Pengaruh Ilmu Perbandingan Agama terhadap Keimanan

Pengaruh Ilmu Perbandingan Agama terhadap Keimanan
©Rafezza Fetheri

Pengaruh Ilmu Perbandingan Agama terhadap Keimanan

Di antara tujuan Allah Swt menciptakan manusia di muka bumi secara beragam, adalah agar terjadi interaksi untuk saling mengenal. Sebagaimana firman Allah Swt dalam surah Al-Hujarat ayat 13, “Dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal”.

Dari ayat tersebut, tentu saling kenal mengenal bukan hanya sebatas pada mengenal nama sebagaimana lazimnya kita berkenalan. Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman suku, ras, bahasa dan agama.

Setiap orang yang lahir di muka bumi pasti lahir dari dinamika, konteks, dan kultur yang berbeda-beda dengan pemahaman dan sifat yang berbeda-beda pula. Di sinilah pentingnya kita mengenal setiap orang dengan segala pemahaman dan keyakinannya secara utuh.

Indonesia yang kaya akan keanekaragaman ini tidak jarang bukannya menjadi kekayaan, melainkan justru menjadi pangkal dari segala bencana. Hal itu disebabkan perkenalan kita yang masih setengah-setengah tanpa mengetahui konteks dan kultur setiap orang.

Orang yang lahir dengan latar belakang berbeda seperti agama misalnya, kerapkali mengalami kekerasan, diskriminasi, dan ketidakadilan disebabkan tidak mau mengenal lebih jauh, namun langsung menghakiminya.

Oleh karena itu, diperlukan sebuah pemikiran dan sikap terbuka untuk bisa mengenal dan memahami keyakinan seseorang yang berbeda-beda. Ada banyak cara untuk bisa memahami dan mengenal satu sama lain, salah satunya melalui ilmu perbandingan agama.

Sejarah Singkat Ilmu Perbandingan Agama

Ilmu perbandingan agama sebenarnya sudah muncul sejak zaman Yunani Kuno dan Romawi Kuno. Di kalangan bangsa Yunani dan Romawi Kuno, rasa ketertarikan terhadap agama-agama yang bukan agamanya sendiri sudah dapat ditemukan melalui seorang tokoh bernama Herodotus (484-425 S.M).

Baca juga:

Adapun metode yang dipakai oleh Heredotus adalah metode deskriptif dan komparatif pemujaan di dalam agama non-Yunani. Dua metode inilah yang berkembang di dalam studi agama pada zaman Yunani Kuno.

Dua metode ini bekerja dengan dua mekanisme yakni, cara pertama adalah dengan melalui catatan-catatan perjalanan yang mencakup deskripsi pemujaan di dalam agama non-Yunani dan perbandingannya dengan praktek keagamaan Yunani.

Kedua dengan cara kritik filosofis terhadap agama tradisional. Karya tulis Herodotus meskipun bukan berupa data melainkan hanya sebuah catatan perjalanan. Namun ia telah memberikan sumbangan besar bagi studi agama dengan apa yang dikenal hari ini sebagai metode perbandingan (Bahaf, 2015).

Di Indonesia, ilmu perbandingan agama berkembang sangat erat kaitannya dengan berdirinya Institut Agama Islam Negeri (IAIN) pada tahun 1960. Setelah pendirian IAIN tersebut, satu tahun kemudian tepatnya tahun 1961 dibukalah jurusan ilmu perbandingan agama.

Dibukanya ilmu jurusan perbandingan agama dilatarbelakangi oleh suatu kenyataan bahwa keadaan ilmu agama, khususnya agama Islam di Indonesia saat itu masih sangat lemah. Oleh karena itu, untuk meningkatkan perkembangan ilmu agama itu salah satunya adalah dengan membuka kelas ilmu perbandingan agama.

Selain dilatarbelakangi oleh masih lemahnya kajian keagamaan di Indonesia saat itu, lahirnya ilmu perbandingan agama dihadirkan dengan dengan tujuan sebagaimana dikatakan oleh H. Mukti Ali adalah menjelaskan bahwa ilmu perbandingan agama adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang berusaha untuk memahami gejala-gejala keagamaan dari suatu kepercayaan dalam hubungannya dengan agama lain (Bahaf, 2015).

Selain itu, mempelajari ilmu perbandingan agama juga merupakan inspirasi dari kitab suci al-Qur’an. Sebagaimana yang disampaikan oleh Prof. Dr. Media Zainul Bahri (dosen prodi perbandingan agama) yang mengatakan bahwa al-Qur’an diyakini menjadi salah satu inspirasi awal berkembangnya studi perbandingan agama atau lazim disebut Muqaranat al-Adyan dalam bahasa kesarjanaan Islam.

Sejumlah surat dan ayat al-Qur’an memuat terminologi agama-agama manusia yang menuntut para pembacanya, umat Islam, mengkaji secara serius. Kajian demikian menjadi modal pentingnya dalam menghargai keanekaragaman keyakinan agama yang lazim ditemukan di tengah-tengah kita. Beberapa terminologi agama-agama yang disebutkan dalam al-Qur’an adalah seperti al-Yahud, al-Nashara, al-Majus, dan Ahl al-Kitab.

Halaman selanjutnya >>>
Dimas Sigit Cahyokusumo