Pemuda Harapan Bangsa

Pemuda Harapan Bangsa
Infografis Sumpah Pemuda. (Unay)

Peringatan hari Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober yang baru digelar beberapa hari ini, menandakan bahwa pemuda di bangsa ini masih diberikan waktu untuk merefleksikan diri untuk berpikir jernih dalam melihat kondisi hari ini yang penuh dengan pertentangan antarkelompok bangsa.

Sekaligus dengan peringatan Sumpah Pemuda itu, Pemuda sekarang diberikan tantangan untuk mampu memprediksi dan menjalani masa depan yang penuh dengan lingkaran ketidakpastian.

Sejatinya, peringatan Sumpah Pemuda pada konteks sekarang menuntut adanya penghayatan secara mendalam terkait memori kita terhadap berhasilnya pemuda zaman dulu dalam memperjuangkan kemerdekaan dengan mempersatukan seluruh kelompok pemuda setanah air yang menyatakan satu dalam bangsa, satu tanah air, dan satu dalam bahasa, yang walaupun tengah dijajah oleh bangsa Eropa.

Namun, momentum peringatan Sumpah Pemuda akhir-akhir ini terlihat tak hanya gagal dalam menyatukan pemuda setanah air, tapi telah berbentuk semacam rutinitas ritual yang pupus akan makna.

Pemuda hari ini terlihat terjebak oleh arus informasi yang penuh dengan ketidakpastian. Bangunan birokratisasi sekarang telah berhasil membungkam teriakan-teriakan dan nalar kritis para pemuda dalam menyaksikan sistem yang sarat dengan ketidakadilan.

Di samping itu, perkembangan informasi berikut kandungan ideologinya telah mampu mengelabui sistem berpikir para pemuda untuk menghantarkannya pada posisi berkhianat pada bangsa dan negara. Akibatnya, pemuda hari ini mudah saja dibawa arus dramatisasi pengelompokan identitas berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Pada gilirannya, gerakan pemuda yang ada pada hari ini pun tak mampu mempertahankan idealismenya terhadap bangsa. Yang terjadi justru gerakan-gerakan tersebut dikendalikan oleh para elite politik, pemodal besar, golongan para penguasa untuk mempertahankan kepentingannya masing-masing.

Kondisi itu diperparah lagi dengan munculnya gerakan-gerakan pemuda di setiap daerah yang haluannya justru menciptakan retakan sosial di masyarakat. Sebab yang ditonjolkan adalah unsur perbedaan, klaim kebenaran, yang muaranya mengarah pada sikap primordialisme.

Realitas yang seperti itu sesungguhnya sudah cukup mengkhawatirkan bagi keberlangsungan hidup kita di tanah air ini. Realitas ini sesungguhnya merupakan keadaan lebih buruk dibandingkan sejak masa awal dideklarasikannya Sumpah Pemuda dulu, bahwa masyarakat setanah air dulu sesungguhnya sudah bersatu dalam keragaman.

Dengan keadaan demikian, pemuda Indonesia sekarang sudah seharusnya mengaktualisasikan semangat Sumpah Pemuda dahulu untuk mereformasi bangunan jiwa pemuda sekarang yang notabene penuh sesak kepentingan.

Patut untuk diingatkan bahwa tugas pemuda Indonesia sekarang adalah menyatukan kembali kehidupan sosial yang belakangan ini begitu mengaga di permukaan, di mana perang antarkelompok, ujaran kebencian terhadap orang lain, telah begitu mudah terjadi dan leluasa melintas di permukaan publik di tanah air kita.

Tetapi, untuk melakukan itu semua, yang harus dibenahi terlebih dahulu adalah mental kebangsaan pemudanya. Mental kebangsaan ini harus mengacu pada uraian sumpah kebersatuan yang secara penuh kesadaran diucapkan oleh pemuda dahulu. Jika mental kebangsaan dan kebersatuan ini telah mendarah daging dalam jiwa dan kehidupan pemuda zaman sekarang, maka perubahan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat tentu akan tercapai dengan baik.

Selanjutnya, yang menjadi fokus adalah pemuda sekarang harus mampu menciptakan ruang pendidikan anak bangsa yang bisa mempertemukan komponen pemuda setanah air dalam rangka menyongsong dan menyiapkan diri menjadi generasi emas Indonesia di masa yang akan datang.

Semangat jiwa kepemudaan sejatinya, baik dahulu maupun sekarang, mampu menjadi lokomotif dalam meneriakkan kebebasan untuk mencapai masa depan yang cerah, maju, dan berperadaban. Tinggal bagaimana semangat kepemudaan ini dapat bersatu dalam keragaman dan bersatu dalam kebangsaan.

Akhirnya, kita harus ingat bahwa para pemuda zaman dahulu mampu berjuang itu karena selalu mengaktifkan serta mengaktualisasikan semangat jiwa kepemudaannya. Hingga slogan yang dimiliki adalah: Pemuda sejati adalah pemuda yang mempunyai jiwa kebangsaan.

*Rohman Harahap, Mahasiswa Manajemen dan Kebijakan Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

___________________

Artikel Terkait: