Pendidikan Politik dari Ahok

Pendidikan Politik dari Ahok
Rian & Ahok | detikNews

“Tugas seorang politikus adalah memberi pendidikan politik, bukan cuma mencari kekuasaan.” ~ Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)

Suatu hari di masa kampanye Pilkada DKI Jakarta 2012, Rian Ernest mendampingi Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bertemu warga. Seorang pengurus RW mendatangi Ahok dan meminta lingkungannya dibuatkan sebuah lapangan dengan imbalan suara warganya akan dialihkan ke pasangan Jokowi dan Ahok.

Permintaan ini ditolak. Ahok menyatakan bahwa itu tidak adil. Jika warga di satu lingkungan mendapatkan fasilitas lapangan karena memilihnya, bagaimana dengan lingkungan lain di mana warga tidak memilihnya? Kebijakan semacam itu tidak adil menurut Ahok.

Ahok justru menjanjikan transparansi. Semua daftar dana dan penggunaannya akan ditempel di kelurahan sehingga warga bisa melihatnya. Ahok menegaskan pada sang Ketua RW, itu tugas RW untuk mengawasi penggunaan dana kelurahan.

Sesampai di mobil, Rian mempertanyakan cara kampanye Ahok. “Pak, Bapak kan sedang kampanye mencari suara. Ngapain tawaran suara begitu ditolak mentah-mentah?”

Ahok menjawab, “Rian, tugas seorang politikus adalah memberi pendidikan politik, bukan cuma mencari kekuasaan.

Ahok melanjutkan, “Kalau lo kerja benar, pasti ada jalannya.”

Tindakan Ahok dalam memberi pendidikan politik secara langsung pada warga ini membekas sangat dalam pada diri Rian. Dua tahun bekerja bersama Ahok, Rian tidak menemukan perubahan sikap pada mantan gubernur ini.

Rian pun sadar, politikus yang baik, berintegritas, dan setia pada pengabdian bukan cuta-cita kosong. Dia (Ahok) pernah ada dan akan terus ada.