Penceramah Penghibur

Penceramah Penghibur
Tabligh Akbar Ustaz Abdul Somad (UAS) di Pangkep, Sulawesi Selatan

Penceramah keagamaan, sebagian, layaknya berada pada sebuah pasar. Mereka tak spesifik dan murni bicara pada apa yang menjadi tuntutan dan kebutuhan mendasar umat.

“Kopi susu tipis” ini request peminum kopi yang menghindari rasa pahit dan cenderung mencintai susu. Jika dipersentasekan, kira-kira komposisinya: tiga puluh persen susu, tujuh puluh persen baru kopi.

Kepada kopi, mereka tak murni. Seperti suka, mereka memberi syarat. Saya minum kopi dengan syarat pakai susu. Saya suka kamu dengan syarat penuhi kaidah cantik, tampan, atau pelet-pelet Jepang lainnya.

Ini persis dengan beberapa orang yang merasa harus menegakkan sebuah nilai kegamaan setelah kedatangan seorang ustaz kondang. Padahal penerimaan mereka juga mensyaratkan banyak hal.

Ketertarikan mereka bukan pada konten “nilai” seorang pembicara, tapi pada bumbu lip sting yang bisa menghibur, bahkan mungkin subtansi itu sendiri.

Kegamangan niat dan semangat keagamaan ini bisa kita lihat pada parodi tayangan sahur-sahur saat bulan puasa tiba. Lawakan Sule Prikitiuw and the Genk terasa lebih menghibur dari ceramah serius seorang ahli tafsir terkemuka seperti Pak Quraish Shihab.

Penceramah keagamaan, sebagiannya, layaknya berada pada sebuah pasar. Mereka tak spesifik dan murni bicara pada apa yang menjadi tuntutan dan kebutuhan mendasar umat.

Domain mereka adalah apa yang paling laku dan digemari. Mengenai selaras dengan tuntutan dan lain sebagainya, itu urusan ke-sekian kalinya. Para penceramah itu biasanya sangat populer.

Demikian halnya pendengar. Mereka hanya berasyik ma’syuk dengan apa yang mereka senangi dan apa yang bisa menjadi penghibur. Penerimaan yang jamak terhadap ustad UAS, semata dalam kerangka bahwa ustad UAS ceramahnya menghibur. Jika pun pada konten ceramah yang bersifat nilai, tuntutan dsb layaknya kopi pada susu saja, pelengkap.

Lain halnya dengan peminum kopi murni, tanpa susu dan tanpa gula. Mereka bisa hidangkan dalam ragam penyajian. Ekspresso, V60, aeropresso, teko moka, atau bentuknya yang paling radikal adalah tubruk.

Takarannya pun lebih rumit, berapa gram dan derajat celcius airnya. Bahkan hingga ditanam di mana dan dengan cara bagaimana. Mereka murni. Meneguk kopi layaknya menelan kehidupan.

Nah, jenis peminum kopi ini, jika kita konversi ke semangat keagamaan, sesungguhnya mereka adalah anak-anak pesantren yang tumbuh besar dengan panu, kurap, dan rimbunan kitab-kitab keagamaan klasik.

Jika masyarakat umum, mereka adalah orang yang bahkan bisa mendengarkan drama Kumbara lewat radio atau siaran sepak bola. Mereka tak mencintai apa-apa selain “nilai” pada sebuah ajaran. Mereka bahkan bisa mengabaikan penyakit atau beban hidupnya sendiri demi mempelajari nilai-nilai luhurnya.

Jika pembelajar, mereka yang bisa mengabaikan dinding Facebook demi halaman per halaman sebuah buku. Berjam-jam depan YouTube tanpa lawakan bahkan dengan pena dan buku.

Jika Anda atau masyarakat sudah di titik peminum kopi hitam ini, jangankan dancer, adegan bokep yang berlangsung di hadapan mereka pun sama sekali tak ngaruh. Mungkin mereka menonton, tetapi jangankan terangsang, mereka bahkan jijik.

Saya sendiri merasa membuang-buang waktu ketika mendengar lawakan lucu dengan gaya ceramah. Mending Sule Prikitiuw, kan?*

Muhammad Ramli Sirajuddin
Muhammad Ramli Sirajuddin 2 Articles
Penggiat Pluralisme, Nasionalisme & Spiritualisme di Human Illumination