Pendidikan Karakter sebagai Penguat Budaya Bangsa

Pendidikan Karakter sebagai Penguat Budaya Bangsa
Ilustrasi: Beritatagar

Integrasi dan interkoneksi pendidikan karakter ke dalam kurikulum pendidikan di semua instansi pendidikan Indonesia adalah sebuah keniscayaan untuk dilakukan.

Andai Cyphron Seymour Coler, seorang pakar pendidikan berkebangsaan Amerika, saat ini masih hidup, barangkali ia akan terkejut. Ia akan heran melihat pengembangan dan pembangunan pendidikan di dunia, termasuk Indonesia.

Pasalnya, dewasa ini, fakta di lapangan memperlihatkan, pendidikan lebih banyak ditekankan sebagai proses transmisi pengetahuan (transmission of knowledge) ilmu eksakta. Nyaris tak ada kesan sebagai penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education).

Artinya, pembangunan pendidikan saat ini lebih banyak berorientasi pada pengembangan otak kiri (kognitif). Ia kurang menekankan peningkatan kapasitas otak kanan (afektif, empati, dan rasa).

Padahal, lebih dari satu abad yang lalu, Cyphron Seymour Coler menyatakan, kesuksesan pembangunan pendidikan dan upaya pembentukan generasi bangsa secara menyeluruh bergantung pada berhasil-tidaknya pembangunan pendidikan karakter. Itu diungkap melalui bukunya berjudul Character Building: A Book for Teachers, Parents and Young People (1899)

Di satu sisi, statemen Cyphron Seymour Coler itu menandakan bahwa pendidikan karakter menjadi penentu kualitas anak di masa dewasanya. Di sisi lain, statemen itu juga bisa dimaknai bahwa setinggi apa pun capaian hasil belajar dan prestasi belajar, sama sekali belum memberikan kepuasan. Bahkan cenderung memberikan dampak negatif jika pendidikan karakter masih lemah.

Dengan kata lain, sekalipun seseorang bisa diandalkan dari sisi intelektualitas, misalnya, ia belum tentu bisa memberikan kontribusi positif terhadap peradaban umat manusia jika sisi spiritualitas masih lemah. Orang pintar yang menguasai banyak pengetahuan acap kali memberikan masalah di tengah masyarakat jika moralnya terpuruk.

Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Thomas Lickona, seorang Psikolog perkembangan dan profesor pendidikan di State University of New York, dalam Educating For Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility (2009). Menurutnya, jika lembaga pendidikan gagal menanamkan pendidikan karakter, akan muncul ragam problem sosial meskipun pada saat yang sama ilmu pengetahuan tampak berkembang pesat.

Problem sosial tersebut bisa dilihat dari sepuluh gejala yang terjadi di tengah masyarakat. Pertama, maraknya kekerasan di kalangan pemuda yang sering kali mendatangkan korban jiwa. Kedua, penggunaan bahasa dan tutur kata yang jauh dari nilai-nilai kesopanan.

Ketiga, pengaruh egoisme yang kuat dalam diri manusia yang sering kali menimbulkan tindak kekerasan. Keempat, meningkatnya pelanggaran norma asusila, seperti penggunaan obat-obat terlarang, seks bebas, atau pun tawuran antarmassa.

Kelima, semakin lenyapnya pijakan moral baik dan buruk. Keenam, hilangnya loyalitas dan etos kerja, sehingga setiap pekerjaan dilakukan bukan berdasarkan pengabdian pada bangsa dan negara. Ketujuh, semakin rendahnya rasa hormat kepada para sesepuh yang telah berjasa pada masa-masa sebelumnya.

Kedelapan, tergusurnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara. Kesembilan, mewabahnya sikap tidak jujur dan culas. Kesepuluh, adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.

Jika itu terjadi, maka yang tampak di sekeliling kita ialah banyaknya orang cerdas dan bergelar pendidikan tinggi. Namun, tidak sedikit pula di antara mereka yang kerap menggunakan kecerdasannya untuk merugikan orang lain, bahkan merugikan bangsanya sendiri.

Sebutlah para koruptor, misalnya. Mereka yang terlibat tindak pidana korupsi bukanlah orang bodoh. Mereka adalah orang yang berpendidikan tinggi. Hanya saja, mereka tidak menjiwai pendidikan karakter, sehingga mudah melakukan hal-hal yang tidak terpuji.

Integrasi-Interkoneksi

Teori integrasi-interkoneksi pertama kali dicetuskan oleh Amin Abdullah, guru besar studi filsafat di UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dalam bukunya berjudul Islamic Studies di Perguruan Tinggi, Pendekatan Integratif Interkonektif (2006), Amin Abdullah menyatakan bahwa agama tidak bisa dipisahkan dari science. Agama harus diintegrasikan dan diinterkoneksikan dengan science. Sehingga, science akan mencerminkan nilai-nilai luhur agama. Agama pun tidak hanya menyentuh aspek vertikal, tetapi juga horizontal.

Berpijak pada teori tersebut, maka pendidikan karakter juga perlu diintegrasikan dan diinterkoneksikan ke dalam semua cabang ilmu pengetahuan dan pendidikan yang diajarkan di sekolah-sekolah. Integrasi dan interkoneksi pendidikan karakter ke dalam kurikulum pendidikan di semua instansi pendidikan Indonesia adalah sebuah keniscayaan untuk dilakukan.

Bahkan, hal tersebut harus dilakukan pada anak-anak usia dini. Karena usia dini merupakan masa emas perkembangan (golden age) yang keberhasilannya sangat menentukan kualitas anak di masa yang akan datang.

Integrasi dan interkoneksi pendidikan karakter ke dalam semua mata pelajaran juga perlu dilakukan. Pasalnya, pendidikan karakter tidak cukup hanya diberikan melalui pelajaran agama maupun moral.

Artinya, setiap orang (baca: peserta didik) harus benar-benar paham bahwa setiap mata pelajaran, apa pun itu, mengandung nilai-nilai moral, spiritual, etika, kejujuran, dan lain sebagainya. Jika ini dilakukan, maka pelaksanaan pendidikan karakter akan berjalan secara sistematis dan berkesinambungan. Karena mampu melibatkan aspek knowledge, feeling, loving, dan acting.

Lihat juga: Urgensi Pendidikan Politik

Mengacu pada ketentuan Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Hal itu dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri. Dan, menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan luhur ini tentu saja tidak akan tercapai jika pendidikan karakter gagal diterapkan di setiap lembaga pendidikan. Sebab pembentukan watak dan peradaban bangsa itu tidak akan pernah terwujud tanpa dilandasi dengan pendidikan karakter. Demikian pula budaya bangsa Indonesia yang bernilai luhur dan dikagumi oleh negara-negara di dunia yang juga tidak akan terwujud tanpa adanya penekanan pendidikan karakter.

Pasalnya, budaya adalah nilai, moral, norma dan keyakinan (belief), pikiran yang dianut oleh suatu masyarakat atau bangsa. Semuanya mendasari perilaku seseorang sebagai dirinya, anggota masyarakat, dan warga negara. Budaya mengarahkan tingkah laku seseorang mengenai sesuatu yang dianggap patut, layak, benar, dan bijak.

Selanjutnya, karakter adalah watak yang terbentuk dari nilai, moral, dan norma. Ini semua mendasari cara pandang, berpikir, sikap, dan cara bertindak seseorang serta yang membedakan dirinya dari orang lain.

Jati diri negara Indonesia terbangun dari wujud karakter seluruh warga negara. Jika karakter warga negara buruk, jati diri bangsa pun akan buruk. Budaya, demikian pun, akan jauh dari nilai-nilai keluhuran.

Oleh karena itu, karakter masyarakat akan berpengaruh terhadap jati diri dan budaya bangsa. Kita berharap, ke depan, pendidikan karakter akan semakin menguat. Sehingga generasi bangsa tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional dan spiritual. Semoga!

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Abdul Waid (see all)