Pengangguran Melonjak Akibat Pandemi, UU Cipta Kerja Akan Jadi Solusi

Pengangguran Melonjak Akibat Pandemi, UU Cipta Kerja Akan Jadi Solusi
©CITA

Nalar Politik – Akibat pandemi Covid-19, pengangguran di Indonesia melonjak drastis.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, jumlah pengangguran periode Agustus 2020 mengalami peningkatan 2,67 juta orang. Catatan BPS ini menunjukkan total Angkatan kerja di Indonesia yang kini menganggur adalah 9,77 juta orang.

Merespons peningkatan pengangguran akibat pandemi tersebut, Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo menyebut UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja bisa dan akan jadi solusi. UU Cipta Kerja ini menjadi salah satu upaya pemerintah menangani lonjakan pengangguran yang kian hebat.

“Menurut kami, UU Cipta Kerja dengan berbagai hal yang ditawarkan di dalamnya diharapkan jadi bantalan buat kita, yang akan memperkuat upaya-upaya pemerintah dalam menciptakan peningkatan lapangan kerja,” ujar Yustinus dalam acara Polemik Trijaya tentang Efek Resesi di Tengah Pandemi, Sabtu (7/11).

Selain itu, terdapat upaya pemerintah lainnya dalam merespons dampak buruk akibat pandemi ini. Di antaranya, menangani masalah kesehatan, menyiapkan perlindungan sosial, serta memberi dukungan kepada para pelaku UMKM.

Dalam hal perlindungan sosial, misalnya, pemerintah terus berupaya menggelontorkan bantuan sosial kepada 40 persen masyarakat yang rentan dan terdampak pandemi. Stimulus pada UMKM turut diberikan, salah satunya lewat bantuan langsung tunai senilai Rp2,4 juta.

“Untuk jaga daya beli supaya turun enggak terlalu dalam, maka diberikan bansos. Selain itu, untuk UMKM juga ada dukungan,” jelas Yustinus.

Berharap pada Kelas Menengah

Ia pun menilai, optimisme masyarakat kelas menengah terhadap pemulihan ekonomi nasional akan mendorong upaya penciptaan lapangan kerja ke depan. Harapannya agar konsumsi dari kelas ini bisa makin menggeliatkan perekonomian.

“Kuncinya memang ada di kelas menengah atas. Ketika PSBB dilonggarkan, maka ada aktivitas ekonomi, dan diharapkan memberikan dampak positif bagi upaya penciptaan lapangan kerja baru, karena mereka bisa berani konsumsi,” jelasnya kembali.

Walau begitu, Yustinus mengakui bahwa pemerintah saat ini memang kelabakan menghadapi pandemi. Ekonomi akibat pandemi ini sangat terpukul, baik di dalam negeri maupun secara global.

Hal itu tercermin dari kontraksi ekonomi yang mengecil pada kuartal III 2020, yakni minus 3,49 persen, dari kuartal sebelumnya minus 5,32 persen.

“Memang tidak terelakkan, dampak Covid-19 ini betul-betul memukul dunia usaha. Banyak orang kehilangan pekerjaan, sehingga tidak dimungkiri memang ada peningkatan jumlah pengangguran dan juga jumlah orang miskin,” pungkas Yustinus.