Pendidikan Sains untuk Negara IPTEK

Pendidikan Sains untuk Negara IPTEK
©Medium

Nalar Warga – Sebelum dilakukan perombakan pendidikan, mungkin harus diputuskan dulu, mau ke mana entar generasi berikut dibawa? Apakah terus menjadi konsumen sains dan teknologi, atau mau ikutan jadi produsen? Kalau mau ikutan, tidak bisa tidak, pendidikan sains dan matematika harus diutamakan.

Apa mau selamanya bergantung dari sumber alam? Ada seberapa banyak, sih, sumber alam sehingga bisa jadi tempat bergantung? Apa sebagian besar anak-anak mau dijadikan artis saja? Oh ya, mungkin bisa bikin industri entertainment besar seperti Korea, ya.

Terlalu banyak yang terpengaruh “teori-teori pendidikan” yang katanya berorientasi anak. Kalau itu dilakukan di negara-negara maju, sih, oke-oke saja. Negara, kan, sudah kaya? Jadi boleh berleha-leha. Ini negara masih dikategori ber-flower, tapi kok tidak mau kerja lebih keras bersaing supaya lebih maju?

Oh ya, harus memperhatikan potensi anak. Lha, sudah jelas. Tapi apakah selama ini potensi sudah diperhatikan? Sudah dibuat optimal? Lha, kalau sudah hasil pendidikan Indonesia, harusnya tidak di dasar bottom lembah kolam air mata di survei PISA.

Apakah memperhatikan potensi anak berarti anak harus dijaga sedemikian rupa sehingga terlindungi dari semua stres? Oke, sampai umur berapa anak-anak harus dilindungi dari stres? Sampai lulus SD? SMP? SMA? Atau sampai lulus universitas?

Stres itu bagian dari hidup. Harusnya belajar menikmati stres.

Memang tidak semua anak-anak berbakat di matematika. Tetapi apakah dengan ini harus mengurangi kurikulum dalam sains dan matematika di sekolah? Tanpa dikurangi saja, pendidikan matematika dan sains di Indonesia ternyata hasilnya rendah. Lalu mau dikurangi sampai tingkat apa? Entar semua jadi artis?

Sudah tentu bagus ada yang jadi artis. Mungkin Indonesia mau jadi negara seni saja? Kalau begitu, memang tidak perlu menargetkan jadi negara yang ikut berpartisipasi dalam IPTEK. Karena kalau mau IPTEK, mau tidak mau harus bersaing dengan negara-negara tetangga lain! Memang ada jalan lain?

Baca juga:

Saya tidak setuju dengan pendapat bahwa ada fenomena di Indonesia yang mendewakan matematika. Lha, kalau benar demikian, hasil matematika anak-anak didik di Indonesia hebat banget!

Cobalah lihat fakta. Cobalah melihat secara makro, bukan masalah, misalnya anak sendiri atau diri sendiri. Secara makro, untuk maju, Indonesia butuh untuk lebih bagus dalam bidang IPTEK. Siapa yang bisa sangkal hal ini?

Tapi bagaimana mau bisa sains dan IPTEK jika tidak mau memfokuskan pendidikan sains dan IPTEK?

Ini bukan untuk masing-masing pribadi lho. Untuk privat individu masing-masing, bagus taruh anak, misalnya, fokus di musik dan lain sebagainya. Tetapi untuk negara, untuk umumnya siswa, bukankah harus mempertinggi penguasaan teknologi dan sains? Bagaimana bisa menguasai kalau tidak mau mempelajari?

Mari pikir yang jernih dan masuk akal saja. Kalau mau bertekad memajukan negara dari segi IPTEK dan sains, mau tidak mau harus meningkatkan porsi pendidikan IPTEK dan sains. Kalau tidak, bagaimana caranya? Memang ada tablet obat penambah IPTEK dan sains, tinggal minum langsung ngerti?

Tetapi saya setuju pendidikan bergradasi. Jadi, yang suka IPS, ya ada jurusan IPS; Bahasa, ya Bahasa. Itu dilakukan secara rinci, opsional di pendidikan menengah. Dan jika targetnya negara mau ke penguasaan IPTEK, mau tidak mau harus memperbesar porsi penerimaan siswa dalam bidang ini.

Jika bingung, coba pikir begitu. Saat ini, tingkat penguasaan membaca, matematika, dan sains dari siswa, 15 tahun Indonesia anjlok sampai bawa banget dibanding negara-negara lain.

Jadi, bagaimana respons kebijakan untuk itu? Pilih: (1) diam saja, biarin saja; (2) melakukan perbaikan pendidikan di bidang tersebut; atau malah (3) kurangi lagi beban pendidikan di bidang-bidang yang anjlok tersebut, karena tidak seharusnya membebani anak-anak toh?

Kayaknya ternyata jawabannya bisa sangat bervariasi, ya. Yang pilih nomor 3 banyak?

Yang saya tidak setujui sebenarnya, membebani anak siswa dengan banyak benar pelajaran. Jusru pelajaran tidak perlu banyak-banyak. Cukup sedikit saja, yang penting-penting, seperti membaca, menulis, matematika, sains, tetapi fokus dan ditangani secara benar.

*Mentimoen