Penasaran

Penasaran
©My Poem

Barangkali kau masih penasaran
Benang kusut yang belum sempat terurai kiranya dapat kita hamparkan
Sebab di antara kerinduan dan keraguan, kau masih kunantikan
Mengingatmu bak meneguk mimpi, tak terhitung berapa mili tak cukup buatku hidrasi

Barangkali kau masih merindukan
Pagelaran yang usang ditinggal pemeran
Apa mungkin bisa lagi dilakonkan?
Sebab aku dan malam masih tabah mendekam: merawat semua yang hendak kusam
meski mengenangmu membuat sekujur jiwa lebam

Barangkali kau masih penasaran, nona
masih ada episode baru bernama kesempatan.

Mengapa kita saling menipu diri

Akan aku kisahkan kepadamu
Tentang penantian yang mendera waktu yang menelan malam dan sadarku

Kesepian telah melahap habis tubuhku tersisa tulang dan sepenggal bekasmu yang mendaging di jasadku, mengaliri getir peredaran rindu

Mengapa kita seolah tak pernah benar-benar saling memburu, sedang kau dan aku pun tahu kerinduan tiap malam bertamu: bertanya tentang temu?

Mengapa kita seolah tak saling peduli
Padahal tiap menjelang pagi hening menyelubungi pori-pori: menelurkan beraneka nyeri di hati

Mengapa kita saling menipu diri? padahal dalam hati tak ingin saling pergi.

Elegi rindu

Yang bertamu di kepalaku adalah doa panjangmu
Berkunjung di malam-malamku

Yang bernaung di jiwaku adalah sejuk harapmu
Lirih membisik kalbu, mendendangkan lagu tentang temu:
“Udara adalah cinta, malam adalah kerinduan,
Dan pagi adalah perjumpaan yang kita dambakan, kekasih.” 

Tapi

Aku ingin membuat puisi tentang banyak hal, ku jajaki segala bentuk penghayatan
Tapi ternyata engkau yang kurangkai dalam catatan

Aku hendak menulis sajak tentang semesta, ku amati beragam keindahan
Tapi entah laut atau gunung tempatku merenung, hanya namamu yang siang malam berdengung

Aku bertekad menyusun diksi tentang mimpi: tentang asa dan cita
Tapi lagi-lagi berlembar kertas dirimulah yang selalu ku bahas

Berjalan

Malam dan temaram
Menguji terang dalam kesunyian

Angin dan angan
Sepoi membelai jua menggoyahkan

Matahari, pagi, dan harapan
Menanti di penghujung jalan

Sudah sejauh mana kita berjalan?

Sebentar lagi pagi

Sebentar lagi pagi. Mentari tak sabar antri, kasihan bulan lelah semalaman sendiri
Biasanya menjelang pagi kenangan menjulang tinggi
Menyusun sepi menjadi ribuan diksi

Sebentar lagi pagi. Semua tentangmu berkokok di kepala ini
Membangunkan balita dalam diri
Biasanya aku kuat meronda sampai larut mimpi
Tapi kali ini kantuk tak kuat lagi menahan kopi
Sudahlah, gampang dilanjut nanti lagi.

Zidny Hidayat
Latest posts by Zidny Hidayat (see all)