Pemuda Tak Usah Terburu-buru

Pemuda Tak Usah Terburu-buru
Ilustrasi: Jawa Pos

Luangkanlah waktu untuk semua hal. Semakin Anda terburu-buru, semakin Anda membuang-buang waktu. ~ Benjamin Franklin

Kutipan di atas bermaksud: jika sesuatu hal dilakukan dengan terburu-buru, maka hanya akan membuang-buang waktu. Kemungkinan besar akan sangat sinkron terhadap kaum pemuda hari ini, yang sudah sangat gatal untuk go parliament. Dengan dasar ingin menjadi agen perubahan, tetapi hanya karena persiapan yang belum matang, maka jadilah ia penonton yang baik.

Perlu diketahui, pada prinsipnya fungsi parlemen di zaman modern sekarang ini sangat berkaitan dengan (i) fungsi perwakilan.  Semata-mata untuk mewakili kepentingan rakyat yang berdaulat dengan cara duduk di lembaga rakyat. (ii) fungsi permusyawaratan bersama dan diliberasi. Sebagai pengambilan keputusanuntuk mencapai tujuan bersama untuk kepentingan masyarakat.

Kedua fungsi tersebut dijabarkan dalam tiga kegiatan pokok yang selama ini kita kenal dan biasa disebut sebagai fungsi parlemen: (a) fungsi legislasi, (b) fungsi pengawasan, dan (c) fungsi anggaran.

Data LSI menyebutkan, pada penghujung tahun 2015, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kaum-kaum parlemen (DPR) berada di titik terendah, yang hanya sebesar 34 persen. Dijelaskan juga bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap DPR saat ini adalah yang terendah dalam 10 tahun terakhir.

Rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap DPR tidak lain dikarenakan kinerja tidak sesuai dengan tingginya harapan masyarakat. Kasus-kasus korupsi yang melibatkan anggota parlemen. Lebih parahnya, banyak kaum-kaum parlemen yang tidak memahami dengan betul cara kerja dan proses di parlemen.

Dan tentu masih banyak permasalahan lain yang menyebabkan rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap parlemen. Dari beberapa permasalahan tersebut, dapat disimpulkan, jika yang mengisi kursi parlemen adalah kaum-kaum yang belum siap, maka akan menyebabkan kondisi parlemen menjadi sakit.

Dengan mengetahui tugas parlemen dan keadaannya, maka harus menjadi acuan kepada kaum pemuda untuk mulai berbenah diri sebagai kaum yang akan menggantikan penghuni parlemen nantinya. Dengan kata lain, sebelum pemuda menggantikan kaum tua, tentunya pemuda perlu mematangkan dirinya. Agar tidak kembali terulang kegagalan yang dilakukan para pendahulunya.

Peran pemuda dalam mengembalikan citra parlemen di mata masyarakat tidak selamanya harus dengan cara terjun langsung untuk menjadi kaum parlemen. Kaum pemuda juga bisa ambil peran dalam beberapa hal. Salah satunya, memberikan ide gagasan kepada parlemen dan belajar dengan baik untuk mematangkan intelektual, pengalaman, dan akhlak ketika nantinya telah siap untuk go parliament. Dan dengan ditunjang bekal itu, kemungkinan besar citra parlemen yang tadinya sakit akan menjadi pulih di mata masyarakat.

Akan tetapi, realitas pemuda hari ini akan sangat sulit mengaminkan hal tersebut. Dengan sampel dari salah satu mahasiswa Sulawesi Barat yang sedang dalam proses pencalonan diri menjadi anggota legislatif di ibu kota provinsi Sul-Bar, terpaksa harus ambil cuti dalam perkuliahan. Alasannya ingin fokus bagaimana mencari suara yang banyak, agar bisa mengantarnya duduk di bangku parlemen.

Tentu ini menjadi keprihatinan kita bersama. Bagaimana mungkin citra parlemen bisa pulih jika orang-orang yang berada di dalamnya adalah orang-orang bermasa bodoh? Bahkan dalam hal pendidikan pun ia acuh tak acuh.

Juga diberitakan di laman KOMPAS. Juru bicara KPK Febri Diansyah menyebutkan, sekitar 71 orang yang berada dalam rentang usia 30-40 tahun diproses hukum karena kasus korupsi. Ini jelas membuktikan, tidak selamanya pemuda dapat melakukan perubahan positif terhadap suatu bangsa.

Jika langkah yang ia ambil begitu tergesa-gesa tanpa menyiapkan dirinya terlebih dahulu, seperti tidak  memperdalam intelektual, pengalaman, dan moral atau akhlak, maka akan jadilah ia sebagai penjahat atau sampah parlemen.

Parlemen bukanlah tempat coba-coba. Di sana, nasib masyarakat dipertaruhkan. Jika niat untuk duduk di bangku parlemen hanya sebagai wadah eksistensi semata atau lebih parahnya sebagai tempat memperkaya diri, maka hal tersebut adalah sesuatu yang sangat kurang ajar. Karena di belakang para kaum parlemen, ada rakyat yang sedang menanti kerja nyata, agar kelak dapat membuahkan kesejahteraan untuk mereka.

Tetapi, jika hanya dianggap sebagai ajang coba-coba, sangat disarankan untuk tidak masuk ke ranah itu. Orang yang terjun haruslah orang-orang petarung dan mempunyai pandangan yang berwawasan ke depan dalam hal positif. Mesti bisa membawa aspirasi rakyat  untuk mewujudkan parlemen yang sehat.

Jika parlemen diisi oleh para pemuda yang belum siap, yang terburu-buru, sama artinya parlemen yang dulu, sekarang, dan yang akan datang. Tetap saja tidak akan mengalami perubahan dalam hal positif. Dengan kata lain, tidak mengalami kemajuan melainkan kemunduran.

Kata siap yang dimaksud dalam parlemen adalah siap dalam hal intelektual, tidak terburu-buru. Karena jika anggota parlemen tidak berintelektual, maka pastilah dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk masyarakat. Dengan kata lain, hanya sebagai penonton yang baik.

Selain intelektual, yang juga perlu dipertimbangkan adalah siap dalam hal pengalaman. Pengalaman yang matang akan sangat dibutuhkan angggota parlemen dalam menjalankan roda keparlementeran. Ketika menghadapi sebuah permasalahan yang ada, mereka pun akan dengan mudah menyelesaikannya.

Siap yang selanjutnya adalah siap dalam moral atau akhlak. Kebanyakan para kaum-kaum parlemen telah memiliki kedua dari kata siap tersebut, intelektual dan pengalaman, tetapi masih sangat banyak yang keluar dari koridor sebagaimana mestinya. Mereka masih melakukan korupsi dan hal-hal menyimpang lainnya yang membuat masyarakat semakin menderita. Itu dikarenakan intelektual dan pengalaman mereka tidak dibungkus oleh moral dan ahklak.

Sangat benar bahwa kaum pemuda adalah sebuah harapan bangsa. Mereka mampu merekonstruksi kembali sebuah kesalahan yang dilakukan oleh para kaum tua. Akan tetapi, dalam melakukan perubahan, tidak selamanya harus terjun dalam ranah parlemen. Bisa juga berkontribusi dalam hal ide gagasan. Atau giat belajar untuk menjadi bekal suatu saat nanti ketika akan menggantikan yang sekarang.

Tetapi, jika memang harus terjun secara langsung, pemuda tidak seharusnya terburu-buru. Segala sesuatunya perlu dipersiapkan. Karena tujuan untuk masuk ke ranah parlemen adalah semata-mata agar bermanfaat untuk masyarakat, bukan untuk menjadi sampah masyarakat.

Jika hanya mengandalkan modal kemauan, tidaklah cukup untuk jadi bermanfaat. Akan tetapi, perlu ditopang dengan ilmu pengetahuan dan dibungkus oleh moral dan akhlak. Dengan begitu, barulah peradaban buruk bisa dicerahkan oleh kaum pemuda sekaligus memulihkan kembali citra parlemen yang sedang sakit di mata masyarakat.

#LombaEsaiPolitik

*Muh. Afif Tarjih; akrab disapa Divo. Mahasiswa Program Studi Hospitality dan Ilmu Kepariwisataan Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarukmo Yogyakarta; asal Majene, Sulawesi Barat.

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Peserta Lomba (see all)