Pemuda NU, Siap Berjuang Tanpa Bayaran!

Pemuda NU, Siap Berjuang Tanpa Bayaran!
©NU Online

Maksiat orang yang hidup di Indonesia namun dirinya tak berjuang.

Begitulah pepatah yang dilambungkan oleh Kiai Zaini Muním, pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid. Seorang pejuang yang mendedikasikan perjuangannya dalam dunia keilmuan Islam. Pijakan beliau satu, karena kalau bukan untuk berjuang, akan diapakan hidup manusia?

Dari dawuhnya, beliau tidak lantas hanya berpaku untuk memotivasi orang lain, namun juga diawali dengan pergerakan diri yang beliau lakoni. Dahulu kala (masa penjajahan), ketika zaman tidak menuntut beliau untuk berkelut dalam dunia pendidikan, hanya bermaksud kabur dari penjajah, beliau tak sengaja didatangi seorang pelajar atau santri yang hendak mengaji pada beliau.

Namun, hal tersebut tak lantas beliau jadikan keluh dan kesah, akan tetapi menjadi berkah. Perjuangan yang beliau reka akan berakhir pada pertempuran dengan penjajah kala itu, malah berujung pada perjuangan dalam dunia pendidikan.

Dari serapan perjuangan di atas, tak adil rasanya hanya menafsiri dengan pemahaman yang sedikit yang nanti bakalnya akan menimbulkan pemahaman tabu dan sempit. Bahwa dicetuskan pula bahwa perjuangan yang beliau maksud adalah perjuangan lillah tanpa ada embel-embel pamrih.

Dengan kata lain dapat diartikan untuk hasil yang maksimal tidak cukup hanya berpaku pada bayaran, namun seyogianya ketiadaan dan keberadaannya tidak memengaruhi semangat juang kita.

Misal kecilnya saja (Nahdlatul Ulama) NU yang bergerak dalam lini sosio religi ini merupakan ormas yang mempertahankan warisan leluhur berupa keaslian sunah. Terbukti sudah menunjukkan taringnya dalam merebut kemerdekaan Indonesia dulu. Berperang senjata seadanya. Hal demikian sesuai dengan apa yang Nabi Muhammad lakoni dulu, ketika perang seadanya atau minim fasilitas tentu tanpa bayaran yang bisa digiurkan darinya.

NU dalam masa perjalanannya yang demikian, semakin berlarut zaman, maka bermacam-macam pula tantangan yang menimpa. Salah satu di antaranya zaman digitalisasi yang dibungkus dengan industri 4.0. Menuntut semua lini untuk mendigit-kan diri masing-masing.

Anggota NU yang bukan hanya bertakhta sebagai ormas terbesar di Indonesia namun terbesar di dunia. Secara otomatis dengan demikian ormas terbesar di dalamnya pula diraih oleh Indonesia. Maka, langkah terulung yang dapat dilakoni adalah membuat sadar anggota NU utamanya pada remaja NU.

Kemudian setelah anggota yang beribun itu insaf dan meyakini bahwa masyarakat NU harus berjuang untuk berperang dalam dunia digital ini, maka pembagian atau perataan bidang harus lebih digencarkan.

Masyarakat NU yang mayoritasnya adalah santri harus lebih bercabang dan bermacam titik fokusnya. Tidak hanya berkelut dalam kubangan kitab-kitab klasik, namun harus digencarkan pembaruan pengetahuan dalam bidang teknologi seperti fotografi, design grafis, videografi, dan lainnya.

Baca juga:

Tentunya semua itu tidak akan terlaksana dengan adanya dana pendukung yang mencukupi seluruh kebutuhan. Namun generasi muda-mudi sekarang bukan waktunya untuk berkeluh dan bermanja dengan receh kertasan itu, tetapi harus bermilitan.

Di lain hal tersebut, sarjana-sarjana NU harus lebih diarahkan berjuang untuk internal NU. Karena sangat banyak jumlahnya, sarjana yang tak berlahan kerja. Dengan cara ini, NU secara luas akan mendayung dua pulau sekaligus. Mengembangkan batang tubuh NU serta menghempas pengangguran.

Dengan demikian, tidak mustahil dengan wajah baru NU di atas, selain dalam dunia nyata tetap berorganisir dan di dunia maya tetap konsis dan eksis. Dengan tetap tidak mengkeruhkan memperparah dunia maya dengan hoaksnya. Maka harapan seabad akan menghijaukan dunia akan diraih. Bukan dalam hanya anggotanya, namun juga hijau ajarannya akan mendunia.

Muhammad Syahrul Hidayatullah
Latest posts by Muhammad Syahrul Hidayatullah (see all)