Pendukung Tepuk Sorak, Kalem Aja

Pendukung Tepuk Sorak, Kalem Aja
Presiden Jokowi melantik Idrus Marham, Moeldoko, Agum Gumelar, dan Yuyu Sutisna.

Kalau kita bukan politikus dan bukan pemain politik praktis, jangan terlalu heboh jadi pendukung atau anti-Jokowi. Nanti bakal kecele. Politik mah dibawa santai aja, buat lucu-lucuan aja.

Nalar WargaPelantikan Idrus Marham menjadi menteri sosial hari ini adalah pelajaran ke sembilan ratus sekian soal politik. Bahwa tidak ada musuh abadi dalam politik. Yang ada hanyalah kepentingan abadi para politikus.

Khususnya politik Indonesia, di mana partai dan politikus tidak punya ideologi. Di Amerika, misalnya, orang tak semudah itu pindah partai. Juga tak semudah itu gonta-ganti partner politik.

Setelah kalah dari Obama dalam konvensi Partai Demokrat, Hillary Clinton tidak otomatis menyeberang ke pihak lawan. Dia juga tidak menantang Obama untuk jadi calon presiden pada periode berikutnya. Dia berdiri di belakang Obama, sampai 2 periode masa jabatannya selesai. Barulah dia maju lagi.

Di Indonesia tidak begitu. Hari ini si A jadi pendukung si B, besoknya dia sudah bisa pindah jadi pendukung kubu C, yang merupakan lawan politik A. Hari ini C adalah lawan politik A, besok mereka bisa berkawan. Atau, di pusat mereka lawan, tapi di pilkada daerah tertentu mereka koalisi.

Politik Indonesia hanyalah sarana bagi orang-orang untuk berebut jabatan politik. Titik.

Maka, orang-orang yang tadinya berkampanye mendukung Jokowi, misalnya Anies Baswedan dan Sudirman Said, kini nyaris secara terang-terangan berada di posisi melawan Jokowi. Sebaliknya, Idrus Marham yang kini jadi menteri, adalah orang yang dulu berkampanye melawan Jokowi.

Tapi itu biasa dalam demokrasi, bukan? Entahlah. Apakah itu demokrasi, atau sekadar political game, saya tidak tahu.

Yang penting buat kita adalah, kalau kita bukan politikus dan bukan pemain politik praktis, jangan terlalu heboh jadi pendukung atau anti-Jokowi. Nanti bakal kecele. Politik mah dibawa santai aja, buat lucu-lucuan aja.

Yang penting bagi kita sebagai warga negara adalah kepentingan kita terlaksana. Fokusnya pada isu, gagasan, tindakan, dan policy. Ambil, dukung yang menguntungkan. Dukung gagasan dan kebijakan, bukan dukung politikus. Dukung per isu yang dibahas, bukan jadi pendukung abadi.

Tapi, untuk bisa begitu, memang diperlukan kemampuan nalar yang baik. Sederhananya, kalau Anda memposisikan diri sebagai pendukung fanatik seorang politikus, mungkin memang ada masalah dengan nalar politik Anda.

*Kang H Idea

___________________

Artikel Terkait:
Netizen NP
Pengguna media sosial | Warganet