Pendidikan Moral Anak Bangsa: Sekolah Bukan Lembaga Satu-Satunya

Pendidikan Moral Anak Bangsa: Sekolah Bukan Lembaga Satu-Satunya
©The Japan Times

Pendidikan merupakan aset terbesat bagi suatu bangsa mengingat pendidikan tidak hanya mengajarkan sebuah nilai pengetahuan melainkan mengajarkan karakter atau moral untuk manusia. Pendidikan moral selalu mengedepankan budi pekerti baik melibatkan aspek Pengetahuan (Cognitive), feeling (perasaan) dan tindakan (Action) sehingga karakter terdiri dari sikap, emosi, keyakinan, kebiasaan, dan kehendak. (Agustin, 2022)

Pendidikan moral bangsa di bangun tidak hanya peran sentral sekolah melainkan menjadi tanggung jawab semua elemen. Jika di kontekskan dalam pendidikan Islam bahwa Islam telah mengatur tentang adanya pendidikan moral bisa dilihat dari kisah luqman Dalam surah Lukman ayat 13- 19, ayat 13 di ajarkan agar senantiasa tidak melakukan kesyirikan atau menduakan tuhan dengan konsep menuhanan benda,harta, serta jabatan, ayat 14-15 menyeru untuk senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tua, ayat 16 Lukman berwasiat kepada anaknya agar beramal dengan baik karena semua perbuatan akan di balas dan di hitung oleh allah kelas di akhirat, ayat 17 luqman mengingatkan anaknya agar senantiasa sholat, melakukan yang maruf dan mencegah kepada yang mungkar, ayat 18 dan 19 menjabarkan tentang kita tidak boleh sombong serta memandang rendah orang lain selain itu Hendaklah berjalan secara wajar, tidak dibuat-buat dan kelihatan angkuh atau sombong, dan lemah lembut dalam berbicara, sehingga orang yang melihat dan mendengarnya merasa senang dan tenteram hatinya.

Konsep pendidikan Islam adalah mengatur bagaimana manusia membentuk hubungan tidak hanya dengan Tuhan akan tetapi secara jelas diperintahkan juga untuk senantiasa menjaga hubungan kita sesama manusia. Hubungan kita dengan Tuhan berkaitan dengan ketauhidan dan pengakuan tentang ke-Esaan Allah dan hubungan dengan sesama manusia mengandung konsep kemanusiaan yang berkaitan dengan amar ma’ruf nahi munkar dan bagaimana kita membangun sebuah hubungan sosial kemasyarakatan yang berasaskan nilai ekualitas dan menjunjung tinggi rasa kemanusiaan.(Rahman, 2015)

Realitas yang tejadi proses implementasi dalam mendidik moral anak tidak di realisasikan di kalangan pendidikan secara menyeluruh. Masih banyak guru dan orang tua belum mampu menjadi contoh serta tauladan dalam mendidik anak. Terlebih ada berita di tahun 2024 ini tentang guru dan orang tua lihat judul berita ini, “Orang Tua Telantarkan Anak” liputan 6, “Cabuli Mantan Murid hingga Hamil, Oknum Guru SMP di Pontianak Ditangkap”Kompas.com, Laporan Kasus Kekerasan Anak 2024 Paling Banyak Terjadi di Rumah Tangga, Metrotvnews.com  dan masih banyak berita yang miris tentang keluarga serta sekolah akhir akhir ini.

Tentu ini menjadi problem khusus dimana anak melihat, mengamati serta meniru apa yang telah di lakukan guru dan orang tuanya. Jika berkaca dalam sebuah hadist Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda, “Ajarilah, permudahlah, janganlah engkau persulit, berilah kabar gembira, jangan engkau beri ancaman. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah diam” (HR Ahmad dan Bukhari).

Kejadian terbaru di tahun ini 2024 masih ada saja tindakan Amoral yang di lakukan di kalangan pendidikan baca berita berikut “Trauma Mendalam Akibat Bullying” Lembaga pendidikan, yang seharusnya dipercaya para orang tua sebagai wadah untuk mendidik dan membimbing anak, malah menjadi tempat terciptanya trauma. Selain itu berita Siswa Difabel Dibully-Kelingking Patah Berawal dari Cekcok Sebut Nama Bapak” detik.com dari hal tersebut tentu perlu penanganan khusus dari sekolah dan orang tua agar tidak terjadi disfungsional terkadang jika ada yang melapor bukannya menyalahkan justru membela anak yang melakukan amoral tersebut.

Untuk mengatasi hal tersebut rasulullah juga memberikan konsep dalam mendidik anak diantaranya : Pertama, Memberikan contoh terbaik di depan anak. Kedua, Mencari Waktu yang Tepat untuk Memberi Pengarahan. Ketiga, Bersikap Adil dan Menyamakan Pemberian untuk Anak. keempat, Menunaikan Hak Anak. Kelima, doa kan yang terbaik jangan doakan keburukan buat anak. Keenam,berdialog langsung dengan baik jika ada masalah, Ketujuh Mendidik, mengingatkan serta memberikan kesempatan berkreativitas. (Herawati & Kamisah, 2019)

Hal ini sesuai dalam sebuah riset The Strategic Role of Parents in Optimizing Character Education in Early Childhood in the Family Environment, mengatakan bahwa  perlu  Mengoptimalkan Pendidikan Karakter pada Anak Usia Dini di Lingkungan dilakukan dengan menggunakan berbagai metode dianataranya : keteladanan, penyediaan waktu luang, nasihat, motivasi, pembiasaan dan hukuman.(Sujana et al., 2023)

Baca juga:

Opini Dr. Dede Rubai Misbahul Alam, M.Pd mengatakan bahwa Pendidikan dalam Keluarga, Penting! Untuk memecahkan permasalahan di atas maka kita harus kembali pada pendidikan. Tentunya, pendidikan bukan hanya tugas dari sekolah atau perguruan tinggi, tapi juga semua komponen masyarakat. Komponen yang pertama dan paling dekat dengan subjek didik adalah keluarga seperti telah dijelaskan di atas

Dari hal tersebut dapat di simpulkan untuk mewujudkan pendidikan moral anak bangsa maka perlu peran keluarga dalam membentuk anak-anak. Keluarga adalah lingkungan pertama di mana seorang anak berinteraksi dan belajar. Di sinilah anak-anak belajar nilai-nilai dasar, norma-norma sosial, dan keterampilan interpersonal awal. Orang tua atau wali memiliki tanggung jawab untuk memberikan bimbingan, dukungan, dan contoh yang baik bagi anak-anak mereka. Dengan interaksi yang konsisten dan penuh kasih, keluarga membentuk landasan yang kuat bagi perkembangan anak-anak.

Selaini itu libatkan anak dalam komunitas misalnya lingkungan tempat tinggal yang positif berkarya, masjid, gereja, atau klub olahraga, dapat menyediakan lingkungan yang mendukung untuk pembelajaran dan pertumbuhan anak-anak. Melalui partisipasi dalam kegiatan komunitas, anak-anak dapat belajar tentang kerja sama tim, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap orang lain. Interaksi dengan berbagai individu dari latar belakang yang berbeda juga dapat membantu memperluas pandangan dunia anak-anak.

Selain itu media dan teknologi juga memiliki dampak besar dalam mendidik anak-anak di era digital ini. Meskipun terdapat risiko seperti konten yang tidak pantas atau kecanduan media, media juga dapat menjadi sumber informasi dan pembelajaran yang berharga. Dengan pengawasan yang tepat, media dapat digunakan untuk menginspirasi, mengedukasi, dan memperluas wawasan anak-anak tentang dunia anak harus difasilitasi dengan lingkungan alam juga menjadi fasilitator pembelajaran yang penting bagi anak-anak.

Melalui eksplorasi alam, anak-anak dapat belajar tentang keanekaragaman hayati, siklus alam, dan kepedulian terhadap lingkungan. Koneksi dengan alam juga dapat meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental anak-anak, serta memupuk rasa keterhubungan dengan alam.

Apabila pemuda dan peserta didik sudah mempunyai nilai religius yang included dalam dirinya, maka secara otomatis akan terbiasa dengan disiplin dan akan terbiasa menyatukan pikir dan dzikir. Dengan demikian, selalu mendekatkan diri pada Allah secara istiqomah. Pada gilirannya, pembiasaan pendidikan Islam akan membentuk manusia yang berprestasi karena dengan istiqomah akan mampu menjadikan manusia yang cerdas, beriman berprestasi dan bermanfaat bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara.

Sekolah bukan hanya tempat belajar, namun sekolah tempat singgah untuk bisa berpikir dan berbudi luhur.

Daftar Pustaka
  • Agustin, A. A. (2022). Analysis of Character Education in the Family and School Environment of Website and Journal. … (Professional Journal of English Education), 5(1), 7–13. https://www.journal.ikipsiliwangi.ac.id/index.php/project/article/view/4476
  • Herawati, & Kamisah. (2019). Mendidik Anak Ala Rasulullah (Propethic Parenting). Journal of Education Science (JES), 5(1), 33–42.
  • Rahman, A. (2015). Peran Pendidikan Islam dalam Pembetukan Moral Bangsa. Al-Riwayah: Jurnal Kependidikan, 7(1), 45–59. http://ejournal.stain.sorong.ac.id/indeks.php/al-riwayah
  • Sujana, I. G., Semadi, A. A. G. P., Suarningsih, N. M., Retnaningrum, E., Widyatiningtyas, R., & Santika, I. G. N. (2023). The Strategic Role of Parents in Optimizing Character Education in Early Childhood in the Family Environment. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7(3), 3241–3252. https://doi.org/10.31004/obsesi.v7i3.4563
Syahrul Gunawan
Latest posts by Syahrul Gunawan (see all)