-cita bersama seluruh pemuda Indonesia; 2) Seluruh organisasi kepemudaan bertujuan untuk menggalang persatuan para pemuda.

Kemudian, pada 26 sampai 28 Oktober 1928, terlaksana Kongres Pemuda II. Akhirnya, pada kongres hari terakhir bertepatan dengan 28 Oktober 1928, lahirlah “Sumpah Pemuda” yang biasa kita peringati pada setiap 28 Oktober dengan beraneka ragam bentuk peringatan, dari pelaksanaan seminar hingga hiburan-hiburan.

Sangatlah pantas pemuda dulu bila kita sebut sebagai aktivis perjuangan. Karena memang tiada hari bagi mereka kecuali berjuang merebut kemerdekaan dari hegemoni penjajahan.

Kondisi semacam ini sangat bertolak belakang dengan kondisi pemuda kita hari ini. Sekarang, mereka lebih suka berselancar di media sosial daripada berjuang membebaskan rakyat kecil dari ketertindasan para penguasa yang sewenang-wenang.

Pemuda kita hari ini telah terjajah oleh kecanggihan media sosial yang menawarkan sejuta kenikmatan, tanpa mereka sadari bahwa dirinya sedang terjajah. Sehingga sering kali mereka lupa akan tanggung jawabnya sebagai corong perubahan bangsanya.

Hari ini, pemuda dan internet (media media) bak dua sisi mata uang, keduanya tak terpisahkan. Di mana ada media sosial, maka di situlah ada pemuda dan begitu juga sebaliknya. Media sosial menjadi tempat gagah-gagahan bagi para pemuda. Seakan ingin menunjukkan eksistensinya pada khalayak ramai bahwa ini adalah saya. Segala yang ada mereka publikasikan di media sosial, tanpa sedikit pun ada rasa sungkan menghampirinya.

Ironis memang ketika pemuda kita hanya menjadi aktivis media sosial. Seharian media sosial dia tongkrongi seakan tidak ada aktivitas lain yang lebih penting darinya.

Baca juga:

Akibatnya, pemuda kita lebih suka berburu HP baru daripada berburu buku-buku baru. Padahal buku adalah jantung peradaban. Peradaban suatu bangsa bukan berasal dari seberapa baru HP yang mereka punya, melainkan seberapa banyak buku yang mereka baca. Iya, harus kita akui, media sosial jauh lebih berpengaruh daripada buku.

Pemuda, segeralah sadar, bahwa kalian adalah corong perubahan bangsa ini, penentu akan suatu perubahan. Hanya di tangan kalianlah peradaban itu dapat terwujud. Kalian adalah generasi dan penerus tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini. Sebagaimana pepatah Arab, “syubbanul yaum rijalu ghad,” yang artinya pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok.

Ingat, daripada berlama-lama menatap media sosial, lebih baik berlama-lama menatap masa depanmu, masa depan lingkunganmu, juga masa depan bangsamu. Tapi semuanya terserah kalian, wahai para pemuda. Kalian hari ini adalah kalian di hari esok.

Selamat Hari Sumpah Pemuda!

    Naufal Madhure
    Latest posts by Naufal Madhure (see all)